Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kemarau Mulai Hantam Jatim, Ratusan Warga Bondowoso Krisis Air

Kemarau Mulai Hantam Jatim, Ratusan Warga Bondowoso Krisis Air
Droping air bersih oleh BPBD. Dok. BPBD.
Intinya Sih
  • Ratusan warga di Desa Klekean, Bondowoso mengalami krisis air bersih akibat sumber air mengering, BPBD menyalurkan 10 ribu liter air untuk tiga dusun terdampak.
  • BPBD Jatim menyebut kekeringan ini sebagai tanda awal kemarau panjang dipicu fenomena El Nino ekstrem yang berpotensi berlangsung hingga November 2026.
  • Pemerintah Jatim memetakan 815 desa rawan kekeringan dan menyiapkan mitigasi darurat seperti distribusi air, pembangunan tandon, serta edukasi penghematan sebelum puncak kemarau Agustus mendatang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bondowoso, IDN Times - Ancaman kemarau ekstrem mulai menghantam Jawa Timur (Jatim). Ratusan warga di Desa Klekean, Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso kini mulai kesulitan mendapatkan air bersih akibat sumber air yang mengering.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama BPBD Bondowoso pun turun tangan dengan mengirim bantuan 10 ribu liter air bersih ke wilayah terdampak sejak Senin (11/5/2026).

Distribusi air dilakukan menggunakan dua truk tangki BPBD Bondowoso untuk memenuhi kebutuhan warga di tiga dusun terdampak, yakni Dusun Banteng Lor, Dusun Sumber Waru dan Dusun Banteng Duk Beto.

Total ada sekitar 140 kepala keluarga (KK) yang mulai terdampak krisis air bersih akibat musim kemarau. “Droping air tersebut atas permintaan desa,” ujar Ketua Tim Pusat Data dan Informasi BPBD Jatim, Muhammad Amrul, Rabu (13/5/2026).

BPBD menyebut kondisi kekeringan di Bondowoso menjadi alarm awal ancaman kemarau panjang di Jatim tahun ini. Terlebih, BMKG memprediksi fenomena El Nino bakal lebih kuat dan memicu musim kemarau lebih panas serta berkepanjangan hingga November 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto mengatakan pihaknya telah meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman kekeringan ekstrem atau yang disebut sebagai fenomena “Godzilla El Nino”.

“Fenomena El Nino tahun ini diprediksi lebih kuat atau ekstrem. Dampaknya suhu lebih panas dan periode kemarau lebih panjang. Ini tentu meningkatkan risiko kekeringan signifikan,” kata Gatot.

BPBD Jatim sendiri telah memetakan sedikitnya 815 desa di 222 kecamatan yang tersebar di 26 kabupaten berpotensi mengalami krisis air bersih selama musim kemarau tahun ini.

Mayoritas wilayah rawan kekeringan merupakan daerah tadah hujan dengan minim infrastruktur air permanen. Pemprov Jatim kini menyiapkan langkah mitigasi darurat agar dampak kekeringan tidak meluas.

Distribusi air bersih menjadi prioritas utama untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. “Distribusi air bersih jadi prioritas utama. Kami tidak ingin masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dasar harian,” tegas Gatot.

Selain droping air, BPBD juga mendorong pemerintah daerah mempercepat pembangunan tandon air, optimalisasi sumber air lokal dan edukasi penghematan air kepada masyarakat sebelum puncak kemarau terjadi pada Agustus mendatang.

Hingga laporan terakhir, kondisi cuaca di wilayah Bondowoso terpantau berawan. Aparat BPBD, TNI, Polri hingga pemerintah kecamatan dan desa masih bersiaga di lokasi terdampak kekeringan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More