Malang, IDN Times - Sudah 13 hari berlalu sejak kasus penyerangan bus pemain Persik Kediri usai pertandingan antara Arema FC melawan Persik di Stadion Kanjuruhan pada Minggu (11/5/2025). Namun, hingga saat ini belum ada satupun tersangka yang berhasil diamankan.
Arema FC Minta Kepolisian Segera Tangkap Pelaku Penyerangan Bus Persik

1. Manajemen Arema FC minta pihak kepolisian segera mengamankan pelaku
General Manager Arema FC, Yusrinal Fitriandi mengaku masih menunggu progres pihak kepolisian terkait kasus penyerangan bus pemain Persik Kediri. Ia berharap polisi bergerak lebih cepat dengan mengamankan para pelaku yang telah melempari bus dengan batu tersebut. "Kita terus mendorong pihak kepolisian untuk menangkap pelakunya. Karena ini sudah hampir 2 minggu, tapi siapa pelakunya belum ketemu," terangnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (24/5/2025).
Yusrinal mengungkapkan kalau sejauh ini, pihak kepolisian baru memberikan update bahwa sudah 15 saksi yang diperiksa. Selanjutnya, belum ada perkembangan lagi terkait kasus ini.
2. Yusrinal mengaku penasaran dengan siapa pelaku penyerangan ini
Secara pribadi, pria berkacamata ini mengaku memang penasaran dengan siapa sosok pelaku yang menyerang bus lawan saat Arema FC baru menjalani laga perdana di Stadion Kanjuruhan setelah hampir 3 tahun jadi tim musafir. Ia juga yakin tidak hanya dirinya yang penasaran, tapi warga Malang Raya, Aremania, dan masyarakat Indonesia juga penasaran dengan siapa pelakunya.
"Saya yakin Aremania dan masyarakat juga penasaran dengan pelakunya, dan apa sebenarnya motifnya. Kita menunggu pihak kepolisian segera mengungkap kasus ini," tegasnya.
Penyerangan ini tidak hanya membuat bus yang ditumpangi pemain Persik Kediri rusak, tapi juga membuat pelatih Divaldo Alves mengalami luka di kepala. Kasus ini juga telah dilaporkan ke Satreskrim Polres Malang.
3. Arema FC jengah selalu jadi pihak yang disalahkan
Lebih lanjut, Yusrinal menyampaikan jika Arema FC jadi pihak yang paling disudutkan dalam kasus ini. Padahal kejadian penyerangan ada di ring 4 atau di luar Stadion Kanjuruhan yang seharusnya jadi lokasi yang diamankan pihak kepolisian.
"Manajemen selalu jadi bahan cercaan, seolah pelaku utamanya pelemparan bus, entah itu oknum atau seseorang atau kelompok yang merasa bahwa perilakunya tidak salah. Sekali lagi kejadiannya terjadi di area zona 4 diluar kawasan stadion dan jauh dari kewenangan Panpel," pungkasnya.