Bawang Merah di Magetan Ambyar Diserang Hama Ulat dan Gurem

- Serangan ulat dan gurem merusak puluhan hektare bawang merah di lima desa Kecamatan Plaosan, Magetan, hingga tanaman mengering, membusuk, dan mati sebelum panen.
- Petani Suwarno menyebut hama muncul saat tanaman berusia sekitar satu bulan; penyemprotan berbagai pestisida belum menghentikan serangan, sehingga sekitar 30 persen tanamannya gagal dipanen.
- Kerugian petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Pemerintah desa telah berkoordinasi dengan PPL dan dinas pertanian, tetapi pengendalian hama masih belum maksimal.
Magetan, IDN Times – Harapan para petani bawang merah di Kabupaten Magetan untuk menikmati manisnya hasil melimpah pada musim kemarau tahun ini pupus. Tanaman bawang merah mereka mengering dan mati akibat serangan hama ulat dan gurem yang menyerang secara masif di Kecamatan Plaosan.
Serangan hama tersebut merusak puluhan hektare lahan bawang merah di lima desa, yakni Sidomukti, Buluharjo, Bulugunung, Sumberagung, dan Plaosan. Akibatnya, kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
1. Tanaman mengering sebelum masa panen

Hama menyerang daun dan batang bawang merah saat tanaman memasuki fase pertumbuhan. Akibatnya, tanaman tidak berkembang normal, layu, membusuk, hingga kering dan mati sebelum waktunya dipanen.
Desa Sidomukti menjadi salah satu wilayah dengan dampak paling parah. Hamparan bawang merah yang sebelumnya hijau kini berubah kecokelatan karena tidak mampu bertahan dari serangan hama.
2. Disemprot pestisida hama tidak mati

Salah satu petani bawang merah, Suwarno, mengatakan serangan mulai muncul ketika tanaman berusia sekitar satu bulan. Berbagai jenis pestisida sudah digunakan, namun hasilnya belum mampu menghentikan penyebaran hama.
"Awalnya tanaman bagus, tapi setelah umur sekitar satu bulan mulai mengering dan membusuk. Sudah kami semprot berkali-kali dengan berbagai jenis obat, tetapi hamanya tetap ada," kata Suwarno, Jumat (7/8/2026).
Akibat serangan tersebut, sekitar 30 persen tanaman di lahannya gagal dipanen. Padahal biaya produksi yang dikeluarkan untuk benih, pupuk, dan obat-obatan sudah cukup besar.
"Kami hanya bisa pasrah. Biaya tanam sudah keluar banyak, tetapi hasil panennya jauh berkurang," ujarnya.
3. Petani berharap pemerintah menemukan solusi

Perangkat Desa Sidomukti, Purnomo, mengakua, jika pemerintah desa telah berkoordinasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan dinas terkait untuk melakukan pendampingan kepada petani. Namun hingga kini, serangan hama belum bisa dikendalikan secara maksimal.
"Sebenarnya kami sudah berkoordinasi dengan PPL dan dinas pertanian. Pendampingan sudah dilakukan, tetapi sampai sekarang serangan hama sulit diatasi secara maksimal," ungkapnya.
Menurut Purnomo, gagal panen yang terjadi di lima desa membuat kerugian petani diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Ia berharap ada langkah penanganan yang lebih efektif agar serangan hama tidak kembali mengancam musim tanam berikutnya.
"Kami berharap ada penanganan yang lebih efektif dari pemerintah, sehingga petani tidak terus mengalami kerugian dan bisa kembali menanam dengan tenang," pungkasnya.



















