Keracunan MBG, Emil : 431 Santri Dilarikan ke Rumah Sakit

- Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, dievakuasi ke rumah sakit setelah diduga keracunan makanan MBG dari dapur SPPG Kalitengah Tanggulangin.
- Pemprov Jatim membuka posko medis di pondok dan menyiagakan rumah sakit; pasien mendapat rehidrasi, obat, serta penanganan khusus bagi yang memiliki komorbid atau alergi.
- SPPG juga melayani 19 lembaga pendidikan lain sehingga pemerintah akan menelusuri korban tambahan; sejumlah pasien membaik dan pulang, sementara tidak ada korban meninggal.
Surabaya, IDN Times - Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak menyebut total korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) Sidoarjo yang dievakuasi ke rumah mencapai 413 orang. Ratusan korban ini keracunan usai makan dari makanan yang didistribusikan oleh dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin, Sidoarjo.
431 korban itu merupakan santri dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo. Sementara jumlah santri keseluruhan mencapai 10000 lebih.
"Sekitar 1000 ya. Yang dievakuasi ke rumah sakit 431. Ya, kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda," ujar Emil, Rabu (2/9/2026) dini hari.
Emil menyebut, selain dirawat di rumah sakit, sejumlah korban juga ditangani di Posko yang berada di pondok. Ia memastikan korban mendapat penanganan medis dengan baik.
"Bu Kadinkes sudah membuka posko sehingga justru di sana sudah ada tenaga medis paramedis yang bisa menangani santri-santri di Mamba'ul Hikam," ungkap dia.
Selain Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Emil menuturkan SPPG Kalianget juga melayani 19 lembaga pendidikan lainnya. Pihaknya pun akan menjemput bola apabila ada korban dari lembaga lain, maka akan dirujuk ke rumah sakit.
"Kita titip juga nanti kepada Pak Kadisdik, kalau ada yang absen besok nggak masuk, alasan sakit ataupun apa, kita akan jemput bola karena khawatirnya belum tertangani dengan optimal kalau pengobatan mandiri," ucapnya.
Emil memastikan bahwa seluruh pasien telah tertangani dengan baik. Proses penanganan oleh rumah sakit dilakukan dengan pemberian infus untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada korban.
"Jadi rehidrasi ini penting kemudian memberikan obat," ujarnya.
Di samping itu, pasien dengan penyakit komorbid dan alergi obat juga telah ditangani. Mereka mendapat penanganan khusus.
"Ada tadi yang alergi obat, itu juga sudah ada penanganan, jadi dimonitor. Jadi semua ini bukan ditangani seragam, tapi kekhususan terhadap kondisi masing-masing pasien juga ada," ungkap dia.
Emil menuturkan, beberapa di antara pasien sudah membaik. Mereka bahkan sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Tadi kita lihat ada veldbed yang sudah mulai dilipat karena sudah dipulangkan. Tapi rumah sakit tetap siaga. Bahkan tenaga-tenaga medis yang on call dipanggil semua, sehingga ini bisa tertangani," ungkap dia.
Ia memastikan bahwa sampai saat ini, tidak ada korban yang meninggal dunia. "Tidak ada meninggal seperti kabar yang beredar," ungkapnya.
















