Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dua Lansia Disabilitas di Magetan Bertahan di Rumah Lapuk

Kab. Magetan
Dua Lansia Disabilitas di Magetan Bertahan di Rumah Lapuk
Jinem warga Desa Mategal saat menunjukkan atap dapurnya yang lapuk. (IDN Times/Riyanto)
Intinya Sih
  • Dua lansia disabilitas, Jinem dan Satinem, hidup berdua di rumah tua tepi hutan jati Magetan dengan kondisi bangunan yang semakin rapuh dan memprihatinkan.
  • Keterbatasan fisik membuat mereka saling melengkapi; Jinem menjadi mata bagi Satinem yang tuna netra, sementara bantuan dari warga hanya cukup untuk kebutuhan harian.
  • Mereka berharap ada pihak yang membantu memperbaiki rumah agar bisa menikmati masa tua dengan aman tanpa rasa takut saat hujan dan angin datang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Magetan, IDN Times – Di sudut hutan jati Dusun Gangsiran, Desa Mategal, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, berdiri sebuah rumah limasan tua yang dari kejauhan tampak masih kokoh. Di halaman rumah, seorang perempuan lanjut usia terlihat memanggul rumput untuk dua ekor kambing kecil, pemberian orang yang ia rawat dengan harapan kelak bisa berkembang biak dan menjadi penopang hidup.

Perempuan itu adalah Jinem (65). Bersama kakaknya, Satinem (70), ia menghabiskan hari tua dalam keterbatasan. Keduanya merupakan penyandang disabilitas yang tinggal berdua di rumah yang kondisinya kian memprihatinkan.

Rumah sederhana di tepi hutan jati, tak jauh dari lokasi pembangunan Batalyon Teritorial dan Pembangunan (Yon TP), itu dipenuhi dinding retak, atap mulai rapuh, serta dapur yang tak lagi aman digunakan. Demi menghindari risiko tertimpa bangunan, mereka kini memasak di ruang tamu yang sekaligus menjadi tempat beristirahat.

1. Saling menjadi penopang di tengah keterbatasan

Idntimes.com
Jinem (65) alami tuna rungu. Bersama kakaknya, Satinem (70) alami tuna netra. (IDN Times/Royanto)

Takdir menghadirkan keterbatasan berbeda bagi kakak beradik itu. Jinem, seorang janda tanpa anak, kehilangan pendengarannya setelah sempat hidup normal saat muda. Sementara sang kakak, Satinem, hidup sebagai penyandang tuna netra.

Meski sama-sama memiliki keterbatasan, keduanya justru saling melengkapi. Jinem menjadi "mata" bagi kakaknya, sedangkan Satinem menjadi teman setia yang selalu menemani adiknya menjalani hari-hari di usia senja.

Karena tak mampulagi beierja, mereka bertahan hidup dari bantuan kebutuhan pokok yang sesekali datang dari pemerintah maupun warga sekitar. Namun bantuan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, belum mampu memperbaiki tempat tinggal yang terus dimakan usia.

2. Dapur tak lagi aman, ruang tamu berubah jadi tempat memasak sekaligus kamar

Idntimes.com
Jinem warga Desa Mategal saat menunjukkan atap dapurnya yang lapuk. (IDN Times/Riyanto)

Setiap hujan turun disertai angin kencang, rasa waswas selalu menghampiri. Atap rumah yang mulai lapuk dan dinding yang retak membuat keduanya khawatir bangunan sewaktu-waktu roboh.

Karena takut tertimpa bagian dapur yang sudah rapuh, mereka memindahkan aktivitas memasak ke ruang tamu. Ruangan itu kini memiliki fungsi ganda, menjadi dapur sekaligus tempat tidur.

Tak ada pilihan lain. Rumah sederhana itu tetap mereka huni karena hanya itulah tempat yang mereka miliki.

3. Impian sederhana: rumah yang aman untuk menghabiskan sisa usia

Idntimes.com
Jinem warga Desa Mategal saat menunjukkan tembok rumahnya retak. (IDN Times/Riyanto)

Di balik segala keterbatasan, Jinem tak pernah meminta lebih. Ia hanya berharap ada orang-orang yang tergerak membantu memperbaiki rumah mereka agar lebih layak ditempati.

"Saya hanya berharap ada bantuan. Siapa saja yang ikhlas membantu, baik dari pemerintah maupun masyarakat, semoga ada yang mau memperbaiki rumah kami supaya lebih aman ditempati," ujar Jinem penuh harap.

Bagi Jinem dan Satinem, rumah layak bukan soal kemewahan. Mereka hanya ingin bisa menjalani hari tua tanpa dihantui rasa takut setiap kali hujan dan angin datang menerpa rumah tua mereka di pinggir hutan jati Gangsiran. Di usia yang tak lagi muda, harapan mereka begitu sederhana, yakni memiliki tempat berteduh yang aman hingga akhir hayat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More