Di Balik Foto Wisuda, Air Mata Ibu yang Mengantar Mimpi Terakhir Linda

- Upacara wisuda Unesa diwarnai momen haru ketika ibu Linda Ayu Tivani naik ke panggung membawa foto putrinya yang telah meninggal sebelum sempat menerima ijazah.
- Linda berjuang menyelesaikan kuliah meski sakit parah dan merahasiakan kondisinya agar tidak membebani keluarga, hingga akhirnya meninggal pada Mei 2026.
- Pihak kampus mengungkap Linda penerima beasiswa dan memberikan beasiswa baru kepada adiknya, Carolin, sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan serta dedikasi mendiang Linda.
Surabaya, IDN Times - Di antara ratusan toga yang memenuhi Graha Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Kamis (25/6/2026), seorang ibu melangkah perlahan menuju panggung sambil memeluk erat sebuah foto. Bukan ijazah yang ia genggam, melainkan potret putri sulungnya, Linda Ayu Tivani (22), yang seharusnya berdiri di sana mengenakan toga. Suasana ruang wisuda yang semula riuh tepuk tangan mendadak sunyi.
Kartiwi berusaha tegar. Namun air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya tumpah ketika Rektor Unesa, Prof. Nurhasan, menyampaikan belasungkawa di hadapan ribuan tamu. "Kami mengucapkan duka cita. Mudah-mudahan Allah memberikan tempat terbaik untuk adik Linda," ucap Nurhasan, sebelum mengajak seluruh wisudawan memanjatkan doa.
Hari itu seharusnya menjadi puncak perjuangan Linda setelah bertahun-tahun menempuh pendidikan di Program Studi Ekonomi. Namun takdir berkata lain. Penyakit yang diam-diam menggerogoti tubuhnya membuat Linda berpulang lebih dulu sebelum sempat menerima ijazah.
Di balik senyum dalam foto yang dipeluk sang ibu, tersimpan kisah tentang seorang anak yang memilih memendam rasa sakit demi tidak membebani keluarganya. "Dia itu terlalu pendiam. Kalau sakit enggak pernah cerita. Semua dipendam sendiri. Dia enggak mau merepotkan orang tua," tutur Kartiwi.
Semuanya bermula ketika mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu mengeluhkan kondisi tubuhnya. Hasil pemeriksaan awal belum menunjukkan sesuatu yang mengkhawatirkan. Dokter hanya mengeluarkan sekitar 250 mililiter cairan dari tubuhnya. Namun, sebulan kemudian kondisinya justru memburuk. Saat dibawa kembali ke rumah sakit, paru-parunya dipenuhi cairan dalam jumlah yang jauh di luar normal.
"Dokternya bilang biasanya tiga sampai empat liter. Ini hampir enam liter. Warnanya hitam sekali. Saya juga kaget. Anak saya enggak pernah sakit, kok bisa separah ini," kenangnya.
Meski tubuhnya semakin lemah, Linda tetap bersikeras menyelesaikan revisi jurnal sebagai syarat kelulusan. Sang ibu berkali-kali memintanya mengambil cuti kuliah agar fokus menjalani pengobatan. "Saya bilang, cuti saja. Nambah satu semester enggak apa-apa. Nanti cari uang lagi buat bayar UKT. Tapi dia enggak mau," katanya.
Bahkan, setelah sempat menjalani operasi dan kondisinya membaik, harapan itu hanya bertahan beberapa hari. Linda kembali sesak napas. Kartiwi berusaha mencari tabung oksigen. "Disuruh sewa, tapi enggak dapat. Akhirnya saya beli. Mahal enggak apa-apa, yang penting anak saya bisa ditolong," ujarnya.
Namun pada 26 Mei 2026 pagi, napas Linda tak lagi bisa diselamatkan. Kepergian Linda ternyata menyisakan kisah lain yang baru diketahui keluarganya. Selama kuliah, ia ternyata memperoleh beasiswa dari Unesa. Kartiwi baru mengetahuinya ketika hendak membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).
"Pas mau bayar kok di bank muncul sudah lunas. Saya bingung, siapa yang bayar. Ternyata dari kampus dijelaskan kalau Linda dapat beasiswa. Saya baru tahu saat itu," katanya.
Bagi keluarga yang hidup sederhana, beasiswa itu menjadi penolong besar agar Linda bisa menyelesaikan pendidikan. Kini, harapan keluarga bertumpu kepada putri bungsunya, Carolin Anjelin Valeta (16), yang masih duduk di bangku SMA. Tanpa diduga, di atas panggung wisuda itu pula, Rektor Unesa memberikan beasiswa kuliah kepada Carolin agar kelak bisa melanjutkan pendidikan seperti sang kakak.
Kartiwi kembali menangis. Kali ini bukan hanya karena kehilangan, tetapi juga karena merasa perjuangan Linda meninggalkan jalan bagi adiknya. "Terima kasih. Saya senang sekali. Semoga adiknya bisa melanjutkan seperti kakaknya," ucapnya lirih. Hari itu, Linda memang tak pernah mengenakan toga. Namun namanya tetap dipanggil.
















