Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Telur Tak Kunjung Naik, BGN Ancam Tutup 71 Dapur MBG di Magetan

Harga Telur Tak Kunjung Naik, BGN Ancam Tutup 71 Dapur MBG di Magetan
Wakil BGN Nanik S Deang saat rakor di Kabupaten Magetan. IDN Times/Riyanto.
Intinya Sih
  • Wakil BGN Nanik S. Deyang mengancam menutup 71 dapur MBG di Magetan jika harga telur peternak tak naik meski program Makan Bergizi Gratis sudah berjalan.
  • Produksi telur Magetan mencapai 25.600 ton per tahun dengan konsumsi hanya 11.190 ton, menyebabkan surplus besar dan harga telur terus tertekan di tingkat peternak.
  • BGN meminta dapur MBG menyerap langsung telur dan sayuran lokal seperti pokcoy agar manfaat ekonomi dirasakan petani serta memperkuat peran program sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Magetan, IDN Times – Pernyataan tegas dilontarkan Wakil Badan Gizi Nasional (BGN),, Nanik S. Deyang saat menghadiri Rapat Koordinasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Magetan, Senin (1/6/2026). Nanik mengancam akan menutup seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Magetan jika program tersebut gagal mengerek harga telur di tingkat peternak.

Ancaman itu muncul setelah BGN menemukan harga telur di kandang peternak Magetan masih bertahan di kisaran Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per kilogram. Padahal, sebelumnya BGN telah menginstruksikan seluruh dapur MBG untuk menyerap telur lokal sebanyak dua hingga tiga kali dalam sepekan. "Saya hitung satu minggu dari sekarang harus ada pergerakan harga. Kalau tidak ada pergerakan harga, 71 SPPG saya tutup!" tegas Nanik di hadapan pengelola SPPG, mitra MBG, dan jajaran pemerintah daerah.

1. Beli telur langsung ke peternak atau di-suspend

Riyanto
Wakil BGN Nanik S Deang saat rakor di Kabupaten Magetan. IDN Times/Riyanto.

Nanik mengaku kecewa karena peningkatan permintaan telur dari program MBG belum berdampak signifikan terhadap kesejahteraan peternak. Menurutnya, keuntungan justru lebih banyak dinikmati para pedagang dan supplier.

Karena itu, BGN menginstruksikan seluruh mitra MBG membeli telur langsung dari koperasi peternak maupun peternak lokal tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.

"Sampaikan ke mitra, kalau tidak beli telur ke koperasi atau langsung ke peternak maka kita suspend. Harus beli langsung ke petani dan peternak," ujarnya.

Ia menilai intervensi tersebut perlu dilakukan agar manfaat ekonomi Program MBG benar-benar dirasakan masyarakat bawah, khususnya peternak yang selama ini mengeluhkan harga jual telur yang anjlok.

2. Produksi telur melimpah, harga justru tertekan

Riyanto
Harga telur di Magetan murah, peternak pilih sedekahkan 3 ton kepada penguna jalan. IDN Times/Riyanto.

Data yang dipaparkan dalam Rakor menunjukkan Magetan merupakan salah satu sentra produksi telur terbesar di Jawa Timur. Produksi telur mencapai sekitar 25.600 ton per tahun, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat hanya sekitar 11.190 ton.

Surplus produksi yang sangat besar itu membuat harga telur kerap jatuh saat serapan pasar melemah. Bahkan beberapa waktu lalu peternak di Magetan sempat membagikan telur gratis sebagai bentuk protes terhadap rendahnya harga jual.

.

Melihat kondisi tersebut, BGN berharap Program MBG bisa menjadi instrumen penyangga harga sekaligus pasar baru bagi peternak lokal.

"Permintaan telur naik, tapi yang untung jangan pedagangnya. Yang harus untung peternaknya," kata Nanik.

3. Tak hanya teur, sayuran lokal juga diminta diserap

Riyanto
Wakil BGN Nanik S Deang saat rakor di Kabupaten Magetan. IDN Times/Riyanto.

Dalam kesempatan yang sama, Nanik juga meminta jajaran koordinator wilayah MBG aktif memantau komoditas pertanian yang mengalami penurunan harga.

Saat ini, salah satu komoditas yang dinilai sedang mengalami tekanan harga adalah pokcoy. Karena itu, BGN meminta dapur MBG memperbanyak penggunaan sayuran lokal tersebut dalam menu makan bergizi gratis.

"Kalau ada harga sayur yang jatuh, langsung instruksikan untuk digunakan. Tadi saya lihat yang jatuh pokcoy. Tolong banyak memakai pokcoy untuk membantu menaikkan harga sayur petani," ujarnya.

Selain fokus pada pemenuhan gizi siswa, BGN kini mulai mengarahkan Program MBG sebagai instrumen penggerak ekonomi kerakyatan. Dapur-dapur MBG didorong menyerap bahan pangan langsung dari petani, peternak, koperasi, dan UMKM lokal.

Dengan potensi surplus beras, telur, serta sayuran yang dimiliki, Magetan dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu daerah penyangga kebutuhan pangan Program MBG di kawasan Madiun Raya.

Pesan BGN kali ini, jika program belum mampu mengangkat harga hasil petani dan peternak, evaluasi besar-besaran hingga penutupan operasional SPPG akan dilakukan.

Share Article
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More