Kasus ISPA di Surabaya Naik 10-15 Persen

Kasus ISPA dan flu di Surabaya meningkat sekitar 10-15 persen pada September dibanding periode Januari-Agustus, namun masih dinilai dalam batas wajar.
Pemkot Surabaya menyiagakan rumah sakit, koordinasi dengan pihak berwenang, dan tenaga medis; Dinkes menegaskan ruang inap tidak penuh akibat Influenza A.
Warga diimbau menjaga imun, memakai masker saat berisiko, mempertimbangkan vaksin influenza, serta beristirahat dan memeriksakan diri ke Puskesmas bila gejala berlanjut.
Surabaya, IDN Times - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Surabaya meningkat hingga 10-15 persen. Meski demikian, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak panik karena gejala Influenza A umumnya menyerupai flu biasa dan mayoritas pasien hanya memerlukan rawat jalan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memastikan seluruh fasilitas kesehatan (faskes) dalam kondisi siap siaga menghadapi potensi peningkatan kasus penyakit, termasuk Influenza A.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa dirinya telah menginstruksikan seluruh rumah sakit milik Pemkot Surabaya untuk memperkuat koordinasi dengan pihak-pihak berwenang serta menyiapkan tenaga medis. Langkah antisipasi ini dilakukan untuk memastikan faskes siap melayani warga
"Kemarin sudah kita sampaikan bahwa seluruh rumah sakit harus berkoordinasi dengan pihak berwenang. Yang kedua, siapkan tenaga medisnya agar mampu menghadapi segala situasi" tegas Eri, Rabu (23/9/2026).
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Messakh, menyampaikan bahwa fasilitas kesehatan di Surabaya pada dasarnya selalu siap melayani penanganan berbagai jenis penyakit. Menanggapi isu kapasitas rumah sakit yang sempat dikabarkan penuh, dr. Billy meluruskan bahwa keterisian ruang rawat inap bukan disebabkan oleh lonjakan pasien Influenza A.
"Influenza A ini gejalanya memang menyerupai flu biasa dan fatality rendah, tidak menyebabkan kematian. Tidak ada ruang rawat inap yang penuh akibat Influenza A, baik di RSUD dr. Mohammad Soewandhie maupun RSUD Eka Candrarini (RS EC). Pasien lebih banyak berobat di rawat jalan atau Puskesmas," terang dr. Billy.
Ia membeberkan bahwa peningkatan kasus ISPA dan flu memang mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 15 persen dari periode Januari - Agustus menuju September. Namun, penambahan tersebut masih dalam batas wajar dan penanganannya tidak sampai membutuhkan perawatan intensif berskala besar seperti masa pandemi COVID-19.
"Treatment-nya sama seperti flu biasa, terapi biasa pasien sudah bisa sembuh. Kita tidak sampai memisahkan spesifikasi strain secara berlebihan seperti Covid-19 karena gejalanya bisa pulih dengan perawatan standar," lanjutnya.
Untuk mencegah penularan serta menjaga daya tahan tubuh di tengah pergantian musim, Dinkes Kota Surabaya membagikan sejumlah langkah pencegahan bagi masyarakat, antara lain tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh isu atau rumor yang memicu kecemasan berlebih.
“Jaga daya tahan tubuh dengan melakukan istirahat yang cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, dan mengonsumsi asupan vitamin (seperti vitamin C),” kata dr Billy.
dr Billy juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan masker, terutama saat berada di kerumunan, tempat tertutup, atau ketika merasa kurang sehat untuk mencegah penularan. “Sebagai langkah pencegahan tambahan bisa juga melakukan vaksin influenza di faskes terdekat,” imbuhnya.
Ia mengimbau warga yang mengalami gejala ISPA seperti batuk, bersin, demam, dan lemas untuk segera beristirahat serta memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat apabila gejala berlanjut. “Kalau memang ada gejala, jangan panik segera periksa ke Puskesmas,” tandasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)







![[OPINI] Mengelola Transformasi Energi untuk Masa Depan Industri Indonesia](https://image.idntimes.com/post/20260925/whatsapp-image-2026-09-25-at-08_8c7958be-b612-4dfc-becb-1026e0c1377d.jpeg)












