Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gabah Tembus Rp7.600/Kg, Harga Beras Premium Jatim Tertekan
Ilustrasi pekerja menjemur gabah. (ANTARA FOTO/Putra M Akbar)
  • Harga gabah kering panen di Jatim mencapai Rp7.000-Rp7.600 per kilogram, mendorong beras premium bertahan di atas HET Rp14.900 per kilogram.
  • Pemprov Jatim dan Bapanas akan mengkaji ulang HET beras premium; pasokan beras medium tetap melimpah dan program SPHP disiapkan bila harga atau pasokan bergejolak.
  • Surplus beras Jatim hingga Agustus mencapai 1,8 juta ton, sementara AUTP Rp1,2 miliar disiapkan untuk melindungi sekitar 3.000 hektare lahan dari gagal panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Juli hingga Agustus

Tanaman padi yang ditanam pada periode ini diproyeksikan memasuki masa panen pada Desember, dengan volume yang tidak terlalu besar.

Hingga Agustus

Surplus beras Jawa Timur mencapai 1,8 juta ton. Sebagian surplus disalurkan untuk menopang kebutuhan pangan daerah lain, terutama Indonesia Timur.

hingga Oktober

Akumulasi produksi Gabah Kering Giling Jawa Timur mencapai sekitar 9 juta ton.

Oktober hingga Desember

Masa tanam pada periode ini akan menjadi sumber panen raya berikutnya.

Desember mendatang

Tanaman yang ditanam pada Juli hingga Agustus diproyeksikan dipanen.

hingga akhir tahun

Pemerintah daerah optimistis target produksi tahunan sebesar 12,4 juta ton GKG dapat terealisasi.

Februari hingga Maret

Panen raya berikutnya diperkirakan berlangsung dari tanaman yang ditanam pada Oktober hingga Desember.

saat ini

Harga gabah kering panen di tingkat petani Jawa Timur menembus Rp7.000 hingga Rp7.600 per kilogram dan menekan harga beras premium di atas HET Rp14.900 per kilogram. Pemprov Jatim bersama Bapanas akan mengkaji ulang HET beras premium.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Harga gabah kering panen di Jawa Timur mencapai Rp7.000–Rp7.600 per kilogram, menekan harga beras premium yang bertahan di atas HET Rp14.900 per kilogram.
  • Who?
    Petani, produsen beras, konsumen beras premium, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Pangan Nasional, dan Kepala Dinas Pertanian Jatim Heru Suseno terlibat dalam situasi ini.
  • Where?
    Situasi harga terjadi di Jawa Timur, dengan surplus beras daerah juga disalurkan untuk mendukung kebutuhan pangan kawasan Indonesia Timur.
  • When?
    Hingga Agustus, surplus beras Jawa Timur mencapai 1,8 juta ton. Proyeksi produksi GKG hingga Oktober sekitar 9 juta ton, sementara panen berikutnya diperkirakan pada Desember serta Februari–Maret.
  • Why?
    Harga gabah yang tinggi meningkatkan biaya bahan baku produsen, sehingga harga beras premium sulit berada dalam batas HET yang berlaku.
  • How?
    Pemprov Jatim dan Bapanas akan mengkaji ulang HET beras premium. Jika pasokan atau harga beras medium bergejolak, beras SPHP akan disalurkan melalui pasar tradisional dan ritel modern.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Harga gabah di Jawa Timur naik sampai Rp7.600. Jadi beras premium jadi mahal dan di atas harga batas pemerintah. Pak Heru bilang pemerintah mau melihat lagi harga batas itu. Beras medium masih banyak, jadi orang tidak perlu takut. Jawa Timur punya banyak beras untuk daerahnya dan daerah lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Di tengah tekanan harga beras premium, kondisi pangan Jawa Timur menunjukkan fondasi yang relatif kuat. Produksi yang tetap tinggi, surplus 1,8 juta ton, serta pasokan beras medium yang melimpah memberi ruang bagi stabilitas kebutuhan masyarakat. Pemerintah juga menyiapkan penyesuaian kebijakan harga, intervensi pasokan, dan perlindungan asuransi bagi petani.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Jawa Timur (Jatim) yang menembus Rp7.000 hingga Rp7.600 per kilogram mulai menekan harga beras premium di pasaran. Tingginya biaya bahan baku membuat harga beras premium bertahan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga pemerintah bersiap mengkaji ulang batas harga yang saat ini ditetapkan Rp14.900 per kilogram.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Jatim, Heru Suseno mengatakan, kenaikan ini terutama terjadi pada beras premium yang mayoritas dikonsumsi masyarakat kelas menengah ke atas. Karena segmen konsumennya relatif terbatas, kenaikan harga beras premium dinilai belum menimbulkan gejolak besar terhadap masyarakat secara umum.

“Beras premium itu konsumsi kalangan menengah ke atas. Problem di pasaran tidak terlalu menonjol karena jumlah konsumennya terbatas. Namun, karena harganya terus berada di atas HET akibat tingginya harga gabah, hal ini menjadi bahasan khusus untuk dikaji,” ujarnya.

Heru membeberkan, persoalan utamanya berada pada struktur biaya produksi. Harga gabah yang tinggi membuat produsen beras menghadapi biaya bahan baku yang lebih besar. Jika HET tidak menyesuaikan kondisi biaya produksi, harga beras premium di tingkat pasar akan sulit berada dalam batas yang ditetapkan pemerintah.

Pemprov Jatim bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) akan mengkaji kembali HET beras premium. “Harga gabah kering panen diprediksi sulit turun. Walaupun dalam kondisi panen. Jadi HET beras premium harus ada perubahan,” ungkapnya.

Meski harga beras premium mengalami tekanan, Heru meminta masyarakat tidak mengkhawatirkan ketersediaan pangan. Pasokan beras medium di Jatim disebut masih melimpah dan distribusinya relatif merata.

Jika terjadi gejolak pasokan maupun harga pada beras medium, pemerintah menyiapkan intervensi melalui program Beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Beras tersebut dapat segera digelontorkan melalui pasar tradisional maupun ritel modern untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga.

Di tengah kenaikan harga gabah, Jatim justru mencatat produksi beras yang tetap tinggi. Hingga Agustus, surplus beras Jatim disebut mencapai 1,8 juta ton. Sebagian surplus tersebut bahkan disalurkan untuk menopang kebutuhan pangan daerah lain, terutama untuk mendukung pemenuhan logistik di kawasan Indonesia Timur.

“Jadi masyarakat tidak perlu khawatir dengan ketersediaan beras. Stok kita masih ada dan produksi juga berjalan,” kata Heru.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Oktober, akumulasi produksi Gabah Kering Giling (GKG) Jatim telah mencapai sekitar 9 juta ton. Pemerintah daerah optimistis target produksi tahunan sebesar 12,4 juta ton GKG dapat terealisasi hingga akhir tahun.

Heru mengatakan produksi masih akan bertambah dari sejumlah periode tanam berikutnya. Tanaman yang ditanam pada Juli hingga Agustus diproyeksikan memasuki masa panen pada Desember, meski volumenya tidak terlalu besar.

Sementara panen raya berikutnya diperkirakan berlangsung pada Februari hingga Maret, berasal dari masa tanam Oktober hingga Desember. “Tanam periode Juli–Agustus akan dipanen pada Desember mendatang, meski jumlahnya tidak terlalu besar. Panen raya berikutnya diperkirakan terjadi pada Februari hingga Maret, hasil dari masa tanam Oktober–Desember,” jelasnya.

Tingginya produksi, lanjut Heru, juga menjadi alasan pemerintah tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Heru membantah anggapan bahwa pemerintah saat ini tengah memprioritaskan ekspor beras ke negara tetangga, termasuk Malaysia.

Menurut dia, kebijakan Kementerian Pertanian masih diarahkan untuk memastikan kebutuhan pangan nasional terpenuhi terlebih dahulu, termasuk menjaga cadangan untuk bantuan kemanusiaan.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyiapkan perlindungan bagi petani menghadapi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem. Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebesar Rp1,2 miliar.

Anggaran tersebut diproyeksikan dapat memberikan perlindungan terhadap sekitar 3.000 hektare lahan pertanian yang terdampak risiko gagal panen. Heru mengimbau petani yang telah terdaftar dalam program AUTP segera mengajukan klaim apabila mengalami gagal panen sesuai ketentuan program.

“Dana AUTP sudah kami siapkan. Namun, sampai saat ini belum ada petani yang melakukan pengajuan,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article