Hidup Sebatang Kara, Lansia di Magetan Kini Kehilangan Sandaran PKH

- Cikrak, lansia 70 tahun di Magetan yang hidup sendiri, tidak menerima PKH selama dua kali pencairan dan belum mengetahui penyebab pasti penghentian bantuan.
- Dengan penglihatan rabun serta tidak bisa membaca dan menulis, Cikrak kesulitan mencari informasi status PKH; ia hanya ditemani tiga kambing sebagai sumber penghidupan.
- Warga menyebut listrik prabayar 900 VA diduga menjadi alasan penghentian PKH, lalu meminta pemerintah memeriksa kondisi penerima secara langsung, bukan hanya indikator administratif.
Magetan, IDN Times – Kaki itu ditekuk rapat di ambang pintu. Cikrak (70) bersandar pada kusen rumah sederhananya di Dusun Grumbul Malang RT 03 RW 11 Desa Pupus, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Tatapannya menerawang. Matanya mulai rabun, sementara kedua tangannya sesekali mengusap wajah. Di usia senja, perempuan itu harus menjalani hidup seorang diri tanpa suami dan anak.
Kini, satu-satunya sandaran ekonominya ikut terganggu. Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) yang selama bertahun-tahun diterimanya mendadak tak lagi cair. Sudah dua kali pencairan, Cikrak tidak menerima bantuan tersebut. Ia pun bingung harus mencari jawaban ke mana.
Table of Content
1. PKH berhenti, Cikrak tak tahu penyebabnya

Nenek Cikrak saat menceritakan bantuan PKH nya tidak lagi Ia terima. IDN Times/Riyanto. Bagi Cikrak, PKH bukan sekadar bantuan pemerintah. Uang tersebut selama ini menjadi salah satu penopang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, belakangan bantuan itu berhenti. Cikrak mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebabnya.
Di rumahnya memang terdapat penanda pendataan Sensus Ekonomi 2026 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Cikrak menduga perubahan status bantuan terjadi setelah kedatangan petugas pendataan tersebut. Meski demikian, belum ada kepastian bahwa pendataan Sensus Ekonomi 2026 menjadi penyebab PKH Cikrak tidak lagi cair.
Kondisinya semakin sulit karena Cikrak tidak bisa membaca dan menulis. Penglihatannya yang mulai rabun juga membuatnya kesulitan mencari informasi mengenai status bantuannya.
2. Hidup sendiri, hanya ditemani 3 ekor kambing

Nenek Cikrak saat memberi makan kambingnya. IDN Times/Riyanto. Di rumah sederhana yang nyaris tanpa barang berharga, Cikrak menjalani masa tuanya seorang diri. Tiga ekor kambing menjadi salah satu teman sekaligus sumber penghidupan yang dimilikinya. Tidak adanya suami maupun anak membuat Cikrak tidak memiliki tempat bergantung ketika menghadapi persoalan ekonomi.
Karena itu, ia berharap ada pihak yang datang memberikan penjelasan mengenai PKH yang tiba-tiba berhenti. Ia tidak banyak meminta. Cikrak hanya ingin tahu alasan bantuan yang selama ini diterimanya tidak lagi cair dan apakah dirinya masih memiliki hak untuk mendapatkannya.
3. Warga pertanyakan penentuan penerima bansos

Kondisi rumah nenek Cikrak jauh dari kata rumah mewah. IDN Times/Riyanto. Senen (45), warga setempat, mengaku pernah mendengar penjelasan dari seseorang yang disebut sebagai petugas PKH terkait berhentinya bantuan Cikrak. Menurut Senen, saat itu disebutkan bahwa daya listrik di rumah Cikrak yang menggunakan listrik prabayar 900 VA menjadi salah satu alasan yang disampaikan.
"Ada petugas katanya dari PKH, menerangkan jika penyebabnya daya listrik yang ada di rumah nenek Cikrak, dayanya 900 watt," ujar Senen.
Senen mengaku heran dengan kondisi tersebut. Menurutnya, kondisi nyata Cikrak jauh dari gambaran warga mampu.
Ia berharap pemerintah tidak hanya melihat indikator administratif dalam menentukan penerima bantuan, tetapi juga turun langsung melihat kondisi masyarakat. "Tolonglah turun ke lapangan cek langsung kondisi orang-orang ini. Tolong jangan cabut PKH-nya, kasihan," pintanya.
Bagi Cikrak, persoalan PKH bukan sekadar soal bantuan yang masuk atau tidak masuk. Di usia 70 tahun, ketika hidup harus dijalani seorang diri, bantuan tersebut menjadi salah satu sandaran untuk bertahan di tengah keterbatasan.

















