2.000 Sumur Bor Dibangun, Jatim Tambah 1.800 Hadapi Godzilla El Nino

- Pemprov Jawa Timur membangun lebih dari 2.000 sumur bor dan menambah 1.800 lagi hingga 2026 untuk menghadapi ancaman kemarau panjang akibat fenomena Godzilla El Nino.
- Langkah antisipasi juga mencakup optimalisasi waduk, embung, dan bendungan di berbagai daerah serta percepatan masa tanam agar petani tidak terdampak puncak kekeringan Agustus 2026.
- Pemerintah menyiapkan strategi tambahan seperti penggunaan varietas tahan kering, metode hemat air, penguatan distribusi air, dan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan.
Surabaya, IDN Times - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) menyiapkan langkah masif menghadapi ancaman kemarau panjang 2026 yang dipicu fenomena iklim kering, termasuk yang kerap disebut sebagai “Godzilla El Nino”. Salah satu strategi utama adalah memperbanyak pembangunan sumur bor di berbagai wilayah rawan kekeringan.
Wakil Gubernur Jatim, Emil Elestianto Dardak mengungkapkan, hingga saat ini sudah lebih dari 2.000 sumur bor dibangun dalam dua tahun terakhir. Pada 2026, jumlah tersebut akan ditambah sekitar 1.800 sumur bor baru.
“Ini upaya masif kita untuk mengantisipasi kekurangan air, terutama saat kemarau panjang,” ujar Emil, Rabu (8/4/2026).
Selain sumur bor, Pemprov Jatim juga mengoptimalkan tampungan air seperti waduk, embung, dan bendungan yang telah tersebar di sejumlah daerah, mulai dari Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, hingga Bojonegoro.
Langkah antisipasi ini diambil setelah adanya proyeksi dari BMKG terkait potensi gelombang kering akibat fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang diperkuat kondisi Indian Ocean Dipole (IOD). Puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
“Intinya ada intensitas kekeringan yang lebih tinggi. Puncaknya diprediksi Agustus,” jelas Emil.
Emil menyebut, hampir seluruh wilayah Jawa Timur memiliki kerentanan kekeringan, terutama daerah lumbung pangan seperti Lamongan di Pantura, serta Ngawi, Ponorogo, dan Madiun di wilayah Mataraman, hingga Banyuwangi di kawasan timur.
“Kerawanan ini relatif merata, hanya berbeda pada waktu mulai terdampaknya. Tapi puncaknya hampir serentak di Agustus,” katanya.
Menghadapi kondisi tersebut, Pemprov Jatim juga mendorong percepatan masa tanam. Petani diminta memanfaatkan sisa air pada April–Mei agar tidak terdampak kekeringan saat puncak kemarau. “Kata kuncinya percepat tanam saat masih ada air. Jangan menunggu terlalu lama,” tegasnya.
Selain itu, strategi lain yang disiapkan meliputi penggunaan varietas tahan kering, penerapan metode hemat air seperti alternate wetting and drying, serta penguatan distribusi air di wilayah pertanian.
Di sisi lain, Pemprov juga meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap menyertai musim kemarau. Aparat penegak hukum diminta tidak ragu menindak pelanggaran di kawasan hutan sejak dini.
“Jangan menunggu sampai terjadi kebakaran. Kalau ada pelanggaran, harus segera ditindak,” pungkas Emil.


















