Seompreng MBG, 592 Pasien

- Sebanyak 592 penerima Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo dilarikan ke fasilitas kesehatan setelah mengalami mual, sakit perut, muntah, dan diare usai menyantap menu pada 1 September 2026.
- Hingga Rabu malam, 79 pasien masih dirawat inap, 494 telah pulang, dan 19 observasi; RSUD R.T. Notopuro menangani jumlah terbanyak, yakni 380 pasien.
- Menu dari SPPG Kalitengah juga didistribusikan ke 19 lembaga pendidikan, dengan delapan lembaga melaporkan siswa terdampak; penyebabnya masih diuji Dinkes dan BPOM.
Sidoarjo, IDN Times - Nasi itu dibentuk seperti bunga. Sebagian lainnya menyerupai boneka. Potongan wortel menjadi pemanis. Di dalam kotak-kotak ompreng makan terdapat tumis buncis dan baby corn, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, serta sebuah apel Fuji.
Menu Makan Bergizi Gratis itu dibagikan sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa, 1 September 2026, kepada para santri Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo.
Para santri, yang sebagian besar pelajar SMP dan SMA, segera menyantapnya. Hari itu sekolah formal mereka masuk siang. Makan siang menjadi bekal sebelum pelajaran dimulai.
Beberapa santri merasakan ada yang ganjil. Buncis dalam tumisan terasa kecut. “Asem seperti basi,” begitu sebagian dari mereka menggambarkannya.
Tidak ada yang menduga keluhan itu akan berujung pada ratusan orang yang dibawa ke rumah sakit.
Sekitar dua jam kemudian, selepas salat Asar, sejumlah santri mulai mengeluhkan mual dan sakit perut. Sebagian tumbang di ruang kelas.
“Sekitar jam satu makan MBG. Kemudian setelah salat Asar, para santri mulai bertumbangan di kelas masing-masing,” kata Baqiyah, ibu salah satu santri, kepada IDN Times, Rabu, (2/9/2026).
Anak Baqiyah dibawa ke RS Siti Hajar, Sidoarjo, pada Selasa malam. Setelah mendapat perawatan, ia diperbolehkan pulang. Namun kondisinya belum sepenuhnya pulih.
“Masih mengalami diare, tapi tidak parah,” ujar Baqiyah.
Keluhan itu tidak datang serentak. Ada santri yang mulai merasakan gejala sekitar pukul 18.30. Ada yang baru mual pada malam hari. Sebagian lainnya muntah pada Rabu pagi.
Kepanikan meluas. Halaman pesantren dipenuhi ambulans meraung-raung. Instalasi Gawat Darurat (IGD) di delapan rumah sakit sibuk menerima hilir mudik ambulans berisi pasien.
Hingga Rabu malam (2/9/2026) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo telah mencatat sebanyak 592 korban keracunan MBG yang dilarikan ke delapan rumah sakit di wilayah Sidoarjo.
Kepala Dinkes Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, menyampaikan bahwa dari total 592 pasien tersebut, sebanyak 79 pasien masih menjalani rawat inap (MRS), 494 pasien telah keluar rumah sakit (KRS), sementara 19 pasien masih dalam tahap observasi.
Angka pasien terbanyak tercatat di RSUD R.T. Notopuro, yakni 380 pasien. Dari jumlah tersebut, 5 pasien masih menjalani rawat inap, 372 pasien telah keluar rumah sakit, dan 3 pasien masih dalam observasi.
Selanjutnya, RS Delta Surya merawat 30 pasien, dengan rincian 16 pasien rawat inap, 10 pasien sudah keluar, dan 4 pasien masih observasi. RS Siti Hajar tercatat menangani 94 pasien, terdiri dari 33 pasien rawat inap, 53 pasien telah keluar, dan 8 pasien masih observasi.
RS Pusura mencatat 20 pasien, dengan 9 pasien rawat inap, 8 pasien sudah keluar rumah sakit, dan 3 pasien observasi. RSU Aisyiyah St. Fatimah menangani 47 pasien, terdiri atas 9 pasien rawat inap dan 38 pasien keluar rumah sakit.
Di RS Pusdik Bhayangkara, terdapat 8 pasien, dengan 1 pasien MRS dan 7 pasien KRS. Kemudian, RS Arafah Anwar Medika mencatat 4 pasien, terdiri dari 3 pasien KRS dan 1 pasien observasi.
Adapun RS Anwar Medika menangani 6 pasien. Sebanyak 4 pasien masih menjalani rawat inap, sementara 2 pasien telah keluar rumah sakit, dengan rincian 1 pasien pulang atas permintaan sendiri (APS) dan 1 pasien keluar karena sembuh.
Di RS Assakinah Medika, terdapat 1 pasien dan sudah keluar. Sedangkan di Puskesmas Porong, terdapat 2 pasien yang masih menjalani rawat inap.
"Kami terus melakukan pemantauan terhadap kondisi pasien dan perkembangan pelayanan medis di sejumlah fasilitas kesehatan terkait," kata Lakhsmie kepada IDN Times.
Menu MBG yang membawa petaka itu berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, Sidoarjo. Selain menyuplai menu makanan untuk Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, SPPG itu juga mendistribusikan makanan kepada 19 sekolah lainnya di Kabupaten Sidoarjo.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak mengatakan, bahwa SPPG tersebut mengirim MBG untuk 19 lembaga pendidikan. Sehingga, ada sebanyak 19 lembaga pendidikan ikut terdampak.
"Sekali lagi, ada 19 lembaga yang terdampak. Kesamaannya mendapatkan penerima manfaat, mereka penerima manfaat dari SPPG Tanggulangin Kalitengah," terang dia.
Menu yang disajikan sama persis denganyang dikonsumsi para santri yang keracunan.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo mengatakan, setiap harinya SPPG itu telah mendistribusikan 2.800 porsi MBG. 1000 di antaranya untuk Pondok Pesantren Manbaul Hikam.
"2.800 porsi (untuk) sekolah dan pesantren. Di pesantren itu ada sekitar 1.000-an, sisanya di luar pesantren, di sekolah," jelasnya.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Sidoarjo dikonfirmasi IDN Times Rabu malam mengatakan, bahwa dari 19 lembaga yang disuplai SPPG Kalitengah, 8 lembaga diantaranya siswanya terdampak keracunan makanan.
Lembaga itu adalah Pesantren Manbaul Hikam, SDN Kalitengah 1, SDN Kalitengah 2, SMP Tribakti, SMP Muhammadiyah 8, SMA Tribakti, KB Mustabsuiroh, KB As Sakinah.
“Terkait datanya masih ditabulasi tim Dinkes,” katanya.
Sementara itu, penyebab keracunan menu MBG masih diselidiki. Sampel sudah dibawa tim Dinkes Kabupaten Sidoarjo ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya untuk diuji.
Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho juga sudah memberi keterangan kepada media. Dia mengklaim segala proses penyajian menu MBG pada Selasa (1/9/2026) itu sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP).
Dia mengaku persiapan bahan-bahan makanan dimulai pukul 00.00 WIB. Lalu dimasak jam 05.30. Sementara proses pengiriman dimulai pukul 11.00 WIB. Dia juga bilang sebelum makanan dibagikan kepada siswa, makanan terlebih dahulu dicicipi oleh guru. Setelah dirasa aman, barulah makanan dibagikan kepada siswa.
"Nah, setelah saya tanyai, katanya aman, enggak ada masalah makanan itu," terang dia.
Namun, semuanya akan dibuktikan secara ilmiah. Hasil uji sampel dan penyelidikan lapangan khsusnya pada rantai proses masak hingga penyajian telor orak-arik dan tumis buncis masih ditabulasi tim dari Dinkes dan BPOM.
















