Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Tabur Bunga dan Pernyataan Sikap Mengakhiri Aksi Mahasiswa di Grahadi

Kota Surabaya
Tabur Bunga dan Pernyataan Sikap Mengakhiri Aksi Mahasiswa di Grahadi
Aksi simbilik mahaiswa di depan Gedung Negera Grahadi, Senin (31/8/2026). (IDN Times/Khusnul Hasana)
  • Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya menggelar demonstrasi di depan Grahadi, merefleksikan kemerdekaan melalui orasi, puisi, teaterikal, dan tabur bunga simbolis.
  • Massa mendesak pemerintah memprioritaskan pemulihan bencana, anggaran penanggulangan, mitigasi, serta mengusut kematian Bambang Setiawan dan dugaan pengeroyokan yang melibatkan ormas.
  • Aliansi BEM se-Jawa Timur juga menuntut pengesahan RUU Perampasan Aset untuk pemberantasan korupsi; aksi berakhir damai dan Jalan Gubernur Suryo dibuka kembali pukul 17.15 WIB.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Aksi simbolik tabur bunga dan pernyataan sikap mengakhiri demonstrasi mahasiswa di Depan Gedung Negara Grahadi, Senin (31/8/2026). Aksi tersebut merupakan refleksi 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia Indonesia.

Pantauan IDN Times, ratusan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya dan sekitarnya ini mulai aksi sekitar pukul 15.00 WIB. Mereka menyampaikan aspirasi berbagai tuntutan, mulai dari mendesak negara agar fokus menangani pemulihan bencana alam, mengusut kematian penjual kaca bernama Bambang Setiawan hingga mendesak pengesahan Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perampasan Aset.

Selain orasi, massa mewarnai aksi dengan membaca puisi, hingga penampian teaterikal. Isinya adalah soal refleksi 81 tahun Indonesia merdeka. Ketika Agustus 2026 mempertemukan peringatan kemerdekaan dengan tragedi kemanusiaan, bencana, persoalan lingkungan, dan kembali jatuhnya korban jiwa, mahasiswa memandang bahwa momentum kemerdekaan harus dibaca secara lebih jujur.

Mereka juga meletakkan beberapa foto Prabowo dan Gibran di aspal jalan. Massa kemudian menaburi foto-foto tersebut dengan bunga tujuh rupa, bunga yang biasa digunakan untuk ziarah makam. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas serta penghormatan terhadap seluruh korban tragedi bencana.

Menurut massa aksi, tabur bunga juga menjadi pengingat bahwa setiap korban memiliki nama, keluarga, kehidupan, dan masa depan, sehingga tidak boleh ada tragedi yang hanya selesai sebagai angka dalam laporan atau sekadar menjadi perbincangan sesaat.

Mahasiswa kemudian mengakhiri aksi dengan membaca pernyataan sikap. Isi pernyataan sikap itu adalah sebagai berikut:

"80 tahun Indonesia merdeka, namun rakyat masih dihadapkan pada bencana, ketidakpastian, dan persoalan keadilan yang belum sepenuhnya terselesaikan.

Gempa bumi di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, serta berbagai bencana di daerah lain harus menjadi perhatian serius negara.

Kami mendesak pemerintah pusat memberikan perhatian khusus, dukungan anggaran penanggulangan bencana, percepatan pemulihan masyarakat terdampak, serta penguatan mitigasi dan kesiapsiagaan.

Hari ini juga menjadi refleksi atas satu tahun peristiwa Agustus 2025 yang menimbulkan korban jiwa, termasuk Afan Kurniawan, serta tragedi yang kembali terjadi pada Agustus 2026, salah satunya kematian Bambang Setiawan pada 27 Agustus 2026.

Kami mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas dugaan pengeroyokan yang melibatkan ormas.

Tindakan dan negara. Menangkap dan memproses pihak yang terbukti terlibat serta mengadili seadil-adilnya demi keadilan bagi korban dan keluarga. Atas dasar ini, aliansi BEM se-Jawa Timur menegaskan bahwa seluruh persoalan tersebut harus ditindaklanjuti melalui kebijakan penanganan dan penegakan hukum yang nyata. Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Hidup rakyat Indonesia!."

Tak lama, massa aki berbaju serba hitam ini pun membubarkan diri. Sekitar pukul 17.15 jalan Gubernur Suryo yang sempat ditutup dibuka kembali untuk pengendara.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair), Rizqi Senja Virawan yang merupakan bagian dari massa aksi mengatakan, tujuan aksi hari ini adalah merefleksikan kondisi bangsa Indonesia. Dimana, beberapa wilayah di tanah air mengalami bencana alam, tetapi negara dinilai belum memprioritaskan anggaran untuk penanganan bencana.

"Karena kalau misalnya kita lihat hari ini, pemerintah itu masih gencar-gencarnya itu menggelontorkan anggarannya untuk MBG (Makan Bergizi Gratis) dan KDMP (Koperasi Desa Merah Putih). Tetapi kalau misal kita lihat kondisi bangsa hari ini, ternyata bencana-bencana yang terjadi belum pulih," jelasnya.

Di samping itu, massa juga membawa tuntutan soal Rancangan Undang-undang (RUU) tentang Perampasan Aset. RUU tersebut diharapkan dapat menjadi senjata untuk memberantas korupsi di Indonesia. "Ketika misalnya hari ini kita melihat korupsi masih banyak sekali, masih merajalela, otomatis secara materiil, substansi dari undang-undang rancangan undang-undang perampasan aset itu memang diperlukan," ucap Senja.

Senja menyebut, aksi hari ini hanya sebagai pemantik saja. Ia berencana akan menggelar aksi kembali di kemudian hari. "Nanti ditunggu aja ya, karena masih akan ada banyak konsolidasi. (AksI di bulan September) Insyaallah," pungkas dia.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More