Beras Premium Jatim Sulit Dicari, Mengapa Pabrikan Setop Produksi?

- Pasokan beras premium merek populer di Jawa Timur menipis karena sejumlah pabrikan menghentikan sementara produksi saat harga gabah melonjak.
- Harga rata-rata beras premium Jatim mencapai Rp15.092 per kilogram, melampaui HET Rp14.900; Surabaya tercatat tertinggi Rp16.416 per kilogram.
- BULOG memantau pasar, menyalurkan beras medium SPHP dan premium komersial, serta menyiapkan bantuan 170 ribu ton beras bagi 5,69 juta keluarga penerima.
Surabaya, IDN Times - Beras premium di Jawa Timur (Jatim) mulai sulit ditemukan di pasaran. Sejumlah agen beras mengaku beberapa merek yang selama ini paling banyak dicari konsumen mendadak tak mendapat pasokan dari distributor. Di saat bersamaan, harga beras premium terus menembus batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Agen beras di Surabaya, Riko Abdiono mengatakan, sudah sekitar sepekan tidak bisa menjual sejumlah merek beras premium seperti Pinpin, Pelikan, dan Donald karena tidak mendapat pasokan dari distributor. “Padahal, tiga jenis itu yang paling banyak peminatnya. Sementara jika ditawarkan merek lain, pembeli tak mau,” ujarnya, Rabu (9/9/2026).
Riko membeberkan, informasi yang diterimanya menyebutkan kelangkaan pasokan tersebut berkaitan dengan keputusan sejumlah pabrikan menghentikan sementara produksi beras premium. Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga gabah yang membuat biaya produksi ikut terkerek. Pabrikan, lanjut dia, berada dalam posisi sulit. Jika tetap memproduksi dengan harga gabah tinggi, harga jual beras berpotensi berada di atas HET. Kondisi itu membuat pelaku usaha khawatir terkena penindakan.
“Banyak pabrikan takut memproduksi beras saat harga gabah naik. Sebab, kalau nekat memproduksi, mereka akan menjual beras di atas HET dan akan langsung ditindak oleh Satgas Pangan,” ungkapnya.
Riko berharap pemerintah mempertimbangkan kelonggaran HET untuk beras premium. Menurutnya, kebijakan tersebut bisa dibedakan dengan beras medium yang lebih banyak dikonsumsi masyarakat secara luas.
“Pemerintah boleh saja memberi batasan untuk beras medium dan biasa yang dikonsumsi masyarakat secara luas guna menekan harga. Tapi untuk beras premium harusnya ada kelonggaran,” katanya.
Situasi tersebut tercermin dari pergerakan harga di pasar. Berdasarkan data SISKAPERBAPO Jawa Timur per 9 September 2026, harga rata-rata beras premium di Jatim mencapai Rp15.092 per kilogram, atau sekitar Rp192 di atas HET premium sebesar Rp14.900 per kilogram.
Tekanan harga bahkan lebih tinggi di sejumlah daerah. Kota Surabaya mencatat harga rata-rata tertinggi mencapai Rp16.416 per kilogram, disusul sejumlah daerah lain yang juga berada di atas HET. Sementara harga rata-rata terendah tercatat di Kabupaten Trenggalek sebesar Rp13.950 per kilogram.
Sebelumnya, berdasarkan data per 8 September, harga rata-rata beras premium Jatim berada di kisaran Rp15.086 per kilogram. Kabupaten Situbondo tercatat mencapai Rp16.233 per kilogram, Surabaya Rp16.166 per kilogram, dan Jember Rp16.160 per kilogram.
Manajer Pemasaran Perum BULOG Kantor Wilayah Jawa Timur, Sawaludin Susanto membenarkan adanya tekanan harga beras premium akibat melonjaknya harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani.
Menurut dia, harga GKP kini berada di kisaran Rp7.500-Rp8.000 per kilogram. Kondisi tersebut turut dipengaruhi musim kemarau yang berdampak terhadap produksi dan pasokan gabah.
“Dengan adanya HET beras premium Rp14.900 per kilogram, ritel modern tidak ingin mengambil risiko menjual beras di atas HET karena modal dari penggilingan sudah berada di atas batas tersebut akibat dampak naiknya harga GKP," katanya.
Tingginya harga gabah membuat biaya pokok produksi di tingkat penggilingan ikut meningkat. Dalam kondisi tertentu, biaya tersebut bahkan disebut sudah berada di atas HET beras premium.
Kondisi ini berpotensi menciptakan persoalan baru di pasar, harga beras premium sulit ditekan sementara pelaku usaha juga enggan menambah produksi karena terbentur selisih antara biaya produksi dan harga jual yang diizinkan.
Di tengah tekanan harga dan pasokan, BULOG bersama Tim Saber Pangan yang terdiri dari unsur Polri, Bapanas, serta dinas terkait terus melakukan pemantauan pasar. Intervensi juga diperkuat melalui penyaluran beras medium program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
BULOG Jatim juga menggenjot penyaluran beras premium melalui sejumlah merek komersialnya, seperti Befood, Punokawan, dan Setra Ramos, untuk mengisi kekosongan pasokan di pasar dan ritel modern.
“Penjualan beras premium dari BULOG Jatim sendiri sudah menembus lebih dari 10.000 ton selama tahun 2026. Saat ini, kami masih memiliki cadangan setara 1.000 ton beras premium yang disiapkan untuk mengisi pasar dan ritel modern,” jelas Sawaludin.
Pemerintah pusat juga berencana menambah kuota SPHP secara nasional hingga akhir tahun. Saat ini kuota tersebut berada di angka 1 juta ton.
Sementara untuk menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah, pemerintah melalui Bapanas dan BULOG menyalurkan bantuan pangan beras di Jatim pada September 2026. Total 170 ribu ton beras disiapkan untuk 5,69 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM), dengan masing-masing keluarga memperoleh 30 kilogram beras secara gratis.



















