Celengan Kaleng Biskuit Bawa Guru Honorer ke Tanah Suci

- Abdul Malik, guru honorer asal Malang, berhasil berangkat haji tahun 2026 setelah menabung receh sejak 2001 bersama istrinya menggunakan celengan kaleng biskuit.
- Meski sempat bangkrut akibat pandemi COVID-19 yang mengguncang usaha ternak bebek mereka, Abdul Malik tetap konsisten menabung hingga mampu melunasi biaya haji tanpa pinjaman.
- Ia berharap perjalanan hajinya menjadi inspirasi bagi keluarga dan murid-muridnya, sambil terus menjaga kesiapan fisik serta memperbanyak doa menjelang keberangkatan ke Tanah Suci.
Surabaya, IDN Times - Di tengah deretan koper dan langkah pasti para calon jemaah haji di Asrama Haji Embarkasi Surabaya, kisah Abdul Malik menjadi potret perjuangan sunyi yang akhirnya berbuah panggilan ke Tanah Suci.
Guru honorer asal Kabupaten Malang itu tergabung dalam kloter 15 Embarkasi Surabaya. Ia masuk asrama pada 25 April 2026 dan dijadwalkan terbang melalui Bandara Internasional Juanda menuju Madinah pada 26 April 2026.
Perjalanan spiritualnya tidak datang dengan mudah. Sejak 2001, Abdul Malik mengabdi sebagai guru honorer di salah satu sekolah dasar dengan gaji awal hanya Rp25 ribu. Angka yang jauh dari cukup, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun dari keterbatasan itu, tekad besar tumbuh. Bersama istrinya, ia menanam mimpi untuk bisa menjadi “tamu Allah”. “Kami mulai dari nol. Gaji kecil, tapi kami tetap punya niat untuk bisa berangkat haji,” ujarnya lirih.
Langkah kecil itu dimulai dari kebiasaan sederhana. Menabung receh. Uang Rp10 ribu, Rp20 ribu, hingga Rp30 ribu disisihkan setiap kali ada rezeki, lalu dimasukkan ke dalam kaleng biskuit yang dijadikan celengan.
Tak hanya mengandalkan gaji, sang istri turut berjuang lewat usaha ternak bebek petelur. Setiap hari, hasil telur dijual untuk menambah tabungan haji mereka. Perlahan, rupiah demi rupiah terkumpul. Hingga akhirnya pada 2012, keduanya berhasil mendaftar haji.
“Alhamdulillah, dari tabungan kecil itu kami bisa mendaftar berdua,” katanya.
Cobaan sempat datang saat pandemik COVID-19 melanda pada 2020. Usaha bebek yang menjadi salah satu penopang ekonomi keluarga terguncang. Harga anjlok, biaya pakan melonjak, dan ratusan bebek terpaksa dijual. Bangkrut.
Namun alih-alih menyerah, Abdul Malik justru menjadikan situasi itu sebagai penguat niat. “Semua kami niatkan untuk pelunasan haji,” tuturnya.
Dari hasil mengajar, usaha kecil, hingga dukungan keluarga dan wali murid, ia akhirnya mampu melunasi biaya haji tanpa bantuan pinjaman. Baginya, momen berdiri di asrama haji menjadi bukti bahwa doa dan kesabaran tak pernah sia-sia.
“Ini nikmat luar biasa. Anugerah besar bagi kami sekeluarga,” ucapnya haru.
Di balik kebahagiaan itu, tersimpan harapan sederhana. Ia ingin perjalanan hajinya kelak menjadi inspirasi bagi keluarga, anak-anak, hingga murid-muridnya. “Saya ingin murid-murid saya juga bisa seperti ini, bisa sampai ke Tanah Suci,” katanya.
Selama ini, ia mengaku menjaga ikhtiar lewat doa, salawat, dan istighfar yang tak pernah putus. Ia percaya, panggilan haji bukan soal kemampuan semata, melainkan kehendak Tuhan. “Kalau Allah sudah memanggil, siapapun pasti dimampukan,” ungkapnya.
Kini, menjelang keberangkatan, Abdul Malik mempersiapkan diri dengan menjaga kondisi fisik dan mengurangi aktivitas berat. Ia rutin berjalan kaki setiap pagi demi memastikan tubuhnya siap menjalani rangkaian ibadah di Tanah Suci. Ia meminta doa agar ibadahnya lancar, dan menjadi haji yang mabrur.

















