Data Bertambah Jadi 567, Tapi Status KLB Keracunan Belum Diputuskan

- Jumlah santri yang dibawa ke rumah sakit akibat dugaan keracunan setelah menyantap MBG di Pesantren Mambaul Hikam mencapai 567 orang.
- Dinkes Jatim menyatakan status KLB belum diputuskan, meski terjadi peningkatan kasus gangguan pencernaan; pasien yang dirawat dilaporkan dalam kondisi stabil.
- Dinkes Sidoarjo mengaktifkan krisis kesehatan dengan tim puskesmas di lokasi serta kesiapan tenaga medis, obat, dan sarana pendukung di rumah sakit.
Sidoarjo, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo belum segera mengaktifkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) bagi kejadian keracunan makanan massal 567 orang usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pesantren Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Selasa (1/9/2026).
"Belum ada keputusan (Status KLB)," ujar Kepala Dinkes Jatim dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina dikonfirmasi IDN Times.
Lakhsmie mengatakan, berdasarkan skrining kondisi ratusan pasien sekarang ini, pada kasus ini ada peningkatan kasus gangguan pencernaan. Dia mengklaim para pasien sudah tertangani di beberapa rumah sakit.
"Yang pasti ada peningkatan kasus gangguan pencernaan. Kondisi yang dirawat stabil," katanya.
Dia menyebut gejala 567 santri korban keracunan cukup beragam. Rata-rata mereka mengalami gejala diare, nyeri perut, pusing, dan lemes. "Jumlahnya 567. Itu yang dibawa ke RS," katanya.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sidoarjo mengaktifkan krisis kesehatan untuk menangani kejadian keracunan massal yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo. Para santri diduga mengalami keracunan makanan setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Dinkes Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina menjelaskan, penanganan dibagi menjadi dua bagian. Tim kesehatan disiagakan di lokasi kejadian dengan koordinator lapangan dari puskesmas. Sementara itu, sejumlah rumah sakit diminta menyiapkan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung untuk menangani pasien.
"Karena ini kasusnya cukup massal, yang pertama kita aktifkan krisis kesehatan. Kemudian kita bagi dua, di lapangan kita buka lapangan dengan korlapnya dari Puskesmas. Kemudian untuk di rumah sakit-rumah sakit kita siagakan tenaga kesehatan yang cukup," ujar Laksmi.
















