Minyak Goreng Naik Serentak, MinyaKita Jadi Barang Langka di Ngawi

- Harga minyak goreng di Ngawi naik serentak, sementara MinyaKita menjadi langka dan dijual jauh di atas HET Rp15.700 per liter.
- Semua jenis minyak goreng, baik kemasan maupun curah, mengalami kenaikan harga signifikan hingga mencapai Rp23 ribu per liter.
- Pedagang kesulitan mendapatkan pasokan dari distributor; kelangkaan ini juga berdampak pada naiknya harga gula pasir di pasar tradisional.
1. MinyaKita langka, harga jauh di atas HET

MinyaKita sudah sulit ditemukan di pasar tradisional sejak dua bulan terakhir. Kalaupun tersedia, harganya tembus Rp22 ribu per liter, melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter. Kondisi ini membuat masyarakat kesulitan mendapatkan minyak goreng subsidi dengan harga terjangkau.
2. Semua jenis minyak goreng ikut naik

Tidak hanya MinyaKita, minyak goreng kemasan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Dari sebelumnya sekitar Rp18 ribu per 800 mililiter, kini melonjak menjadi Rp22 ribu. Bahkan, minyak goreng curah ikut naik dari Rp18 ribu menjadi Rp23 ribu per liter.
“Yang langka itu semua minyak goreng kemasan, termasuk MinyaKita,” ujar salah satu pedagang, Bagus Widiantoro.
3. Pasokan seret dari distributor, gula ikut naik

Pedagang mengaku kesulitan mendapatkan stok dari distributor meski sudah mencari ke berbagai tempat. Kelangkaan ini diduga menjadi pemicu utama kenaikan harga. Selain minyak goreng, harga gula pasir juga ikut naik dari Rp16 ribu menjadi Rp18.500 per kilogram.
“MinyaKita sulit didapat sudah dua bulan terakhir. Kalau pun ada, harganya naik sampai Rp22 ribu. Gula juga ikut naik,” kata pedagang lainnya, Hana.
Sementara itu, harga sayuran di pasar tradisional terpantau masih relatif stabil. Warga kini berharap ada langkah cepat dari pemerintah untuk mengatasi kelangkaan dan menstabilkan harga kebutuhan pokok.


















