Disnakan Ngawi Kesulitan Tangani Sapi Mati Mendadak

Ngawi, IDN Times – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Ngawi kian mengkhawatirkan. Dalam sepekan terakhir, jumlah sapi yang mati mendadak terus bertambah, dari 35 ekor kini menjadi lebih dari 40. Sebanyak 277 ekor sapi dilaporkan terjangkit PMK, memicu keresahan peternak dan pedagang sapi di daerah tersebut.
1. Harga sapi anjlok, peternak merugi

Fenomena kematian mendadak sapi pertama kali dilaporkan pada Minggu (29/12/2024) di Desa Jenggrik, Kecamatan Kedunggalar. Kasus serupa ditemukan di Desa Macanan, Kecamatan Jogorogo, dan terus meluas hingga ke Kecamatan Paron, seperti di Desa Gelung dan Jeblokan, di mana dua ekor sapi bernilai belasan juta rupiah mati pada hari ini Senin (30/12/2024).
Dampak PMK ini tidak hanya menguras emosi peternak tetapi juga melumpuhkan pasar hewan. Pedagang mengeluhkan harga sapi yang terjun bebas dan minimnya pembeli. Lanjar, salah satu pedagang sapi, menceritakan penurunan omzetnya hingga 70 persen.
“Sejak wabah ini, harga sapi turun drastis. Saya bawa tiga ekor sapi ke pasar, tapi semuanya tidak laku,” ujar Lanjar.
2. PMK meluas ke enam kecamatan

Menurut data Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi, PMK telah menyebar ke enam kecamatan, yakni Bringin, Geneng, Gerih, Karanganyar, Pitu, dan Paron. Untuk menekan penyebaran, pemerintah mulai melakukan penyekatan di pasar-pasar hewan.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Ngawi, Eko Yudo Nurcahyo, menyatakan bahwa sapi yang sakit tidak diizinkan masuk pasar. “Hingga saat ini, ada 277 sapi yang terinfeksi PMK, dan 40 di antaranya telah mati,” jelas Eko.
3. Krisis vaksin

Namun, upaya pencegahan ini terganjal ketersediaan vaksin. Stok vaksin PMK dilaporkan sudah kedaluwarsa, membuat pemerintah kesulitan menanggulangi wabah. Para peternak berharap solusi cepat dari pemerintah agar kerugian yang mereka alami tidak semakin membesar. Wabah PMK di Ngawi tidak hanya menghantam sektor ekonomi peternakan, tetapi juga memicu kekhawatiran akan penyebaran lebih luas jika tidak segera ditangani dengan langkah konkret.

















