Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kronologi Pendaki Terperosok ke Jurang di Jalur Ilegal Gunung Semeru

Kronologi Pendaki Terperosok ke Jurang di Jalur Ilegal Gunung Semeru
Upaya evakuasi pendaki di Gunung Semeru. (Dok. BB TNBTS)
Intinya Sih
  • Tiga pendaki asal Semarang, Pasuruan, dan Malang nekat mendaki Gunung Semeru lewat jalur ilegal di Ampelgading saat pendakian resmi masih ditutup karena aktivitas vulkanologi.
  • Salah satu pendaki bernama Cakra terperosok di lereng gunung dan ditemukan setelah pencarian semalaman oleh tim gabungan Basarnas, BB TNBTS, warga, serta relawan.
  • Pihak BB TNBTS mengimbau masyarakat tidak menggunakan jalur ilegal demi keselamatan dan menghormati kebijakan penutupan kawasan Gunung Semeru yang masih berlaku.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Malang, IDN Times - Basarnas melaporkan jika ada 1 orang pendaki Gunung Semeru yang hilang usai terperosok di jurang pada Selasa (2/3/2026) sore. Ternyata pendaki bernama Cakra (18) ini mendaki Gunung Semeru via jalur ilegal di Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

1. BB TNBTS ungkap kronologi pendaki Gunung Semeru yang hilang

Tim penyelamat dengan helm dan perlengkapan lengkap mengevakuasi pendaki di hutan lebat kawasan Gunung Semeru.
Upaya evakuasi pendaki di Gunung Semeru. (Dok. Basarnas Surabaya)

Kepala Balai Besar (BB) Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Rudijanta Tjahja Nugraha menceritakan jika awalnya ada 3 orang pendaki yang berasal dari Semarang, Pasuruan, dan Malang melakukan aktivitas pendakian menuju kawasan Gunung Semeru melalui jalur Candi Jawar Purbakala Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading pada Sabtu (30/5/2026). Ia menjelaskan jika jalur yang dipilih ketiganya bukan jalur resmi pendakian wisata yang dikelola BB TNBTS. Lokasi tersebut merupakan akses tidak resmi dan masyarakat setempat juga mengetahui bahwa jalur tersebut bukan merupakan pintu masuk maupun jalur yang digunakan untuk aktivitas pendakian Gunung Semeru.

"Hingga saat ini pendakian menuju puncak Gunung Semeru masih ditutup sehubungan dengan aktivitas vulkanologi Gunung Semeru dan pertimbangan keselamatan pengunjung. Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan ketiga orang tersebut merupakan pendakian ilegal dan tidak tercatat dalam sistem pelayanan pendakian BB TNBTS," terangnya pada Rabu (3/6/2026).

Kemudian Rudijanta menjelaskan kalau pada Senin (1/6/2036) pukul 10.00 WIB, salah satu pendaki bernama Cakra menghubungi orang tuanya untuk menyampaikan bahwa dirinya terjatuh di lereng Gunung Semeru serta membutuhkan pertolongan. Korban juga sempat mengirimkan titik koordinat lokasi terakhir sebelum komunikasi terputus. Setelah itu, keluarga korban langsung berkoordinasi dengan Koramil Tirtoyudo dan Koramil Ampelgading untuk melakukan pencarian.

"Jadi pada Senin malam pukul 22.00 WIB, ayah korban bersama 6 orang warga Desa Kaliputih (Kecamatan Ampelgading) melakukan upaya menuju lokasi korban. Untuk mencapai lokasi tersebut diperlukan waktu tempuh sekitar 8 jam berjalan kaki melalui medan yang terjal, curam, dan minim akses," bebernya.

2. Korban baru ditemukan pada Selasa pagi

Petugas SAR mengenakan seragam oranye dan helm pelindung sedang menelusuri jalur hutan lebat di Gunung Semeru untuk evakuasi pendaki.
Upaya evakuasi pendaki di Gunung Semeru. (Dok. Basarnas Surabaya)

Setelah dilakukan pencarian selama semalaman, Cakra akhirnya ditemukan pada Selasa (2/6/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Namun menurut Rudijanta proses evakuasi mengalami kendala karena kondisi medan yang cukup berat sehingga membutuhkan dukungan personel tambahan. Pada Selasa sore, tim tambahan dari masyarakat Tamansatriyan, Tamansari, dan Tlogosari diberangkatkan menuju lokasi untuk membantu proses evakuasi.

"Pada Rabu tadi pukul 06.00 WIB, tim gabungan yang terdiri dari petugas BB TNBTS, Basarnas, masyarakat setempat, dan relawan kembali bergerak menuju lokasi untuk melanjutkan proses evakuasi. Pada waktu yang sama korban mulai dibawa turun dari lokasi ditemukannya menuju posko evakuasi," bebernya.

Rudijanta menjelaskan korban diperkirakan tiba di posko evakuasi pada Rabu siang apabila kondisi cuaca dan medan memungkinkan. Sementara lokasi posko evakuasi berada di rumah warga setempat. "Ambulans dan tenaga kesehatan telah disiagakan di posko evakuasi untuk memberikan penanganan medis awal kepada korban sebelum dirujuk ke rumah sakit terdekat apabila diperlukan," lanjutnya.

3. BB TNBTS minta pendaki tidak menggunakan jalur ilegal untuk mendaki Gunung Semeru

Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)
Kepala BB TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha. (IDN Times/Rizal Adhi Pratama)

Lebih lanjut, Rudijanta menyampaikan jika pihaknya saat ini terus melakukan koordinasi dan pemantauan perkembangan penanganan di lapangan bersama seluruh unsur yang terlibat. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas pendakian melalui jalur tidak resmi maupun memasuki kawasan Gunung Semeru selama penutupan pendakian masih diberlakukan akibat aktivitas vulkanologi Gunung Semeru. Selain melanggar ketentuan yang berlaku, menurutnya aktivitas tersebut berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa dan dapat menyulitkan proses penanganan apabila terjadi keadaan darurat.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa gunung bukan untuk ditaklukkan, melainkan untuk dipelajari dan dihormati. Pendakian mengajarkan kerendahan hati, kesabaran, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap alam yang memiliki karakter dan risikonya sendiri. Keselamatan harus selalu menjadi prioritas utama dalam setiap aktivitas di alam bebas. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mematuhi peraturan, mengikuti informasi resmi dari pengelola kawasan, serta menghormati kebijakan penutupan kawasan demi keselamatan bersama dan kelestarian Taman Nasional Bromo Tengger Semeru," pungkasnya.

Share Article
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More