Arek Surabaya Ukir Prestasi Dunia, Raih Emas di Singapura

- Hawa Billah Syakira Harto, siswi SD Islam Al Azhar 35 Surabaya berusia 11 tahun, meraih Gold Award (juara 3) di Hong Kong International Science Olympiad 2026 yang digelar di Singapura.
- Perjalanan Hawa dimulai dari seleksi nasional dengan 1.350 peserta hingga Global Round melawan 310 finalis internasional, berkat persiapan intensif melalui pembinaan sekolah dan les privat.
- Dukungan keluarga menjadi kunci keberhasilannya; selain sains, Hawa juga aktif di piano dan IT serta akan mewakili Surabaya pada Festival Anak Berprestasi Indonesia tingkat nasional.
Surabaya, IDN Times - Di usia yang baru menginjak 11 tahun, Hawa Billah Syakira Harto telah mengharumkan nama Indonesia di panggung internasional. Siswi kelas 5 SD Islam Al Azhar 35 Surabaya itu berhasil meraih Gold Award (Second Runner Up/juara 3) pada ajang Hong Kong International Science Olympiad (HKISO) 2026 yang digelar di Singapura setelah bersaing dengan ratusan pelajar dari berbagai negara.
HKISO merupakan olimpiade sains internasional yang menguji kemampuan peserta dalam bidang Fisika, Biologi, Kimia, dan Integrated Science melalui soal-soal berstandar global. Kompetisi ini diikuti pelajar dari berbagai negara seperti Singapura, Hong Kong, India, Thailand, Filipina, Vietnam, Kamboja, Yordania, Myanmar, hingga Sri Lanka.
Perjalanan Hawa menuju podium internasional tidak mudah. Ia terlebih dahulu menyisihkan 1.350 peserta pada babak penyisihan nasional secara daring. Berkat hasil tersebut, Hawa melaju ke babak Global Round di Singapura dan bersaing dengan 310 finalis sebelum akhirnya membawa pulang penghargaan Gold Award sebagai juara ketiga.
"Happy banget sih. Nggak sia-sia persiapannya, walaupun aku grogi. Seneng bisa nambah pengalaman, punya teman-teman baru juga dari luar negeri," ujarnya, Senin (20/7/2026).
Hawa mengaku menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk mempersiapkan diri. Selain mengikuti kelas pembinaan di sekolah, ia juga menjalani les privat sepulang sekolah guna memperdalam materi yang akan diujikan.
"Ada banget tantangannya, harus hafalin rumus, hafalin organ-organ. Biasanya aku ngafalin ya ulang-ulang terus latihan soal," katanya.
Kecintaan Hawa terhadap ilmu pengetahuan sudah tumbuh sejak kecil. Ia mengaku paling menyukai Biologi dan berbagai eksperimen sains, mulai dari membuat rangkaian listrik sederhana hingga proyek-proyek ilmiah lainnya.
"Eksperimennya aku suka. Kalau bikin project senang banget, kayak bikin sirkuit listrik. Ada lampu, baterai, kabel. Pengen jadi dokter anak, karena aku juga suka Biologi," tuturnya.
Tak hanya bermimpi menjadi dokter, Hawa juga bercita-cita melanjutkan pendidikan di Singapura melalui jalur beasiswa. "Aku pengen sekolah di Singapura, sekolahnya bagus dan bersih. Mudah-mudahan dapat beasiswa," ucapnya.
Di balik sederet prestasi itu, dukungan keluarga menjadi fondasi utama. Ibunda Hawa, Gusti Khairunnisa, mengatakan putrinya telah mengikuti pembinaan siswa berprestasi sejak kelas 3 SD setelah lolos seleksi internal sekolah.
"Alhamdulillah, sejak kelas 3 Hawa konsisten menjadi salah satu murid yang lolos seleksi murid bimbingan berprestasi IPA," katanya.
Meski berprestasi di berbagai kompetisi internasional, Gusti menegaskan dirinya tidak pernah memaksa sang putri untuk terus belajar. Hawa tetap menjalani masa kecil layaknya anak-anak seusianya.
"Hawa juga suka game kok, dia suka main Roblox. Cara belajarnya juga nggak terlalu di-drill di rumah, cuma kalau mau lomba dia memang intens les," bebernya.
Selain menorehkan prestasi di bidang sains, Hawa juga aktif mengikuti kompetisi piano dan teknologi informasi. Hingga kini, puluhan penghargaan tingkat nasional maupun internasional telah berhasil ia raih.
Dalam waktu dekat, Hawa kembali akan mewakili Surabaya pada ajang Festival Anak Berprestasi Indonesia (FABI) tingkat nasional di Malang. Pada babak final tingkat Kota Surabaya, ia berhasil meraih peringkat pertama untuk bidang IPA.
"Mudah-mudahan di tahap nasional nanti dia bisa dapat hasil terbaik," harap Gusti.
Bagi keluarga, perjalanan Hawa masih panjang. Mereka berkomitmen terus mendukung setiap mimpi putrinya, termasuk keinginannya melanjutkan pendidikan di Singapura yang terinspirasi dari tayangan kompetisi Clash of Champions (CoC).
"Kami selalu mendukung apa yang dia suka. Namanya anak, dunianya masih bermain. Yang penting kami selalu ada ketika dia membutuhkan," pungkas Gusti.
















