Menanti Hujan, Asa Petani Magetan Menyelamatkan Tanaman dari Kemarau

- Petani hortikultura di Desa Sidomulyo, Magetan, menghadapi kekurangan air saat kemarau; tanaman tomat, cabai, dan terong tumbuh kerdil, berbuah kecil, layu, hingga terancam mati.
- Keterbatasan air membuat penyiraman tidak rutin dan pupuk sulit terserap, sehingga petani mengandalkan hujan untuk mempertahankan tanaman yang tersisa sampai masa panen.
- Di tengah kemarau, harga tomat, cabai, dan terong turut turun drastis; petani berharap hujan segera turun serta harga membaik agar modal produksi dapat tertolong.
Magetan, IDN Times – Hujan menjadi harapan bagi petani hortikultura di Kabupaten Magetan Jawa Timur saat ini. Salah satunya di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidorejo. Memasuki musim kemarau, tanaman tomat, cabai, dan terong mulai kesulitan mendapatkan pasokan air.
Sebagian tanaman tumbuh kerdil, buah yang dihasilkan lebih kecil, bahkan ada yang mulai layu dan terancam mati sebelum memasuki masa panen. Di tengah kondisi itu, petani masih menyimpan harapan tanaman yang tersisa bisa diselamatkan jika hujan segera turun.
Berikut tiga potret perjuangan dan asa petani Sidomulyo di tengah kemarau.
Table of Content
1. Hujan dinanti untuk menyelamatkan tanaman

Kondisi tanaman tomat petani Sidomulyo layu dan kering akibat kekurangan air. IDN Times/Riyanto. Jamin Nurwakid, petani di Desa Sidomulyo, mengatakan tanaman yang dikelolanya mulai terganggu sejak awal musim kemarau. Setelah ditanam, hujan hanya turun sekali dan hingga kini belum kembali memberikan pasokan air yang cukup.
Kondisi tersebut membuat petani kesulitan menyiram tanaman secara rutin. Tanah yang kering juga membuat pupuk tidak terserap secara maksimal.
“Mulai tanam sudah musim kemarau. Hujan hanya satu kali dan sampai sekarang belum hujan lagi. Kalau dipupuk juga tidak bisa tercerna dengan baik karena kondisi airnya tidak mencukupi,” kata Jamin, Minggu (6/9/2026).
Menurutnya, tanaman yang kekurangan air tumbuh tidak maksimal. Buah yang dihasilkan pun lebih kecil dibandingkan saat kebutuhan air tercukupi.
“Budidayanya juga kurang maksimal karena saya tidak bisa mengocori tanaman setiap hari. Kalau air dari bawah tidak mencukupi, tanaman tetap kesulitan meskipun sudah diberi obat atau pupuk,” ujarnya.
Karena itu, turunnya hujan menjadi harapan utama petani untuk mempertahankan tanaman yang masih bertahan.
2. Petani berharap hasil panen terselamatkan

Kondisi tanaman terong petani Sidomulyo layu dan kering akibat kekurangan air. IDN Times/Riyanto. Persoalan petani semakin berat karena harga sejumlah komoditas ikut menurun. Tomat yang sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp5.000 per kilogram kini hanya Rp1.000-Rp1.200 per kilogram. Untuk kualitas terbaik, harganya sekitar Rp1.800 per kilogram.
Harga cabai juga turun dari sekitar Rp25.000-Rp26.000 menjadi Rp21.000 per kilogram.
“Mulai musim kemarau harga sudah turun terus. Tomat yang sebelumnya sekitar Rp5.000 sekarang tinggal Rp1.000 sampai Rp1.200 per kilogram. Cabai sekarang sekitar Rp21.000,” kata Jamin.
Meski harga melemah, petani berharap tanaman yang masih hidup dapat terus tumbuh hingga menghasilkan buah. Setidaknya, hasil panen yang tersisa diharapkan mampu mengurangi beban biaya produksi.
Bagi petani, hujan bukan hanya soal menjaga tanaman tetap hidup, tetapi juga kesempatan untuk menyelamatkan modal yang sudah terlanjur dikeluarkan.
3. Petani berharap kemarau segera berakhir dan harga kembali membaik

Kondisi tanaman terong petani Sidomulyo layu dan kering akibat kekurangan air. IDN Times/Riyanto. Sastro Rejan, petani lainnya, mengatakan dampak kemarau dirasakan hampir seluruh petani hortikultura di wilayah tersebut. Tanaman terong, tomat, hingga cabai banyak yang gagal berkembang secara optimal.
Tanaman terong, misalnya. Jika dalam kondisi normal mampu menghasilkan banyak buah, kini sebagian hanya menghasilkan sedikit dan bahkan mengalami kelayuan.
Harga terong pun ikut tertekan. Dari sebelumnya sekitar Rp6.000 per kilogram, kini hanya sekitar Rp1.000 per kilogram.
“Dulu terong bisa Rp6.000, bahkan lebih. Sekarang karena kondisinya tidak berbuah dan banyak yang layu, harganya hanya sekitar Rp1.000,” ujar Sastro.
Menurut Sastro, kondisi tersebut membuat petani kesulitan mengembalikan modal. “Petani pasti rugi. Untuk pulang modal saja tidak bisa,” katanya.
Meski demikian, petani tidak ingin menyerah. Mereka berharap hujan segera turun sehingga tanaman yang masih bertahan bisa kembali tumbuh dan menghasilkan.
Selain cuaca, petani juga berharap harga komoditas hortikultura kembali membaik. Dengan begitu, hasil panen yang berhasil diselamatkan masih memiliki nilai ekonomi dan bisa membantu petani bertahan menghadapi musim berikutnya.
Bagi petani Sidomulyo, setiap tetes hujan kini membawa harapan. Harapan agar tanaman yang tersisa tidak mati, panen masih bisa dipetik, dan modal yang telah ditanam di lahan tidak berakhir sia-sia.

















