Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sarjana Menganggur Tembus 1,03 Juta, Pendidikan Entrepreneurship Bisa jadi Solusi

Kota Surabaya
4 min read
Sarjana Menganggur Tembus 1,03 Juta, Pendidikan Entrepreneurship Bisa jadi Solusi
Kampus Universitas Ciputra (UC) Surabaya tampak depan. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • BPS mencatat 1,03 juta pengangguran bergelar Diploma IV hingga S3 pada Mei 2026, setara 14,31 persen dari 7,22 juta pengangguran nasional.

  • Universitas Ciputra membekali mahasiswa lintas jurusan dengan entrepreneurship, mendorong usaha berlegalitas dan berpotensi menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

  • UC memperkuat kesiapan kerja melalui magang, jejaring Grup Ciputra, proyek industri, dan pendampingan alumni; survei 2025 mencatat tiga dari lima lulusan memilih entrepreneurship.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Surabaya, IDN Times - Fenomena pengangguran terdidik menjadi tantangan yang ikut disorot Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Kampus yang selama dua dekade mengembangkan pendidikan entrepreneurship itu kini mendorong mahasiswa tidak hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja.

Diketahui, Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran bergelar sarjana (Diploma IV hingga S3) di Indonesia mencapai 1,03 juta orang per Mei 2026. Angka tersebut mencakup sekitar 14,31 persen dari total 7,22 juta orang pengangguran nasional.

Board of Executive Director Yayasan Ciputra Pendidikan, Prof Denny Bernardus mengatakan, persoalan pengangguran terdidik menjadi perhatian karena gelar akademik tidak selalu otomatis menjamin lulusan terserap dunia kerja.

Sehingga, pendidikan entrepreneurship di UC dirancang lintas jurusan. Mahasiswa tidak hanya belajar sesuai bidang keilmuan masing-masing, tetapi juga dibekali kemampuan membangun usaha sejak masih kuliah.

“Dari sejak awal UC itu menekankan, seperti tadi Pak Ciputra keinginannya, itu untuk creating jobs,” ujarnya saat konferensi pers 2 dekade UC, Rabu (23/9/2026).

Menurut dia, melalui model pembelajaran kolaboratif dan multidisiplin, mahasiswa didorong memiliki usaha kecil bersama kelompok belajarnya. Usaha tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai tugas perkuliahan, tetapi dapat dikembangkan menjadi bisnis yang lebih serius setelah mahasiswa lulus.

UC kini mendorong usaha mahasiswa agar memiliki fondasi bisnis yang lebih kuat. Misalnya, usaha mulai memiliki legalitas dalam bentuk CV atau PT serta rekening usaha yang jelas.

“Penciptaan justru creating employability. Kecil-kecil usaha mereka, tetapi mudah-mudahan mereka ini bisa membantu rekan-rekan lain yang untuk kebutuhan kerja,” katanya.

Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi UC menghadapi perubahan kebutuhan dunia kerja. Kampus tidak hanya ingin lulusan mampu memperoleh pekerjaan, tetapi juga memiliki kemampuan yang membuat mereka tetap relevan dan memiliki peluang menciptakan pekerjaan bagi orang lain.

Denny mengatakan penguatan tersebut juga dilakukan melalui program SHARE yang salah satu komponennya adalah entrepreneurship dan employability. Aspek employability diperkuat melalui pengalaman kerja nyata, salah satunya internship atau magang.

Ia menilai, pengalaman magang tidak semestinya hanya menjadi formalitas untuk memenuhi kewajiban akademik. Magang harus menjadi pintu masuk mahasiswa mengenal dunia kerja sekaligus membuka peluang direkrut sebelum menyelesaikan studi.

“Get hired before graduation,” katanya.

Untuk memperkuat kesempatan tersebut, UC memanfaatkan jejaring bisnis Grup Ciputra sebagai salah satu jaringan tempat mahasiswa mendapatkan pengalaman magang. “Justru magang itu penting sekali untuk pintu gerbang dia,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Ciputra, Prof Wirawan E.D. Radianto mengatakan, kampus juga berupaya membangun hubungan yang lebih dekat antara pembelajaran akademik dan kebutuhan industri.

Ia menambahkan, UC menghadirkan pelaku industri hingga CEO ke dalam lingkungan pembelajaran. Kurikulum juga diarahkan agar mahasiswa tidak hanya mendapatkan teori, tetapi terbiasa mengerjakan proyek yang berkaitan dengan persoalan nyata.

“Kami tetap percaya kami memberikan pendidikan yang terbaik, berkualitas. Itu memastikan tidak hanya keilmuan mereka, tetapi karakter mereka,” kata Wirawan.

Ia menyebut pendekatan berbasis proyek juga diterapkan dalam tugas akhir mahasiswa. Dalam proses tersebut, mahasiswa mendapatkan pendampingan dosen untuk mengembangkan gagasan dan meningkatkan kinerja proyek yang dikerjakan.

Pendekatan tersebut, lanjut Wirawan, juga membuat hubungan kampus dengan alumni tetap berjalan setelah mereka lulus. Sejumlah alumni bahkan kembali ke UC untuk berkonsultasi dengan dosen ketika menghadapi persoalan dalam pengembangan bisnis maupun pekerjaan mereka.

Dari sisi serapan lulusan, Wirawan menyebut survei terakhir UC pada 2025 menunjukkan tiga dari lima lulusan memilih jalur entrepreneurship. Sementara dua lainnya melanjutkan studi atau masuk jalur profesional.

“Hasil dari survei terakhir itu tiga dari lima lulusan kita itu entrepreneur. Itu yang menarik di situ, dari tahun 2025,” ucapnya.

Namun, Wirawan mengatakan tidak semua lulusan langsung memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Sebagian memilih melanjutkan studi sehingga memiliki jeda sebelum memasuki dunia kerja.

Ia menyebut kondisi tersebut lebih tepat dilihat sebagai masa tunggu, bukan semata-mata pengangguran. Kampus berupaya membantu lulusan menentukan jalur yang sesuai dengan rencana pengembangan dirinya, termasuk ketika memilih melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

“Kita arahkan supaya mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi dirinya versi yang terbaik,” pungkasnya.

    Share Article
    Editorial Team

    Related Articles

    See More