Video Demo Lama Viral Lagi, Ada yang Sedang "Tes Ombak" Publik

- Video lama demonstrasi dan bentrokan kembali viral dengan narasi seolah peristiwa baru, sementara video pagar mal dikaitkan keliru dengan antisipasi aksi besar.
- Akademisi menilai penyebaran masif konten lama dapat menjadi tes ombak politik, membangun misinformasi, mengukur respons netizen, dan berpotensi mengarah pada ajakan aksi.
- Bakesbangpol Jatim menyatakan kondisi tetap kondusif, melaporkan ribuan konten hoaks untuk ditindak, serta menegaskan pagar di Pakuwon dipasang untuk pemeliharaan.
Surabaya, IDN Times – Gelombang unggahan video lama aksi demonstrasi yang berujung bentrok dengan aparat kembali ramai beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Video-video tersebut disebarkan ulang dengan narasi seolah-olah merupakan peristiwa baru dan diklaim tidak diberitakan media arus utama.
Bersamaan dengan itu, beredar pula video pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan yang dinarasikan sebagai antisipasi demonstrasi besar di kota-kota besar, termasuk Surabaya.
Padahal, video bentrokan tersebut merupakan dokumentasi lama, sedangkan pemasangan pagar di mal telah dijelaskan pihak pengelola sebagai bagian dari kegiatan pemeliharaan.
Sosiolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Moch. Mubarok Muharam, menilai masifnya penyebaran ulang video lama bukan sekadar unggahan biasa. Menurutnya, fenomena itu dapat dibaca sebagai upaya menguji respons publik terhadap isu politik tertentu.
"Saya melihat ini seperti tes ombak. Apakah video lama itu masih mampu menarik perhatian publik dan membangkitkan kembali memori tentang aksi-aksi besar. Kalau responsnya besar, isu itu bisa terus diperkuat," ujarnya kepada IDN Times, Rabu (5/8/2026).
Ia menilai negara tidak boleh menganggap remeh riak-riak informasi semacam itu. Sebab, narasi yang terus diproduksi tanpa klarifikasi berpotensi berkembang menjadi kegaduhan yang lebih besar.
"Negara harus merespons secara bijak dan hati-hati. Jangan sampai respons yang diberikan justru memunculkan persoalan baru," tegasnya.
Menurut Mubarok, penyebaran ulang video tersebut juga dapat dipahami sebagai ekspresi kelompok yang merasa kecewa terhadap kebijakan pemerintah sehingga berupaya menarik perhatian publik melalui ruang digital.
"Saya pikir ada dinamika politik yang melibatkan orang-orang yang kecewa dengan negara. Mereka ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang menurut mereka salah," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Pengamat Politik Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam. Ia menilai fenomena itu merupakan bentuk konstruksi misinformasi dan disinformasi agar ruang publik dipenuhi informasi yang belum terverifikasi.
"Tujuannya membuat informasi hasil rekayasa ikut memenuhi ruang publik sehingga masyarakat bingung membedakan mana fakta dan mana yang bukan. Harapannya terjadi manipulasi terhadap fakta aktual," jelasnnya.
Surokim menambahkan, penyebaran video lama dan narasi yang dibangun secara masif merupakan strategi komunikasi politik melalui media sosial sebelum bergerak ke ruang nyata.
"Kalau masif, arahnya memang bisa menjadi ajakan aksi yang lebih besar. Biasanya ini bentuk test the water atau cek ombak, mengukur seberapa besar pengaruhnya terhadap netizen sebelum berkembang ke aksi di lapangan," katanya.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Jatim, Eddy Supriyanto, memastikan kondisi keamanan di Jawa Timur tetap kondusif meski beredar berbagai narasi di media sosial.
"Alhamdulillah, Forkopimda, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan tetap solid. Saat ini Jawa Timur aman dan kondusif," ujarnya.
Eddy mengakui masih banyak konten hoaks yang berasal dari Jawa Timur dilaporkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk ditindaklanjuti. "Jumlahnya pernah sampai ribuan. Ada video hoaks, ujaran kebencian, hingga berbagai informasi yang menyesatkan. Semua kami laporkan ke Kementerian Kominfo untuk dilakukan take down," katanya.
Terkait narasi yang mengaitkan pemasangan pagar di pusat perbelanjaan dengan potensi kerusuhan, Eddy menegaskan informasi tersebut tidak benar. "Pihak Pakuwon sudah menjelaskan bahwa itu merupakan kegiatan pemeliharaan. Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, menjalankan aktivitas seperti biasa, dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi," tegasnya.



















