Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tak Mau Pelatihan Siswa Berhenti di Sertifikat, Tracer Study Disiapkan
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai. Dok. Istimewa..
  • Dindik Jatim akan melakukan tracer study pascapelatihan vokasi 2026 untuk mengukur apakah kompetensi siswa benar-benar digunakan di sekolah maupun dunia kerja.
  • Sebanyak 60 siswa mengikuti pelatihan praktik di UPT PTKK pada bidang pendingin, kecantikan, busana, dan boga, didampingi tenaga DUDIKA serta dosen PTN.
  • Dindik Jatim mempertimbangkan tambahan anggaran, peningkatan peralatan, dan pemanfaatan UPT PTKK sebagai pusat pembinaan berkelanjutan bagi peserta Lomba Kompetensi Siswa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
13 - 19 September

Sebanyak 60 siswa dari Cabdin Jatim mengikuti pelatihan vokasi angkatan terakhir 2026 di UPT PTKK dalam empat konsentrasi keahlian.

Minggu (20/9/2026)

Dindik Jatim menyiapkan tracer study untuk mengukur dampak kompetensi siswa setelah pelatihan. Aries Agung Paewai juga membuka peluang penambahan pelatihan melalui PAK.

bulan September ini

Dindik Jatim berharap pelatihan di UPT PTKK tidak berakhir setelah angkatan September selesai dan membahas penambahan anggaran.

Ke depan

UPT PTKK diproyeksikan menjadi laboratorium dan training center pembinaan siswa untuk LKS.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Dindik Jawa Timur menyiapkan tracer study untuk menilai dampak pelatihan peningkatan kompetensi vokasi siswa di UPT PTKK, termasuk penggunaan kompetensi saat kembali ke sekolah dan memasuki dunia kerja.
  • Who?
    Dindik Jawa Timur, Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai, 60 siswa dari Cabdin Jatim, instruktur DUDIKA, dosen PTN, serta Abdul Latif Sasmito dari SMKN 1 Kota Madiun terlibat dalam program ini.
  • Where?
    Pelatihan dilaksanakan di UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK) Jawa Timur. Peserta berasal dari sejumlah Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur.
  • When?
    Tracer study direncanakan setelah pelatihan angkatan terakhir 2026, yang berlangsung pada 13–19 September 2026. Aries menyampaikan rencana tersebut pada Minggu, 20 September 2026.
  • Why?
    Evaluasi dilakukan untuk mengukur output dan outcome pelatihan secara nyata, memastikan kompetensi siswa melekat dan digunakan, serta tidak menilai keberhasilan hanya dari jumlah kehadiran peserta.
  • How?
    Dindik akan menelusuri peserta setelah pelatihan. Selama program, siswa mendapat porsi praktik lebih besar dengan pendampingan tenaga ahli DUDIKA dan dosen PTN dalam TPTU, tata kecantikan, tata busana, dan tata boga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Dinas Pendidikan Jawa Timur melatih 60 siswa memakai alat dan belajar banyak praktik. Mereka belajar AC, kecantikan, baju, dan masak. Nanti, dinas akan melihat apakah ilmu itu dipakai di sekolah atau saat bekerja. Mereka juga ingin menambah pelatihan dan alat yang lebih bagus.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Pendekatan Dindik Jatim menunjukkan perhatian pada mutu pelatihan vokasi yang melampaui kehadiran dan sertifikat. Porsi praktik, pendampingan ahli, serta akses pada peralatan yang lebih maju memberi siswa ruang untuk mengasah kemampuan teknis dan pemecahan masalah. Tracer study juga membuka kesempatan untuk menilai apakah pengalaman tersebut benar-benar digunakan setelah pelatihan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) tak ingin program pelatihan vokasi siswa berhenti setelah sepekan pelatihan dan pemberian pengalaman praktik. Dampak pelatihan bakal ditelusuri melalui tracer study untuk mengetahui apakah kompetensi yang diperoleh benar-benar terpakai ketika siswa kembali ke sekolah maupun saat memasuki dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).

Tracer study akan dilakukan terhadap siswa yang mengikuti program peningkatan kompetensi vokasi di UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK). Evaluasi tersebut dilakukan setelah pelaksanaan pelatihan angkatan terakhir 2026 yang berlangsung 13 - 19 September.

Pada angkatan terakhir itu, sebanyak 60 siswa dari sejumlah Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Jatim mengikuti pelatihan dalam empat konsentrasi keahlian, yakni Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU), tata kecantikan, tata busana, dan tata boga.

Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan tracer study diperlukan untuk mengukur output dan outcome program secara lebih nyata. Artinya, keberhasilan pelatihan tidak hanya dilihat dari jumlah siswa yang hadir dan mengikuti pembelajaran, tetapi juga dari kompetensi yang benar-benar melekat dan digunakan setelah pelatihan.

“Semakin banyak siswa ikut pelatihan ini dan tidak berhenti prosesnya. Bagaimana output dan outcome-nya, sehingga kita bisa tracer study. Berdampak atau tidak hasil pelatihan siswa ini,” ujarnya, Minggu (20/9/2026).

Selama pelatihan, siswa mendapat porsi praktik lebih besar dengan pendampingan tenaga ahli dari unsur DUDIKA dan dosen perguruan tinggi negeri (PTN). Pola tersebut membuat siswa berhadapan langsung dengan peralatan dan persoalan teknis yang lazim ditemui di dunia kerja.

Aries mengatakan pengalaman praktik menjadi salah satu hal yang dirasakan berbeda oleh siswa dibandingkan pembelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. “Setelah saya ngobrol dengan mereka di tiap konsentrasi keahlian, siswa mengaku senang mengikuti pelatihan karena lebih banyak praktik dibanding teori. Antara teori yang didapatkan jauh berbeda dengan praktik,” katanya.

Keterlibatan instruktur dari DUDIKA dan PTN juga diharapkan membuat pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan lapangan. Siswa tidak hanya mendapatkan tambahan teori, tetapi dilatih mengidentifikasi persoalan, mencari solusi, hingga menggunakan peralatan yang belum tentu tersedia di sekolah masing-masing.

Dindik Jatim membuka peluang memperpanjang dan memperluas program tersebut melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Aries berharap siswa yang belum memperoleh kesempatan pelatihan dapat ikut merasakan pembelajaran berbasis praktik.

Tak hanya menambah jumlah peserta, peningkatan kualitas sarana juga menjadi perhatian. Sejumlah siswa mengaku baru berkesempatan menggunakan peralatan dengan teknologi yang lebih maju dibandingkan fasilitas yang tersedia di sekolah mereka.

“Selain pelaksanaan pelatihan yang ditambah, saya juga berharap perangkat yang dimiliki UPT PTKK semakin di-upgrade. Sebab, beberapa siswa mengaku baru menggunakan alat yang cukup canggih dibandingkan dengan sekolahnya,” jelas Aries.

Menurut dia, waktu tiga bulan yang tersisa pada 2026 masih dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesinambungan program. Pelatihan siswa di UPT PTKK diharapkan tidak berhenti setelah angkatan September selesai.

“Kita berharapnya jangan bulan September ini berakhir. Karena masih tersisa tiga bulan. Ya sampai selesailah. Dan sedang saya obrolkan ke Pak Sekretaris untuk ada penambahan anggaran pelatihan siswa di UPT PTKK,” tegasnya.

Tak hanya menjadi pusat peningkatan kompetensi, UPT PTKK juga diproyeksikan menjadi laboratorium pembinaan siswa untuk menghadapi Lomba Kompetensi Siswa (LKS).

Aries mengatakan fasilitas yang tersedia di UPT PTKK dapat dimanfaatkan sebagai training center (TC) setelah siswa mengikuti pembinaan tingkat provinsi. Dengan model tersebut, proses pematangan keterampilan dapat dilakukan secara terpusat tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan sarana di masing-masing kabupaten/kota.

“Ke depan saya berharap ini jadi laboratorium untuk LKS. Kalau kurang lengkap, ya dilengkapi. Ini laboratorium mereka. Berbulan-bulan setelah TC dari provinsi di sini dimatangkan skill-nya, sehingga tidak menyulitkan lagi di kabupaten/kota untuk TC,” ungkapnya.

Rencana tersebut mendapat respons positif dari peserta pelatihan. Abdul Latif Sasmito, siswa kelas XI SMKN 1 Kota Madiun dari konsentrasi TPTU, mengatakan pengalaman selama sepekan di UPT PTKK memberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang belum banyak diperoleh di sekolah.

Menurut Latif, siswa tidak sekadar belajar memasang peralatan pendingin, tetapi juga diajak memahami persoalan dan melakukan diagnosis hingga perbaikan. “Di sini lebih banyak praktik. Mempelajari sebuah masalah dan membuka pola pikir untuk menyelesaikan masalah. Meskipun hanya seminggu, teman-teman bisa merancang, merakit dan mengatasi perbaikan,” katanya.

Ia menilai kemampuan memperbaiki perangkat pendingin membutuhkan keterampilan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar melakukan pemasangan. “Masang AC mudah. Yang sulit perbaikan, merakit hingga jadi baru. Ini memakan waktu dan belum diajari di sekolah, salah satunya,” ungkapnya.

Latif berharap UPT PTKK dapat menjadi tempat pembinaan LKS secara berkelanjutan. Menurut dia, kelengkapan sarana praktik di UPT PTKK dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan secara lebih intensif.

“Harapan saya, tempat ini juga bisa digunakan untuk pembinaan LKS. Karena sarprasnya sudah lengkap. Di sekolah fasilitasnya kurang memadai,” katanya.

Lebih jauh, Latif berharap hasil pelatihan tidak berhenti pada peserta yang datang ke UPT PTKK. Kompetensi yang diperoleh dapat ditularkan kepada siswa lain di sekolah sekaligus menjadi modal menghadapi kompetisi LKS.

“Harapannya mampu menguasai TPTU, baik AC, kulkas, maupun chiller. Output-nya bisa mengimbaskan ilmu kepada teman-teman dan hasil kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk LKS,” pungkasnya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article