Jatim Gandeng Maroko, Beasiswa Ikut Dibahas

- Pemprov Jawa Timur dan Kerajaan Maroko membahas perluasan kerja sama di perdagangan, manufaktur, pertanian, perikanan, pendidikan, serta pengembangan Smart City.
- Gubernur Khofifah menyebut pertemuan dengan Dubes Maroko Redouane Houssaini sebagai langkah awal penguatan hubungan strategis Jawa Timur dan Maroko.
- Maroko menawarkan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia serta mendorong penyusunan MoU pendidikan, di tengah pembahasan kemitraan ekonomi, budaya, dan tata kerja sama.
Surabaya, IDN Times – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan Kerajaan Maroko. Mulai dari sektor perdagangan, industri manufaktur, pertanian, perikanan, pendidikan hingga pengembangan Smart City menjadi fokus pembahasan dalam pertemuan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dengan Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Senin (3/8/2026).
Khofifah mengatakan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk memperkuat hubungan strategis antara Jawa Timur dan Maroko yang selama ini telah terjalin baik melalui hubungan bilateral Indonesia-Maroko. "Kami membahas banyak sektor strategis, mulai perdagangan, industri manufaktur, pertanian, perikanan, pendidikan, termasuk peluang beasiswa ke Maroko dan berbagai kerja sama lainnya," ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, hubungan Indonesia dan Maroko memiliki akar sejarah yang panjang sejak Konferensi Asia Afrika. Bahkan Presiden Soekarno pernah melakukan kunjungan ke Kerajaan Maroko pada 1960 sebagai bagian dari penguatan hubungan kedua negara.
Ia juga menyoroti sejarah panjang peradaban Maroko, khususnya di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Khofifah menyebut Maroko memiliki perguruan tinggi tertua di dunia yang didirikan oleh seorang perempuan, menjadi bukti tingginya tradisi intelektual di negara tersebut.
"Perempuan hebat Maroko mendirikan masjid sekaligus perguruan tinggi tertua di dunia. Sejak ratusan tahun lalu perempuan di Maroko sudah memiliki intelektualitas yang sangat tinggi. Pemberdayaan perempuan di sana sudah berlangsung sangat lama dan berkembang dengan baik," katanya.
Sementara itu, Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, menyatakan kunjungannya ke Grahadi difokuskan untuk membahas langkah konkret memperkuat kemitraan dengan Jatim.
"Kami mendiskusikan kerja sama Maroko dengan Jawa Timur di bidang ekonomi, budaya, pendidikan, partnership, dan smart city. Kami juga membahas tata kerja sama ke depan agar menjadi kerja sama yang saling menguntungkan," katanya.
Redouane menilai Indonesia dan Maroko memiliki kedekatan budaya yang menjadi modal penting untuk memperluas kolaborasi. Karena itu, pihaknya juga menawarkan peluang beasiswa bagi mahasiswa Indonesia sekaligus mendorong pengembangan nota kesepahaman (MoU) di sektor pendidikan.
"Kami memiliki ikatan budaya yang sangat erat. Ke depan kami akan memperdalam kerja sama di bidang ekonomi, kebudayaan, dan pendidikan. Kami juga menawarkan program beasiswa dan akan mengembangkan MoU yang sudah dibahas," pungkasnya.



















