Harga Ayam di Magetan Tembus Rp35 Ribu Perkilo, Telur Malah Anjlok

- Harga ayam pedaging di Pasar Sayur Magetan naik dari sekitar Rp28 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram, didorong musim hajatan dan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis.
- Harga telur di tingkat kandang turun ke Rp20-21 ribu per kilogram setelah permintaan melemah; daya beli rendah membuat stok menumpuk di kandang dan lapak pedagang.
- Kenaikan harga ayam menekan usaha kuliner; pemilik warung memilih mempertahankan harga menu dan porsi, sehingga margin keuntungan berkurang demi menjaga pelanggan.
Magetan, IDN Times – Harga dua komoditas pangan utama di Kabupaten Magetan bergerak berlawanan. Jika harga daging ayam terus merangkak naik hingga menyentuh Rp35 ribu per kilogram, harga telur justru mengalami penurunan dan kini berada di kisaran Rp20-21 ribu per kilogram di tingkat kandang. Kondisi ini membawa dampak berbeda bagi peternak, pedagang, hingga pelaku usaha kuliner.
Pedagang di Pasar Sayur Magetan menyebut kenaikan harga ayam dipengaruhi meningkatnya permintaan pada awal Agustus. Selain banyaknya hajatan warga, kebutuhan pasokan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga membuat permintaan ayam meningkat. Sebaliknya, telur justru sulit terserap pasar karena daya beli masyarakat dinilai menurun.
1. Harga ayam naik karena musim hajatan dan kebutuhan MBG

Harga ayam pedaging di Pasar Sayur Magetan kini mencapai Rp35 ribu per kilogram, naik sekitar Rp7 ribu dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih berada di kisaran Rp28 ribu per kilogram.
Sunarti, pedagang ayam di Pasar Sayur Magetan, mengatakan kenaikan tersebut dipicu meningkatnya permintaan masyarakat. Memasuki bulan Agustus, banyak warga menggelar hajatan, sementara dapur penyedia makanan untuk program MBG juga membutuhkan pasokan ayam dalam jumlah besar.
"Kalau terus di harga Rp28 ribu, peternak bisa rugi. Harga Rp35 ribu ini sebenarnya sudah standar supaya peternak tetap mendapatkan keuntungan," ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Menurutnya, kondisi seperti sekarang justru menjadi momentum yang baik bagi peternak ayam pedaging. Permintaan tinggi membuat penjualan lebih cepat meski harga sedang naik.
Sunarti mengaku ketika harga ayam terlalu murah, pedagang memang bisa mengambil margin lebih besar. Namun kondisi itu tidak selalu menguntungkan karena peternak justru mengalami kerugian. Sebaliknya, saat harga stabil di angka Rp35 ribu, rantai usaha dinilai lebih sehat meski keuntungan pedagang tidak sebesar biasanya.
"Kalau harga ayam mahal justru jualnya lebih enak karena banyak yang cari. Yang penting dagangan cepat habis," katanya.
2. Harga telur turun karena pembeli sepi, stok mulai menumpuk

Bebeda dengan ayam, harga telur justru terus mengalami penurunan. Saat ini harga di tingkat kandang hanya sekitar Rp20-21 ribu per kilogram.
Pedagang telur Ook Cahyadi mengatakan harga sempat membaik saat program MBG kembali berjalan setelah libur sekolah. Kala itu harga telur di tingkat kandang sempat mencapai Rp23 ribu per kilogram dan dijual sekitar Rp25 ribu per kilogram di pasar.
Namun kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Dalam beberapa pekan terakhir, harga kembali turun karena permintaan masyarakat melemah.
"Awal MBG buka sempat Rp23 ribu dari kandang. Sekarang tinggal Rp20 ribu. Itu pun susah laku, satu peti telur bisa dua hari belum habis," keluhnya.
Menurut Ook, penurunan daya beli masyarakat menjadi penyebab utama lesunya penjualan telur. Akibatnya, stok telur menumpuk baik di kandang peternak maupun di lapak pedagang pasar.
Ia menambahkan kondisi tersebut juga dirasakan pedagang kebutuhan pokok lainnya. Masyarakat dinilai lebih selektif dalam berbelanja sehingga perputaran barang menjadi lebih lambat dibanding biasanya.
3. Warung makan memilih bertahan, keuntungan ikut menyusut

Kenaikan harga ayam tidak hanya dirasakan pedagang, tetapi juga pelaku usaha kuliner. Suprihatin, pemilik warung makan di Magetan, mengaku biaya belanja bahan baku meningkat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir.
Meski demikian, ia memilih tidak menaikkan harga menu makanan karena khawatir pelanggan akan berkurang. Menurutnya, mempertahankan pelanggan jauh lebih penting dibanding menaikkan harga dalam waktu singkat.
"Pastinya keuntungan berkurang karena belanja naik. Kami tidak berani menaikkan harga, nanti pelanggan kecewa dan kapok makan di warung," ujarnya.
Ia mengaku jumlah pembelian ayam untuk kebutuhan warung tidak dikurangi agar kualitas dan porsi makanan tetap terjaga. Konsekuensinya, margin keuntungan harus dipangkas demi mempertahankan pelanggan.
Kondisi harga ayam yang naik dan harga telur yang justru turun menunjukkan dinamika pasar yang berbeda pada dua komoditas unggas tersebut. Di satu sisi, peternak ayam mulai menikmati harga yang lebih menguntungkan berkat tingginya permintaan. Namun di sisi lain, peternak dan pedagang telur masih harus menghadapi lesunya daya beli masyarakat yang membuat stok terus menumpuk dan harga sulit kembali naik.


















