Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wacana Anggaran Transportasi 5 Persen, Emil Ingatkan Hal Ini
Bus Trans Jatim yang mulai beroperasi. (Dok. Dishub Provinsi Jawa Timur)
  • Wagub Jatim Emil Dardak menolak fokus pada kuota minimal 5 persen APBD; Pemprov memilih menghitung kebutuhan riil dan kelayakan proyek sebelum menentukan investasi transportasi publik.

  • Pemprov Jatim mengembangkan Trans Jatim, Trans Laut, dan koridor kereta melalui Jatim Akses, tetapi integrasi jaringan bergantung pada sinergi pemerintah provinsi serta kabupaten/kota.

  • DPRD dan Pemprov menyusun Raperda Transportasi Publik Terintegrasi saat penggunaan angkutan umum perkotaan sekitar 2 persen; regulasi diharapkan menjaga komitmen jangka panjang daerah.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Rabu (23/9/2026)

Emil Dardak menegaskan Pemprov Jatim akan menghitung kebutuhan riil dan kelayakan proyek sebelum menentukan investasi transportasi publik, bukan mengunci anggaran minimal 5 persen APBD.

Saat ini

DPRD Jatim dan Pemprov Jatim tengah menyusun Raperda tentang Transportasi Publik Terintegrasi untuk mendorong keterlibatan pemerintah kabupaten/kota.

kini

Belum ada ketentuan persentase khusus APBD provinsi untuk transportasi publik. Pemprov Jatim tetap mengawal program seperti Trans Jatim, Trans Laut, perluasan koridor kereta api, dan SRRL.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pemprov Jawa Timur menilai penguatan transportasi publik perlu didasarkan pada kebutuhan riil dan kelayakan proyek, bukan semata penguncian minimal 5 persen APBD.
  • Who?
    Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Pemprov Jatim, DPRD Jatim, serta pemerintah kabupaten dan kota di Jawa Timur terlibat dalam pembahasan dan pengembangan transportasi publik.
  • Where?
    Di Jawa Timur, termasuk kawasan perkotaan serta jaringan transportasi darat, laut, dan perkeretaapian yang dikembangkan melalui program Jatim Akses.
  • When?
    Emil menyampaikan pernyataan pada Rabu, 23 September 2026. Saat ini DPRD Jatim dan Pemprov Jatim tengah menyusun Raperda Transportasi Publik Terintegrasi.
  • Why?
    Pemprov Jatim menekankan perlunya integrasi lintas wilayah dan dukungan kabupaten/kota. Penggunaan transportasi publik di perkotaan Jatim masih sekitar 2 persen berdasarkan studi Sustainable Urban Mobility Plan.
  • How?
    Pemprov Jatim menghitung kebutuhan dan kelayakan proyek, mengembangkan Trans Jatim, Trans Laut, koridor kereta api, serta mengawal proyek SRRL sambil mendorong keterlibatan pemerintah kabupaten/kota melalui Raperda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Emil, wakil gubernur Jawa Timur, bilang uang untuk bus dan kereta tidak harus dikunci 5 persen. Pemerintah mau lihat kebutuhan dan proyek yang cocok dulu. Mereka sedang membuat Trans Jatim, Trans Laut, dan jalur kereta. Sekarang pemerintah provinsi dan kota-kota juga sedang menyusun aturan agar transportasi umum bisa tersambung.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pendekatan Jawa Timur yang menimbang kebutuhan nyata dan kelayakan proyek menunjukkan upaya agar investasi transportasi publik diarahkan secara lebih terukur. Pengembangan Trans Jatim, Trans Laut, dan koridor kereta, disertai penyusunan regulasi terintegrasi serta dorongan kolaborasi kabupaten/kota, memberi dasar bagi jaringan yang saling melengkapi dan komitmen yang lebih terjaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak menegaskan penguatan transportasi publik di Jatim tidak cukup hanya dengan mengunci persentase anggaran. Pemprov Jatim memilih menghitung kebutuhan riil dan kelayakan proyek sebelum menentukan besaran investasi transportasi publik.

Pernyataan itu disampaikan Emil saat merespons usulan agar anggaran transportasi publik dikunci minimal 5 persen dari APBD, seperti yang telah diterapkan di Kota Semarang. Emil menyampaikan, Pemprov Jatim selama ini telah mengalokasikan investasi cukup besar untuk pengembangan transportasi publik, baik darat, laut maupun perkeretaapian. Namun, hingga kini belum ada ketentuan yang menetapkan persentase khusus APBD provinsi untuk sektor tersebut.

“Buat kita, jangankan ngomong pagu, kita ngomong kebutuhan dan ngomong kelayakan project,” ujar Emil, Rabu (23/9/2026).

Komitmen ini diwujudkan melalui berbagai program Jatim Akses, di antaranya pengembangan Trans Jatim, Trans Laut, hingga perluasan koridor kereta api di Jatim.

Emil mengatakan tantangan terbesar bukan semata-mata soal besaran anggaran, melainkan bagaimana membangun sistem transportasi yang terintegrasi lintas wilayah. Sebab, kewenangan dan APBD pemerintah provinsi terpisah dengan kabupaten/kota.

Keterlibatan pemerintah kabupaten dan kota dinilai menjadi kunci. Tanpa dukungan daerah, jaringan transportasi publik akan sulit terintegrasi dan berpotensi berjalan sendiri-sendiri. “Sinergi dan sifat komplementer dari pemerintah kabupaten/kota sangat krusial agar pengelolaan transportasi publik dapat terintegrasi dengan baik dan tidak berjalan sendiri-sendiri,” katanya.

Saat ini, DPRD Jatim bersama Pemprov Jatim tengah menyusun Raperda tentang Transportasi Publik Terintegrasi. Emil mendukung agar regulasi tersebut memberikan ruang sekaligus mendorong keterlibatan pemerintah kabupaten/kota dalam penyediaan transportasi publik.

Dorongan tersebut dinilai penting karena tingkat penggunaan transportasi publik di kawasan perkotaan Jatim masih rendah. Berdasarkan studi Sustainable Urban Mobility Plan hasil kerja sama dengan Jerman yang disebut Emil, utilisasi transportasi publik di perkotaan masih sekitar 2 persen.

Rendahnya penggunaan tersebut membuat transportasi publik kerap menjadi sektor yang kurang mendapat perhatian dalam kebijakan daerah. Emil menilai perlu ada landasan yang menjaga komitmen kepala daerah terhadap transportasi publik dalam jangka panjang.

“Karena kerap dinilai kurang mendatangkan popularitas politik jangka pendek bagi kepala daerah. Maka, saya setuju perlu ada landasan agar komitmen setiap kepala daerah pada transportasi publik tetap terjaga,” ungkapnya.

Emil memastikan Pemprov Jatim tidak menunggu regulasi untuk bergerak. Sejumlah program transportasi publik terus dikawal, termasuk proyek strategis berskala besar seperti SRRL.

Menurutnya, pembangunan transportasi publik harus dilihat sebagai investasi jangka panjang untuk menghubungkan masyarakat antarkawasan, mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, sekaligus membangun sistem mobilitas yang lebih terintegrasi di Jatim.

Curated For You

Editorial Team

Related Article