Godzilla El Nino Ancam Jatim, 815 Desa Siaga Kekeringan
- BPBD Jatim memproyeksikan 815 desa di 26 kabupaten berpotensi terdampak kekeringan akibat fenomena kuat ‘Godzilla El Nino’ yang diprediksi berlangsung April hingga November 2026.
- Pemerintah daerah menyiapkan distribusi air bersih menggunakan truk tangki dan memetakan wilayah prioritas agar bantuan tepat sasaran selama musim kemarau ekstrem.
- Langkah mitigasi dilakukan lewat optimalisasi sumber air, pembangunan tandon, edukasi hemat air, serta koordinasi lintas sektor untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi krisis.
Surabaya, IDN Times - Jawa Timur (Jatim) bersiap menghadapi ancaman kemarau ekstrem 2026 akibat fenomena El Nino kuat yang kerap dijuluki “Godzilla El Nino”. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim memproyeksikan sebanyak 815 desa di 222 kecamatan pada 26 kabupaten berpotensi terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengatakan musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panas dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau dimulai April, puncaknya Agustus, dan bisa berlangsung hingga November. Suhu yang lebih panas ini meningkatkan risiko krisis air bersih secara signifikan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Menurut Gatot, ratusan desa yang terancam kekeringan umumnya berada di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi, terutama daerah yang mengandalkan sumber air tadah hujan dan memiliki keterbatasan infrastruktur air bersih.
Untuk mengantisipasi dampak tersebut, BPBD Jatim tengah menyiapkan skema distribusi air bersih menggunakan truk tangki ke wilayah-wilayah rawan. Penyaluran akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
"Distribusi air bersih menjadi prioritas utama. Kami akan memetakan wilayah yang membutuhkan penanganan segera agar bantuan tepat sasaran,” tegasnya.
Selain itu, BPBD Jatim bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait akan menggelar rapat koordinasi lintas sektor yang dipimpin langsung oleh Gubernur Jatim. Rapat ini bertujuan memastikan kesiapan seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana kekeringan.
Tak hanya penanganan darurat, langkah mitigasi juga disiapkan melalui optimalisasi sumber air, pembangunan tandon, serta edukasi kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Gatot menekankan pentingnya peran masyarakat dalam menghadapi ancaman kekeringan, termasuk dengan mulai menampung air sejak dini dan menggunakan air secara bijak.
"Kesadaran masyarakat menjadi kunci. Jika kita bisa mengelola air dengan baik sejak awal, maka dampak kekeringan bisa diminimalisir,” katanya.
Sebagai informasi, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang berdampak pada berkurangnya curah hujan di Indonesia. Dalam kondisi ekstrem, fenomena ini dapat memicu kemarau panjang, penurunan produksi pertanian, hingga krisis air bersih.
Pemprov Jatim pun menegaskan komitmennya untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman tersebut melalui sinergi lintas sektor. “Yang terpenting adalah kesiapsiagaan. Kami ingin memastikan seluruh pihak siap agar masyarakat tetap terlindungi meski menghadapi kemarau ekstrem,” pungkas Gatot.


















