Kematian ASN Bangkalan, Keluarga: Ada Pria Misterius Terlibat

- Keluarga ASN Bangkalan RYS curiga ada pria misterius terlibat dalam kematian korban, berdasarkan rekaman CCTV yang menunjukkan RYS masuk area parkir bersama seorang laki-laki berkaus biru.
- Hasil autopsi menunjukkan adanya luka akibat benda tumpul dan tanda-tanda mati lemas atau asfiksia, menandakan kematian tidak wajar serta kemungkinan kekerasan sebelum jasad ditemukan di mobil.
- Penyidik menyebut pelaku telah teridentifikasi namun belum mengungkap detailnya, sementara hasil uji toksikologi dari sampel organ tubuh korban masih menunggu dari Laboratorium Forensik Polda Jatim.
Surabaya, IDN Times - Keluarga RYS (50), Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten Bangkalan yang di temukan tewas di parkiran Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Surabaya, mengendus kejanggalan di balik kematian korban. Keluarga menduga, ada seorang laki-laki misterius yang terlibat dalam kematian RYS.
Kuasa Hukum Keluarga RYS, Risang Bima Wijaya mengatakan, kecurigaan keluarga ini berdasarkan hasil rekaman CCTV di sekitar lokasi yang diperlihatkan polisi. Dalam rekaman tersebut, RYS nampak masuk gerbang area parkir bersama laki-laki yang duduk di kemudi.
"Laki-laki itu yang ngambil tiket parkir, di situ tampak sendirian. Tangan kirinya megang setir," ujar Risang, Jumat (26/6/2026).
Dalam rekaman CCTV itu juga, ciri-ciri sosok laki-laki tersebut terlihat jelas. Laki-laki itu menggunakan pakaian warna biru, masker, kacamata dan rambut ikal.
"Di CCTV itu (laki-laki tersebut) pakai jam tangan. Tangan kanannya keluar ngambil tiket. Pakai masker warna putih, berkacamata minus, berkaus warna biru, tidak pakai topi, rambut ikal," terang dia. Sedangkan, rekaman CCTV RYS tidak terlihat.
Kemudian, pada rekaman CCTV di area parkir, pria tersebut keluar dari kendaraan. Setelah tak ada lagi orang keluar dari mobil berwana hitam itu.
"Hanya diinformasikan, ketika di parkiran itu tidak ada yang keluar dari kursi penumpang. Yang keluar hanya orang itu saja, satu itu," ungkapnya.
Setelah keluar dari mobil, pria tersebut diduga meninggalkan bandara Juanda menggunakan taksi. "Dia turun, berpindah ke taksi," katanya
Selain itu, keluarga juga menduga, sejak awal posisi jok penumpang memang sengaja direbahkan agar tubuh korban tidak terlihat. "Tempat ditemukannya mayat (RYS) itu, posisi tempat ditemukan itu tidak terlihat. Berarti memang dari awal sudah direbahkan joknya (oleh pelaku) sehingga tidak kelihatan," ucapnya.
Tak hanya itu, keluarga mengungkap bahwa perhiasan milik korban berupa gelang dan kalung tak ditemukan ketika jenazah diautopsi. Sementara anting milik korban sebelah kiri juga lepas. Keluarga hanya menerima cincin dan anting sebelah kanan dari polisi.
"Waktu keluar dipakai dan waktu video call sebelum lost contact masih kelihatan dipakai. Tidak ada waktu ditemukan. Saat autopsi, yang diserahkan ke keluarga hanya anting kanan dan cincin di sebelah kiri," ujarnya.
Kemudian, barang-barang lain berupa dompet dan ponsel korban masih ada. Ponsel tersebut diduga menjadi petunjuk kematian korban. "Karena pasti ditemukan nomor yang paling dihubungi pada tanggal itu atau dalam satu minggu terakhir," jelas Risang.
Berdasarkan rangakaian penyelidikan yang ada, keluarga meyakini, RYS diduga tidak tewas di Parkiran Bandara Juanda. Tempat tersebut hanya digunakan untuk meletakkan mayat korban.
Di samping itu, berdasarkan hasil autopsi, keluarga meyakini bahwa RYS meninggal karena karena ada indikasi kekerasan. "Ada indikasi kekerasan dan indikasi kematian yang tidak wajar. Diungkapkan di situ lazim ditemukan pada korban mati lemas, kekurangan oksigen, asfiksia," kata Risang.
Penyidik juga telah memberitahu keluarga bahwa pelaku telah diidentifikasi. Tetapi, kepolisian belum bisa menyampaikan detail. "Kabarnya hanya mengatakan sudah teridentifikasi gitu saja," ujarnya.
Sebelumnya, ASN Pemkab Bangkalan berinisial RYS (50), yang ditemukan meninggal di dalam mobil di area parkir Terminal 1 Bandara Internasional Juanda, Rabu (26/6/2025). Polisi telah menyelidiki penyebab kematian korban.
Tim forensik menemukan luka akibat benturan benda tumpul serta tanda-tanda yang lazim dijumpai pada kasus kematian akibat mati lemas atau asfiksia.
Ketua Tim Humas Rumah Sakit Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, AKBP Ni Made Wiatini mengatakan, pada pemeriksaan luar ditemukan luka robek di cuping telinga kiri korban yang disebabkan kekerasan benda tumpul. "Ditemukan luka robek pada cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul," ujarnya, Kamis (26/6/2026).
Selain itu, tim dokter forensik menemukan pelebaran pembuluh darah pada kedua selaput lendir kelopak mata serta kebiruan pada selaput lendir bibir atas dan bawah. "Kelainan ini lazim ditemukan pada mati lemas atau karena asfiksia," kata Ni Made.
Pada pemeriksaan organ dalam, tim forensik juga mendapati lidah, epiglotis dan saluran napas bagian atas berwarna merah kehitaman. Kondisi serupa ditemukan pada dinding lambung korban. Sementara itu, pembusukan telah terjadi pada seluruh organ tubuh sehingga menyulitkan penentuan penyebab kematian secara langsung.
Berdasarkan hasil autopsi, korban diperkirakan telah meninggal lebih dari dua kali 24 jam atau sekitar dua hingga tiga hari sebelum jasadnya ditemukan di dalam mobil yang terparkir di Bandara Juanda.
Meski ditemukan luka akibat benda tumpul, tim forensik belum dapat menyimpulkan bagaimana mekanisme terjadinya kekerasan tersebut. "Kami hanya menemukan luka robek pada cuping telinga kiri akibat kekerasan benda tumpul. Mengenai bagaimana terjadinya kekerasan itu belum bisa kami sampaikan," jelas Ni Made.
Tim dokter juga meluruskan dugaan awal mengenai kondisi perut korban yang tampak membesar. Setelah dilakukan pemeriksaan internal, dipastikan korban tidak sedang hamil. "Terkait dugaan perut membesar, setelah dilakukan pemeriksaan dalam ternyata korban dinyatakan tidak hamil," katanya.
Sementara itu, hasil pemeriksaan swab vagina menunjukkan tidak ditemukan sperma. Untuk memastikan penyebab kematian, tim forensik telah mengambil sampel ginjal kanan dan kiri, lambung beserta isinya, serta kuku telunjuk kanan dan kiri untuk menjalani uji toksikologi di Laboratorium Forensik Polda Jatim.
"Hasil toksikologi masih kami tunggu. Sampel sudah dikirim ke Laboratorium Forensik dan diperkirakan hasilnya keluar sekitar satu minggu," pungkas Ni Made.
















