Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pria di Surabaya Ngaku Jual Ginjal untuk Modal Usaha, Tapi Tertipu

Kota Surabaya
Pria di Surabaya Ngaku Jual Ginjal untuk Modal Usaha, Tapi Tertipu
Polemik pria Surabaya jual ginjal untuk usaha. (YouTube/@cakj1)
  • Fariz, warga Manyar, Surabaya, mengaku rugi Rp185 juta setelah modal bisnis peleburan emas yang berasal dari penjualan satu ginjalnya senilai Rp250 juta diduga disalahgunakan.
  • Fariz menyatakan operasi penjualan ginjal dilakukan di India dan uangnya diberikan kepada rekan bisnisnya, Andri Aghasi Alrianto, untuk membeli peralatan serta bahan peleburan emas.
  • Andri membantah berniat menipu dan mengaku akan mencicil utang; Wakil Wali Kota Surabaya Armuji meminta lurah memediasi serta mencocokkan mutasi rekening kedua pihak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Pria di Surabaya rela menjual ginjalnya Rp250 juta demi untuk modal usaha peleburan emas. Tetapi bukannya mendapat untung, pria tersebut malah tertipu.

Nasib malang ini dialami oleh Fariz Thaufeil Addausi warga Manyar, Surabaya. Pengakuan Fariz menjual ginjal demi modal usaha itu terungkap dalam konten media sosial Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji.

Fariz melapor ke Armuji bahwa dirinya telah tertipu oleh rekan bisnisnya bernama Andri Aghasi Alrianto. Armuji kemudian bertemu Fariz dan Andri. Dalam pertemuan tersebut, Fariz mengaku telah ditipu oleh Andri dengan modus investasi bisnis peleburan emas. Andri sendiri memiliki keahlian melebur emas dari barang-barang elektronik.

"Ditipu investasi peleburan emas, bodong. Total kerugian Rp185 juta," ujar Fariz di depan Armuji.

Fariz mengaku, awalnya mereka berdua hendak bisnis peleburan emas bersama. Modal berasal dari uang Fariz yang nantinya akan dibelikan alat-alat dan bahan untuk mesin peleburan emas. "Jadi (bisnisnya) pembelian alat elektronik, terus dilebur jadi emas, contohnya kayak handphone rongsokan," ungkap dia.

Di tengah-tengah percakapan, Fariz mengaku telah menjual salah satu bagian ginjalnya untuk modal usaha tersebut. Proses jual ginjal dan operasi dilakukan Fariz di India. "Kamu ngerti, aku oleh duwek sak munu akehe hasil ngedol ginjalku (saya dapat uang segitu banyak dari jual ginjal)," ungkap Fariz.

Satu sisi ginjal dijual Fariz kepada orang Surabaya. Saat itu ia mendapat uang Rp250 juta. "Totalnya Rp250 juta, saya kasih ke Andri sama motorku itu Rp185 juta," ungkap dia.

Sementara itu, Andri mengaku dirinya tak ada niat untuk menipu Fariz. Usaha peleburan emas atas permintaan Fariz.

"Mas, kan kamu bisa mengolah elektronik jadi emas, gimana kalau saya modalin kita usaha bareng," ujar Andri menirukan pembicaraan Fariz.

Andri sudah menjelaskan kepada Fariz tentang resiko usaha tersebut. Tetapi, Fariz tetap ingin melanjutkan rencana itu. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk usaha bareng. "Tapi sebelum itu, Saya menghubungi mas Fariz mau pinjam uang karena waktu itu saya lagi terpuruk. Beliaunya ngasih kesempatan kayak gitu (modal usaha peleburan emas)," terang dia.

Andri bukannya lari dari tanggungjawab. Ia berniat untuk mencicil uang yang diberikan Fariz. Tetapi, sebelum uang tersebut dicicil ditambah emas 1 gram, Fariz membawa masalah tersebut ke publik dengan mengunggahnya ke media sosial.

"Bukane kulo mboten bayar pak, kulo niku niate nyicil tapi piyambake niku kulo cicil Rp450 ribu terose kurang, bulan depane niku Rp950 ribu kurang. Kulo ditekan mawon sampai diviralkan (bukannya saya tidak mau bayar, saya itu niatnya tapi saya cicil Rp450 ribu terus kurang Rp950 ribu kurang, saya ditekan sampai diviralkan," ungkap dia.

Wakil Wali Kota Surabaya, Armuji pun menengahi. Ia meminta lurah memediasi Fariz dan Andri dengan mencocokan mutasi rekening pembayaran utang piutang masing-masing. "Minta tolong pak Lurah bantu keduanya dalam mencocokkan rekening mutasi, ada yang sama atau beda,” ujarnya.

Setelah mutasi dicocokkan kalau ada kekurangan hutang wajib langsung dilunasi. “Nanti setelah itu harus ada perjanjian tertulisnya untuk pembuktian tiap pembayaran hutang itu,” pungkasnya.

Sementara itu, IDN Times telah menghubungi Fariz untuk mengetahui duduk masalah yang dialaminya. Tetapi, istri Fariz, Rosita mengkonfirmasi Fariz belum bisa menerima wawancara dikarenakan sedang sakit. "Saya Rosita istrinya mas Fariz , kebetulan hp-nya saya bawa. Mohon maaf kak hari ini tidak bisa karena kondisi suami saya lagi sakit," ungkap dia. Fariz akan mendatangi rumah Aspiasi Wakil Wali Kota Surabaya pada Jumat, (4/9/2026).

    Share Article

    Curated For You

    Editorial Team

    Related Articles

    See More