Limbah Naik Kelas Jadi Busana Kece

- Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya menggelar Fashionology 2026 dengan menampilkan busana dari limbah produksi dan kain sisa sebagai upaya kreatif menghadirkan fashion berkelanjutan.
- Ajang ini menonjolkan riset, eksplorasi, serta kolaborasi dengan UMKM untuk menggabungkan nilai budaya lokal dan inovasi modern yang relevan bagi generasi muda.
- Fashionology 2026 turut melibatkan lima universitas internasional, mempertemukan perspektif global dalam menjadikan fashion sebagai medium solusi isu sosial, budaya, dan lingkungan.
Surabaya, IDN Times - Di tengah isu limbah industri fashion yang terus menjadi sorotan global, puluhan mahasiswa Universitas Ciputra (UC) Surabaya justru melihatnya sebagai peluang. Melalui ajang Fashionology 2026, mereka menyulap limbah material produksi dan kain sisa menjadi koleksi busana kreatif yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga membawa pesan keberlanjutan.
Fashion show tahunan yang digelar mahasiswa Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif UC Surabaya itu menghadirkan beragam karya mulai dari streetwear, evening wear, modest wear hingga childrenswear. Menariknya, sebagian koleksi lahir dari proses daur ulang material yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai ekonomi.
Ketua Program Studi Fashion Product Design and Business sekaligus Ketua Fashionology 2026, Yoanita Kartika Sari Tahalele mengatakan seluruh karya yang ditampilkan bukan sekadar hasil tugas akhir mahasiswa. Setiap koleksi lahir dari proses riset, eksplorasi, kreativitas hingga keberanian menawarkan solusi atas berbagai isu yang dihadapi industri fashion saat ini.
"Seluruh busana yang ditampilkan telah melalui tahap riset, eksplorasi, kreativitas, dan keberanian untuk menawarkan solusi melalui desain," ujarnya.
Menurut Yoanita, keberlanjutan menjadi salah satu isu utama yang diangkat dalam Fashionology 2026. Namun, karya para mahasiswa juga menyentuh tema lain seperti pelestarian budaya, identitas generasi muda, hingga perubahan sosial yang berkembang di masyarakat.
Tak hanya itu, mahasiswa juga didorong untuk berkolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta menggali kekayaan budaya lokal untuk diterjemahkan ke dalam desain yang lebih modern dan relevan dengan perkembangan zaman.
"Fashionology 2026 mengajak pengunjung menyelami ruang transisi antara dunia akademik dan profesional, antara tradisi dan inovasi, serta antara tantangan masa kini dan peluang masa depan," katanya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian datang dari mahasiswa bernama Muhammad Atho'illah. Ia memanfaatkan limbah deadstock kain batik yang kemudian diolah menggunakan teknik patchwork dan applique menjadi koleksi streetwear bergaya hip hop.
Lewat sentuhan desain modern, kain batik yang sebelumnya tidak terpakai disulap menjadi busana yang dekat dengan gaya hidup anak muda masa kini tanpa kehilangan identitas budaya lokal.
"Hasil koleksi ini memiliki aksen budaya lokal berpenampilan modern dan relevan dengan tren global yang banyak diikuti oleh generasi muda," ungkapnya.
Atho'illah mengaku sengaja mengangkat tema hip hop lokal karena tren tersebut sedang berkembang pesat di kalangan anak muda Indonesia. Menurutnya, fashion tidak hanya soal penampilan, tetapi juga harus mampu membaca peluang pasar dan perubahan budaya.
"Kalau semua tahu, sekarang hip hop lagi naik di pasaran dan sudah mulai konstan tentang tren ini. Jadi saya mengangkat potensi ini berupa produk supaya bisa berkontribusi di pasaran dan bisa menghasilkan," katanya.
Sekadar diketahui, tahun ini, Fashionology juga menghadirkan nuansa internasional dengan melibatkan lima universitas mitra dunia, yakni Tsinghua University dari China, Shih Chien University Taiwan, Manchester Metropolitan University Inggris, Swinburne University Australia, dan TAR UMT Malaysia.
Masing-masing kampus menghadirkan enam koleksi terbaik mahasiswa mereka. Kolaborasi tersebut menghadirkan pertemuan berbagai perspektif budaya dan memperlihatkan bagaimana generasi muda dari berbagai negara mulai menjadikan fashion sebagai medium untuk menjawab tantangan sosial, budaya, dan lingkungan.



















