Mayat Perempuan 50 Tahun Tergeletak di Bawah Flyover Aloha Sidoarjo

- Seorang perempuan berusia 50 tahun berinisial LS ditemukan meninggal di bawah flyover Aloha Sidoarjo oleh pasangan suami istri pengendara motor pada Minggu, 24 Mei 2025.
- Polisi tidak menemukan tanda kekerasan pada tubuh korban saat olah TKP, dan jenazah langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Saksi menyebut LS sempat terlihat mondar-mandir sambil berteriak seperti orang depresi, sementara keluarga mengonfirmasi riwayat perawatan gangguan depresi dan menolak dilakukan autopsi.
Sidoarjo, IDN Times - Mayat perempuan 50 tahun ditemukan tergeletak di bawah flyover Aloha, Sidoarjo. Diketahui, mayat tersebut berinsial LS warga Waru, Sidoarjo.
Kasi Humas Poresta Sidoarjo, AKP Tri Novi Handono mengatakan, mayat LS ditemukan pada Minggu (24/5/2025) oleh seorang sepasang suami istri pengendara sepeda motor. Saat itu, sepasang suami istri itu melihat seseorang sedang tergeletak di dekat rel.
Kemudian, keduanya menyampaikan kepada sukarelawan pengatur lalu lintas (supertas) bernama MM. MM lalu mengecek kondisi perempuan yang tergeletak itu. "Bahwasanya benar ada perempuan yang tergeletak di tepi jalan. Maksud dari saksi 1 (MM) membangunkan korban namun tidak ada respon," ungkap dia.
Ketiga orang tersebut kemudian melaporkan hal ini ke polisi. Tak lama polisi datang untuk melakukan olah TKP.
"Dalam olah TKP tidak dalam olah TKP tapi tidak ditemukan luka dalam tubuh korban. Kemudian korban dibawa ke rumah sakit terdekat," jelasnya.
Novi menyampaikan, keterangan saksi lainnya, sebelum ditemukan tewas saksi melihat korban berjalan mondar mandir di sekitar TKP. LS berjalan sambil teriak-teriak seperti orang depresi. "Kemudian dari keterangan saksi 3 EW (kakak kandung korban) bahasanya memang menjelaskan membenarkan bahasanya adik kandung atau korban tersebut keluar rumah tanpa izin orang tua. Sekira pukul 08.30 WIB," ungkap dia.
Pengakuan EW, kakaknya itu pernah pernah diagnosa atau melakukan perawatan dengan sakit depresi di rumah sakit Waru tahun 2024. Korban juga pernah berobat juga di rumah sakit Polda pada tahun 2025. "Dan kemudian dari pihak keluarga tidak bersedia untuk dilakukan autopsi mayat," pungkas dia.

















