Geopolitik Memanas dan Ancaman Godzilla El Nino, HKTI Siapkan Ini

- HKTI Jatim menyiapkan langkah adaptif menghadapi dampak konflik global dan ancaman Godzilla El Nino yang mengancam sektor pertanian, terutama terkait pasokan BBM dan kekeringan ekstrem.
- Sebagai solusi, HKTI mendorong penggunaan pompa air tenaga surya untuk mengatasi keterbatasan BBM serta menjaga ketersediaan air di tengah kemarau panjang dan infrastruktur irigasi yang rusak.
- HKTI menekankan pentingnya dukungan pemerintah dalam penyediaan teknologi tepat guna, akses pupuk dan modal, serta melihat peluang dari program Makan Bergizi Gratis untuk memperkuat ekosistem pertanian berkelanjutan.
Surabaya, IDN Times – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur (Jatim) menyiapkan sejumlah langkah adaptif untuk menghadapi tekanan geopolitik global yang memanas, mulai dari konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel hingga ancaman kekeringan ekstrem atau “Godzilla El Nino” yang berpotensi mengganggu sektor pertanian.
Ketua HKTI Jatim, Arum Sabil, mengatakan dampak konflik global mulai dirasakan, terutama pada sektor energi yang berimbas langsung pada aktivitas pertanian. Kenaikan dan potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dinilai menjadi ancaman serius bagi petani.
“Yang kita khawatirkan adalah BBM. Sekarang di beberapa SPBU sudah mulai antre, sementara pertanian tidak boleh berhenti,” ujarnya usai bertemu Gubernur Khofifah Indar Parawansa di Grahadi, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, sebagian besar alat pertanian seperti traktor dan pompa air masih bergantung pada BBM. Padahal, di tengah ancaman kemarau panjang, kebutuhan air menjadi semakin krusial bagi keberlangsungan produksi pangan.
Sebagai solusi, HKTI mendorong pemanfaatan energi alternatif melalui inovasi pompa air tenaga surya. Teknologi ini dinilai mampu menjadi jalan keluar di tengah keterbatasan BBM sekaligus menjawab tantangan krisis air.
“Kami dorong inovasi irigasi tenaga surya. Air itu nadi pertanian. Kalau BBM sulit, harus ada solusi lain,” tegas Arum.
Ia menjelaskan, penggunaan pompa air berbasis solar cell sudah mulai diuji coba oleh petani, termasuk dikembangkan dalam bentuk portabel yang dapat digunakan secara bergantian oleh kelompok tani.
Selain itu, HKTI juga menyoroti persoalan klasik yang semakin kompleks, yakni menurunnya debit air dan rusaknya infrastruktur irigasi akibat alih fungsi lahan. Banyak lahan pertanian kini bergantung pada sistem tadah hujan yang rentan terhadap perubahan iklim ekstrem.
“Air sebenarnya ada, tapi debitnya kecil. Untuk mengangkatnya butuh pompa. Ini yang jadi tantangan utama,” jelasnya.
Tak hanya soal air dan energi, HKTI juga menekankan pentingnya akses pupuk tepat waktu serta kemudahan pembiayaan bagi petani melalui perbankan. Menurut Arum, tiga faktor utama yang menentukan keberhasilan pertanian saat ini adalah ketersediaan air, pupuk, dan modal.
HKTI pun berharap pemerintah dapat memberikan dukungan konkret, khususnya dalam pengadaan teknologi tepat guna bagi kelompok tani. Bantuan tersebut diharapkan tidak hanya berupa alat, tetapi juga disertai pendampingan agar bisa berkelanjutan.
“Kalau ada program pemberdayaan, berikan langsung ke kelompok tani, tapi juga dibimbing agar bisa dirawat dan dimanfaatkan jangka panjang,” katanya.
Di sisi lain, HKTI juga melihat peluang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari ekosistem pertanian. Petani dapat menjadi pemasok bahan pangan, sementara limbah dapur MBG bisa diolah menjadi pupuk organik atau biogas.
“Ini simbiosis mutualisme. Limbahnya bisa jadi pupuk atau energi, sehingga berdampak ke lingkungan dan ekonomi,” katanya.



















