Comscore Tracker

Dua Paslon Pilkada Surabaya Beda Pendapat soal Kota Layak Huni

Menurut kamu gimana? #DebatPilkadaSurabaya

Surabaya, IDN Times - Di segmen ketiga debat publik Pasangan Calon Wali-Wakil Wali Kota Surabaya, Rabu (4/11/2020), mereka mendapatkan pertanyaan terkait permukiman. Panelis memberikan pertanyaan menggunakan data dari Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP) tahun 2018 bahwa Kota Surabaya tidak masuk dalam 7 kota layak huni di Indonesia.

Pasangan calon nomor urut 2, Machfud Arifin-Mujiaman yang mendapatkan kesempatan pertama untuk menjawab langsung memberikan data-data lapangan yang mereka kumpulkan selama 10 bulan. Mereka menilai memang masih ada kesenjangan pembangunan di Kota Surabaya antara di pusat kota dengan pinggiran. Salah satu hal yang mereka soroti adalah adanya keluarga yang masih tidak memiliki jamban.

"Di Surabaya masih ada 100 ribu KK yang tidak punya jamban dan juga ada warga yang buat hajat di sungai. Kami nanti akan bangun jamban komunal," ujar Machfud.

Sementara paslon nomor urut 1, Eri Cahyadi-Armuji membantah bahwa Kota Surabaya merupakan kota yang tidak layak huni. Ia memberikan beberapa data seperti Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia bahwa jumlah kawasan kumuh di Surabaya sudah nol. Selain itu, ia juga memberikan data penghargaan-penghargaan yang telah diraih oleh Kota Surabaya.

"Surabaya dapat Adipura Kencana 5 kali terus bertuurut-turut. Bahkan dapat Lee Kuan Yew terkait Kota Layak Huni. 30 penghargaan internasional dan 286 penghargaan nasional," sebut Eri.

Satu topik seksi lainnya yang dibahas yaitu terkait Surat Ijo. Pembebasan serta penghapusan retribusi Surat Ijo merupakan salah satu program unggulan Machfud-Mujiaman. Sementara Eri mengatakan bahwa saat ini Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sudah bersurat kepada Presiden RI Joko "Jokowi" Widodo terkait permasalahan ini.

"Kami tetap komitmen akan paling depan untuk menyelesaikan surat ijo bersama teman-teman Surat Ijo. Dalam proses kami akan membebaskan retribusi seurat ijo. Mari ke Krembangan Kulon, ke Kremabangan Wetan. Sungai gak keliatan airnya bahkan sampai bozem," tutup Machfud.

Baca Juga: Machfud-Mujiaman Fokus ke Guru PAUD dan Pemerataan Sekolah 

Topic:

  • Dida Tenola

Berita Terkini Lainnya