Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Harga Beras Naik, 81 Ribu Warga Magetan Dapat Bantuan Sembako 3 Bulan Sekaligus

Kab. Magetan
Harga Beras Naik, 81 Ribu Warga Magetan Dapat Bantuan Sembako 3 Bulan Sekaligus
Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.
  • Harga beras lokal Magetan naik di tengah kemarau dan perhatian terhadap dampak El Nino, pemerintah menyalurkan bantuan beras tiga bulan sekaligus kepada 81.254 penerima.

  • Bulog mengalokasikan 2.437.620 kilogram beras untuk Juli–September 2026; hingga 1 September, 1.358.310 kilogram telah diterima 45.277 warga, dengan target penyaluran selesai 15–18 September.

  • Bulog menyebut stok sekitar 102 ribu ton aman hingga akhir tahun, sambil menyalurkan beras SPHP melalui toko dan ritel serta menggelar operasi pasar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times – Harga beras lokal di Kabupaten Magetan mulai merangkak naik di tengah kondisi kemarau yang berdampak pada sektor pertanian. Fenomena El Nino disebut menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi ketersediaan air dan produksi padi.

Di tengah kondisi tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada 81 ribu lebih warga Magetan. Bantuan ini diberikan sekaligus untuk tiga bulan, yakni alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Penyaluran salah satunya berlangsung di Desa Tulung, Kecamatan Kawedanan, Magetan. Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, turut memonitor penyaluran bantuan tersebut.

Menurut Budiwan, kondisi kenaikan harga beras lokal perlu diimbangi dengan intervensi pemerintah agar masyarakat tetap mendapatkan beras dengan harga terjangkau.

  1. Riyanto
    Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.

    Kenaikan harga beras lokal terjadi ketika masyarakat mulai menghadapi tekanan akibat kondisi kemarau. Produksi pertanian yang terganggu berpotensi memengaruhi pasokan beras di tingkat lokal. Dalam situasi tersebut, pemerintah melalui Bulog menyalurkan bantuan pangan untuk 81.254 penerima di Magetan. Total beras yang dialokasikan mencapai 2.437.620 kilogram atau sekitar 2.437 ton. Bantuan tersebut diberikan untuk tiga alokasi sekaligus, yakni Juli, Agustus, dan September.

    Budiwan mengatakan jumlah penerima tahun ini meningkat cukup signifikan dibandingkan tahun lalu. “Untuk Kabupaten Magetan sendiri tahun ini penerimanya 81.154. Jumlah ini meningkat dari tahun lalu yang sekitar 50 ribuan,” ujarnya, Rabu (2/9/2026).

    Hingga 1 September 2026, sebanyak 1.358.310 kilogram atau sekitar 1.358 ton telah disalurkan kepada 45.277 penerima. Bulog menargetkan seluruh bantuan dapat disalurkan sekitar 15-18 September 2026. Bantuan tersebut menjadi salah satu bantalan bagi masyarakat ketika harga beras lokal mulai naik. Dengan menerima beras secara langsung, kebutuhan konsumsi rumah tangga diharapkan tidak sepenuhnya bergantung pada pembelian beras di pasar.

    Riyanto
    Pimpinan Cabang Bulog Ponorogo, Budiwan Susanto, saat memantau penyaluran bantuan pangan. IDN Times/Riyanto.

    Budiwan mengatakan Bulog melihat kondisi stok beras masih mencukupi meski harga beras lokal mulai mengalami kenaikan. Saat ini, stok beras yang dikuasai Bulog disebut mencapai sekitar 102 ribu ton. Persediaan tersebut diperkirakan masih aman hingga akhir tahun dan berpotensi mencukupi sampai awal tahun depan.

    “Untuk stok beras, alhamdulillah hari ini ada sekitar 102 ribu ton. Kami perkirakan sampai akhir tahun masih aman,” katanya.

    Selain stok yang tersedia, Bulog juga terus melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani. Target penyerapan ditetapkan sebesar 79.200 ton. Namun realisasinya telah mencapai sekitar 80 ribu ton.

    Menurut Budiwan, kondisi tersebut membuat ketersediaan beras untuk kebutuhan masyarakat masih relatif aman meski terdapat tekanan pada harga beras lokal.

    Riyanto
    Warga desa Tulung Kecamatan Kawedanan mengambil bantuan pangan beras 30 Kg. IDN Times/Riyanto.

    Untuk meredam dampak kenaikan harga beras di tingkat konsumen, Bulog mengaku tidak hanya mengandalkan bantuan pangan. Beras SPHP juga digelontorkan melalui toko dan retail. Selain itu, operasi pasar dilakukan dalam beberapa hari terakhir. “Kami juga sudah menggelontorkan SPHP di toko-toko dan retail. Beberapa hari terakhir juga melakukan operasi pasar,” ungkap Budiwan.

    Intervensi tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan beras sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat ketika harga beras lokal mengalami kenaikan. Bagi penerima bantuan, beras yang diterima pun langsung digunakan untuk kebutuhan keluarga.

    Yunella Rikawati (28), warga penerima bantuan di Desa Tulung, mengatakan beras tersebut tidak dijual. Ia menggunakannya untuk konsumsi keluarga dan mencampurnya dengan beras lain. “Dimasak, tetapi sebagai campuran beras lain agar lebih enak dan tidak keras nasinya,” ujarnya. Sementara Sumarsih (45) mengaku bantuan tersebut sangat dibutuhkan karena dirinya tidak memiliki sawah. “Saya sangat membutuhkan karena tidak punya sawah,” ungkapnya.

    Di tengah harga beras lokal yang mulai naik, kombinasi bantuan pangan, stok Bulog, SPHP, dan operasi pasar tampaknya menjadi upaya pemerintah menjaga masyarakat agar tidak terlalu terbebani kenaikan harga. Terlebih, kondisi kemarau dan fenomena El Nino berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap produksi pangan di daerah.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More