Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Profil Gus Kikin, Cicit Pendiri NU yang Kini Nakhodai PBNU

Kab. Jombang
Profil Gus Kikin, Cicit Pendiri NU yang Kini Nakhodai PBNU
Ketua PWNU Jawa Timur (Jatim) KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui musyawarah AHWA pada Muktamar ke-35 NU di Jombang.
  • Cicit pendiri NU KH Hasyim Asy’ari ini mengasuh Pesantren Tebuireng sejak 2020 dan sebelumnya memimpin PWNU Jawa Timur secara definitif untuk periode 2024-2029.
  • Dalam memimpin PBNU, Gus Kikin menyoroti pembenahan SDM, pengembangan ekonomi, kebersamaan, independensi dari politik praktis, inklusivitas, serta penguatan moral untuk mencegah korupsi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jombang, IDN Times - KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin kini berada di pucuk kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031 melalui musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).

Nama Gus Kikin bukan sosok baru dalam lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia tumbuh dari salah satu episentrum penting sejarah NU, Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, sekaligus berasal dari keluarga besar Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Dari garis ibunya, Gus Kikin merupakan keturunan KH Hasyim Asy’ari melalui Nyai Khoiriyah Hasyim dan KH Ma’shum Ali. Dengan demikian, ia merupakan cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

KH Ma’shum Ali sendiri dikenal sebagai ulama ahli falak sekaligus pengarang kitab Amtsilah Tashrifiyyah, kitab yang hingga kini banyak dipelajari di lingkungan pesantren.

Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah Ma’shum. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang menjadikan tradisi pesantren, keilmuan, dan khidmah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Namun, perjalanan Gus Kikin di NU tidak berhenti pada faktor nasab. Pengabdiannya tumbuh bersama tanggung jawab yang dijalankan di lingkungan pesantren dan organisasi.

Nama Gus Kikin sangat lekat dengan Pondok Pesantren Tebuireng. Pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy’ari tersebut memiliki posisi penting dalam sejarah NU dan menjadi tempat lahirnya banyak ulama serta tokoh nasional.

Di antara tokoh yang pernah tumbuh dalam lingkungan Tebuireng adalah KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, KH Yusuf Hasyim, hingga KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah.

Setelah Gus Sholah wafat pada 2020, amanah kepengasuhan Tebuireng berlanjut kepada Gus Kikin. Tanggung jawab tersebut bukan sekadar mengelola lembaga pendidikan, tetapi juga menjaga kesinambungan tradisi keilmuan dan marwah salah satu pesantren paling berpengaruh dalam sejarah NU.

Dari Tebuireng, kiprah Gus Kikin kemudian bergerak ke panggung organisasi. Pada Januari 2024, PBNU menunjuk Gus Kikin sebagai Pejabat Ketua PWNU Jawa Timur. Beberapa bulan kemudian, melalui Konferwil XVIII, ia terpilih secara definitif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024-2029.

Jawa Timur merupakan salah satu basis terbesar Nahdlatul Ulama. Dengan jaringan pesantren, PWNU, PCNU, lembaga pendidikan, dan komunitas Nahdliyin yang luas, memimpin NU Jawa Timur menjadi pengalaman penting sebelum Gus Kikin dipercaya mengemban amanah di tingkat nasional.

Dalam menjalankan organisasi, Gus Kikin dikenal dengan pendekatan yang relatif tenang. Ia cenderung mengedepankan konsolidasi dan kebersamaan dibandingkan mempertajam perbedaan.

Ketika pertama kali mendapat amanah sebagai Pj Ketua PWNU Jawa Timur, Gus Kikin bahkan meresponsnya dengan kalimat sederhana, "Kita mengalir saja."

Kini, setelah dipercaya menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menghadapi medan pengabdian yang jauh lebih luas. Ia harus membawa organisasi dengan jaringan besar tersebut menghadapi persoalan internal sekaligus tantangan masyarakat yang terus berubah. Dalam wawancara setelah ditetapkan sebagai Ketua Umum PBNU, Gus Kikin menyebut pembenahan sumber daya manusia menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus diperkuat.

Menurutnya, arah tersebut telah memiliki pijakan dalam Qanun Asasi NU. Penguatan SDM juga perlu berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi warga dan organisasi. "Itu permasalahan ada di pembenahan SDM. Itu ada di buku Qanun Asasi. Nah, ini nanti kita pertimbangkan semuanya supaya semua itu nanti bisa berjalan bagus. Jadi SDM-nya bagus, dan kemudian yang lain-lain, ekonomi juga gitu. Kita optimalkan sebagaimana ekonomi kita tatanan di NU ini," ujar Gus Kikin.

Ia menegaskan NU bukan milik kelompok atau golongan tertentu. Karena itu, kebersamaan menjadi salah satu fondasi yang ingin ia jaga dalam kepemimpinannya. "Dan Nahdlatul Ulama kita harus bersama-sama. Ini Nahdlatul Ulama milik bersama," katanya.

Isu relasi NU dengan politik juga menjadi salah satu tantangan kepemimpinan PBNU ke depan. Gus Kikin menegaskan organisasi harus memiliki pijakan yang jelas agar tidak mudah menjadi kendaraan kepentingan politik praktis. "Ya kita tegaskan bahwa kita itu punya track, kita itu punya kompas. Kita itu punya manhaj. Nah, itu ada di buku itu, jadi manhaj itulah yang harus kita jalankan," tegasnya.

Ia juga membuka ruang bagi seluruh elemen untuk bersama-sama membangun NU. Menurutnya, semangat inklusif dan kebersamaan telah menjadi bagian dari fondasi awal organisasi.

"Itu ada di buku Qanun Asasi. Jadi buku di situ itu nampak bahwa NU itu didirikan tuh sangat-sangat inklusif, terbuka. Nah, itu tempat nanti ada persyaratannya bagaimana masuk ke dalam NU. Nah, di situ itu ya kita harus bersatu, kemudian ya ada kebersamaan. Itu inti daripada NU," terangnya.

Persoalan pemberantasan korupsi juga menjadi perhatian Gus Kikin. Ia memandang pencegahan korupsi tidak hanya berkaitan dengan sistem pengawasan, tetapi juga pembentukan moral.

"Ya korupsi kan berangkat dari moral. Moral-nya enggak bagus, ya korupsi. Nah, kita dari NU itu dari sisi agama kita perbaiki moral, ya mudah-mudahan lebih takut kepada Allah," katanya.

Terpilihnya Gus Kikin menempatkan sosok yang tumbuh dari tradisi Tebuireng dan memiliki pengalaman memimpin NU Jawa Timur di panggung kepemimpinan nasional.

Ia membawa warisan keilmuan keluarga Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pengalaman panjang di lingkungan pesantren, serta rekam jejak organisasi yang kini menjadi modal untuk menakhodai PBNU.

Lima tahun ke depan akan menjadi fase penting bagi Gus Kikin. Tantangannya bukan hanya menjaga kesinambungan tradisi yang diwariskan para muassis, tetapi juga memastikan NU mampu menjawab kebutuhan warga Nahdliyin di tengah perubahan sosial, ekonomi, teknologi, dan politik.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More