Populasi Ikan Dewa Sisa 20 Persen, Dulu Digadang Jadi Ikon Magetan

- Populasi ikan dewa di Telaga Sarangan tinggal sekitar 20 persen akibat serangan ikan predator invasif dan praktik pemancingan liar meski sudah ada larangan pemerintah.
- Ikan dewa memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi wisata besar, namun upaya budidaya belum berjalan karena fokus pemerintah masih pada konservasi populasi yang terus menurun.
- Pemerintah Magetan belum berani menebar benih baru dan memilih memperkuat pengawasan serta sosialisasi larangan memancing demi menyelamatkan sisa populasi ikan dewa.
Magetan, IDN Times – Tujuh tahun lalu, ribuan benih ikan dewa (Tor soro) ditebar di Telaga Sarangan dengan harapan menjadi ikon baru Kabupaten Magetan. Selain untuk menyelamatkan spesies asli Indonesia yang terancam punah, ikan bernilai ekonomi tinggi itu juga diproyeksikan menjadi daya tarik wisata hingga komoditas unggulan daerah.
Namun, harapan tersebut belum menjadi kenyataan. Populasi ikan dewa di Telaga Sarangan justru menyusut drastis. Dari sekitar 10 ribu benih yang ditebar pada 2019, kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 20 persen.
1. Populasi anjlok, dimangsa predator dan dipancing

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magetan, Nur Haryani, mengatakan penyebab utama menurunnya populasi ikan dewa adalah banyaknya ikan predator invasif di Telaga Sarangan. Selain itu, praktik pemancingan liar juga masih menjadi ancaman meski pemerintah telah melarang penangkapan ikan dewa.
"Tinggal sekitar 20 persen dari yang kita tebar pada 2019. Kendalanya karena dimangsa ikan predator dan juga dipancing," ujarnya Kumar (26/6/2026).
Selain di Telaga Sarangan, ikan dewa juga masih ditemukan di kawasan mata air Sumber Dodol, Kecamatan Panekan. Namun jumlahnya diperkirakan hanya sekitar seribu ekor.
2. Potensi ekonomi besar, tetapi belum berhasil dimanfaatkan

Ikan dewa dikenal memiliki nilai jual tinggi dan kandungan gizi yang baik. Di sejumlah daerah, ikan ini bahkan telah menjadi menu unggulan restoran.
Ironisnya, di Magetan belum ada masyarakat yang membudidayakan ikan dewa untuk konsumsi. Menurut Nur Haryani, kondisi tersebut karena pemerintah masih memprioritaskan upaya konservasi mengingat populasinya terus menurun.
Padahal, saat penebaran benih dilakukan pada 2019, pemerintah pusat menyebut ikan dewa bukan hanya penting untuk konservasi, tetapi juga berpotensi menjadi komoditas budidaya bernilai ekonomis tinggi sekaligus memperkuat daya tarik wisata Telaga Sarangan.
3. Belum berani menebar benih lagi

Alih-alih menambah populasi di Telaga Sarangan, Pemerintah Kabupaten Magetan justru belum berani melakukan penebaran benih baru. Keberadaan ikan invasif dinilai masih menjadi ancaman serius sehingga dikhawatirkan hasilnya akan kembali sia-sia.
Sebagai langkah penyelamatan, Disnakan akan mengaktifkan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas), memperkuat sosialisasi larangan pemancingan ikan dewa, serta mempertimbangkan penebaran benih di perairan umum daratan yang memiliki karakteristik habitat serupa.
Keputusan itu menunjukkan bahwa pekerjaan rumah konservasi ikan dewa di Magetan masih panjang. Program yang semula diharapkan melahirkan ikon baru daerah kini lebih banyak berkutat pada upaya menyelamatkan populasi yang tersisa.
Bila persoalan predator dan lemahnya perlindungan habitat tak segera teratasi, ikan dewa bukan hanya gagal menjadi komoditas unggulan Magetan, tetapi juga berisiko kembali menjadi spesies yang semakin sulit dijumpai di habitat alaminya.
















