Guru Ngaji Sekolah Rakyat Digaji Rp500 Ribu, Andalkan Dana Zakat

- Guru ngaji di Sekolah Rakyat Jawa Timur menerima honor Rp500 ribu per bulan dari UPZ Dinas Sosial Jatim, bukan anggaran pusat maupun APBD.
- Pada masa perintisan, guru ngaji mengajar dua kali seminggu; kebutuhan tenaga pengajar akan dievaluasi setelah jumlah murid meningkat dan program memasuki tahap permanen.
- Pemprov Jatim menggandeng organisasi keagamaan serta dukungan daerah dan masyarakat, sambil menyediakan perlengkapan mandi, ibadah, dan Al-Qur'an bagi murid.
Surabaya, IDN Times – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur (Jatim) mengungkapkan guru ngaji di Sekolah Rakyat saat ini menerima honor sebesar Rp500 ribu per bulan. Honor tersebut masih bersumber dari Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Dinas Sosial Jatim, bukan dari anggaran pemerintah pusat maupun APBD.
Kepala Dinas Sosial Jatim, Restu Novi Widiani mengatakan, guru ngaji sementara mengajar dua kali dalam sepekan di seluruh Sekolah Rakyat yang telah beroperasi. Skema tersebut masih mengacu pada masa perintisan program. "Saat ini honor guru ngaji sebesar Rp500 ribu per orang per bulan. Pendanaannya berasal dari UPZ yang dikelola Dinas Sosial," ujarnya.
Novi menjelaskan, kebutuhan guru ngaji akan dievaluasi seiring bertambahnya jumlah murid Sekolah Rakyat. Sebab, pada masa perintisan jumlah murid hanya berkisar 50 hingga 100 orang, sedangkan tahun ajaran ini kapasitas Sekolah Rakyat meningkat signifikan.
"Untuk sementara masih dua kali dalam satu minggu. Nanti akan dihitung kembali kebutuhannya ketika program sudah masuk tahap permanen karena jumlah murid sekarang jauh lebih besar," katanya.
Menurut Novi, keberadaan guru ngaji tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Dinsos Jatim juga menggandeng berbagai organisasi keagamaan untuk mendukung pelaksanaan pendidikan keagamaan di Sekolah Rakyat.
"Menurut saya, Sekolah Rakyat merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu kami bekerja sama dengan organisasi keagamaan agar ada dukungan, termasuk berbagi anggaran," ucapnya.
Ia menambahkan, di sejumlah daerah terdapat dukungan dari pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat dengan bentuk bantuan yang berbeda-beda. Kehadiran guru ngaji, kata dia, lebih didorong sebagai bentuk kepedulian terhadap pembinaan karakter murid.
"Bukan dibebankan secara khusus oleh Pemprov. Ini lebih kepada bentuk kepedulian bersama. Di masing-masing kabupaten juga ada yang membantu meskipun bentuk bantuannya berbeda," jelas Novi.
Selain menyediakan guru ngaji, Pemprov Jatim juga melengkapi sejumlah kebutuhan murid yang belum seluruhnya difasilitasi Kementerian Sosial. Di antaranya perlengkapan mandi, perlengkapan ibadah, hingga Al-Qur'an yang dibagikan kepada seluruh murid Sekolah Rakyat.
Novi menuturkan, dukungan tersebut diberikan pada masa awal pelaksanaan program agar orang tua semakin yakin menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat sembari menunggu sistem dan pendanaan program berjalan secara penuh dari pemerintah pusat.



















