Cari Pasir di Sungai, Guru dan Dua Siswi di Magetan Tewas Tenggelam

1. Tragedi bermula dari kerja bakti cari pasir di sungai

Kasi Humas Polres Magetan, AKP Budi Kuncahyo membenarkan peristiwa kecelakaan air yang mengakibatkan tiga nyawa melayang tersebut bermula dari kegiatan siswa dan guru mencari pasir di sungai. "Betul, sebelumnya para korban ini pergi ke sungai untuk mencari pasir. Saat tiba di sungai, guru memasukkan pasir ke polybag, dua siswi, tanpa sepengetahuan guru, mereka berenang di dekat tempat mencari pasir," kata Budi. Namun, keduanya tenggelam karena tak bisa berenang.
Mengetahui itu, lanjutnya, salah satu siswa memberi tahu bahwa sang guru yang kemudian berusaha menolong mereka. Namun, karena tidak bisa berenang, guru itu pun ikut tenggelam bersama kedua siswanya.
2. Siswa yang selamat memberitahukan kepada guru lain

Melihat guru dan temannya tenggelam, siswa yang selamat selanjutnya memberitahukan kepada guru lain. Dengan dibantu warga, mereka kemudian mereka melakukan pencarian di sungai tersebut.
"Warga dan anggota TNI kemudian melakukan penyelaman untuk mencari meraka yang tenggelam. Dua orang berhasil ditemukan terlebih dahulu, yaitu guru dan satu siswi," terangnya.
Lebih lanjut disampaikan Budi, kurang lebih satu jam kemudian, korban terakhir berhasil ditemukan dan langsung dilarikan ke Puskesmas Tladan untuk mendapatkan perawatan. Namun, ketiga nyawa mereka tidak selamat.
"Tiga korban tersebut adalah Guno (58) guru kelas 5 warga Desa Garon, Kecamatan Kawedanan. Kemudian Yanuari Purti Dewi Pratama (10) dan Latiffa Erlina (10) semuanya kelas 5 warga setempat," terang Budi.
3. Tiga korban tersebut adalah guru kelas V dan dua siswi

Hasil pemeriksaan tim kesehatan Puskesmas Kawedan dan Inafis, serta SPKT Polres Magetan, pada tubuh para korban tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan. "Dokter mengatakan penyebab kematian ketiga korban murni karena tenggelam. Banyak air did alam paru parunya," imbuhnya.
Polisi saat ini masih melakukan olah TKP di lokasi kejadian dan menyita barang bukti berupa dua buah polybag berisi pasir dan beberapa karung plastik yang belum sempat diisi. "Keluarga korban mengaku menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan menolak untuk dilakukan autopsi dalam," pungkasnya.


















