Cerita Sendu dari Dapur Pabrik Tahu

- Pabrik tahu UD Sumber Kencana di Surabaya mengurangi produksi akibat harga kedelai naik dari Rp9.800 menjadi Rp10.300 per kilogram, imbas melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS.
- Pemilik pabrik, Riani atau Mami Tahu, memilih tidak menaikkan harga jual maupun mengecilkan ukuran tahu demi menjaga pelanggan meski omzet menurun dan pembeli berkurang drastis.
- Untuk bertahan, Riani berinovasi menjual tahu sutra berbumbu bawang putih dan garam dalam kemasan kecil seharga Rp11 ribu per kotak dengan penjualan sekitar 60 pack per hari.
Surabaya, IDN Times - Pukul 07.00 WIB biasanya asap masih mengepul keluar dari cerobong bangunan tua di Jalan Dinoyo Keputran, Surabaya. Suara riuh gesekan alat-alat masak jadul beradu dengan biji-biji kedelai seharusnya masih sibuk memecah keheningan kota di pagi hari. Tapi, hari ini, Selasa (3/6/2026) suasananya terasa berbeda.
Saringan tahu sudah dilipat rapi, tungku api sudah dipadamkan beberapa waktu lalu, alat perebusan sudah ditengkulapkan, kotak kayu tersusun membisu, penggilingan kedelai diam berhenti berkerja. Pabrik tua itu sunyi.
Hanya ada dua pegawai yang sibuk memotong tahu untuk dimasukkan ke dalam wadah kotak. Pegawai lainnya sudah pada pulang sejak beberapa jam yang lalu.
Biasanya pabrik dengan nama "UD Sumber Kencana " itu mulai sibuk sejak pukul 05.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Tapi tidak pada pagi ini. Produksi mereka sudah selesai sejak sebelum pukul 07.00 WIB. Harga kedelai yang kian melambung, imbas dari melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mamaksa pabrik tahu yang berdiri sejak 1974 ini untuk menahan jumlah produksi.
Di antara pabrik tahu tua ini ada Riani (59) sebagai generasi ketiga yang mengurus semuanya. Dia duduk di mejanya sambil membuka catatan penjualan hari ini. "Sekarang dengan kenaikan harga kedelai omsetnya menurun, biasanya masak 20, sekarang cuma 15," ujarnya. Satu masak tahu menghasilkan tujuh kotak berukuran sekitar 50X50 sentimeter.
Dalam sehari ia membutuhkan sekitar 300 kilogram kedelai. Tapi semenjak produksinya menurun, dia hanya menyediakan 277 kilogram biji kedelai. Maklum harga kedelai kini mencapai Rp10.300 per kilogram dari sebelumnya Rp9.800.
Di tengah peningkatan harga kedelai, perempuan yang akrab disapa Mami Tahu ini enggan menaikkan harga jual tahunya, juga tak menyusutkan ukuran tahu karena takut kehilangan pelanggan. "Saya tidak mau ngurangi, untuk pelanggan kan susah sekarang," kata Riani.
Ribuan potong tahu buatannya itu dijual ke beberapa pasar di Surabaya. Kadang pula Riani menjualnya ke Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sekitar.
Belakangan, jumlah pembeli tahu Riani menurun drastis. Stand di pasar yang biasanya meminta stok terus ditambah, kini tahu sekali kirim habis saja sudah bersukur. "Langganan iku itu (UMKM), biasanya ambil 100 papan (kotak cetakan tahu), 80 papan, sekarang libur, outlenya banyak yang tutup," ungkapnya.
Agar pabriknya masih terus mengepul, Riani pun harus memutar otak. Ia pun berinovasi menjual tahu sutra berbumbu bawang putih dan garam yang sudah dikemas dalam kotak-kotak kecil berukuran kurang lebih 1000 ml. "Harganga Rp11 ribu perkotak, sehari laku sekitar 60 pack," tuturnya.
Bagi Riani, kenaikan harga kedelai buka hanya terjadi saat ini saja, dia pernah diterpa hal yang sama saat pandemik COVID-19. Meski terus-menerus diterjang kenaikan harga kedelai dia masih terus bertahan. "Aku tetap bertahan, yang penting karyawanku tetap bisa makan," pungkas dia.


















