Tak Mau Pelatihan Siswa Berhenti di Sertifikat, Tracer Study Disiapkan

- Dindik Jatim akan melakukan tracer study pascapelatihan vokasi 2026 untuk mengukur apakah kompetensi siswa benar-benar digunakan di sekolah maupun dunia kerja.
- Sebanyak 60 siswa mengikuti pelatihan praktik di UPT PTKK pada bidang pendingin, kecantikan, busana, dan boga, didampingi tenaga DUDIKA serta dosen PTN.
- Dindik Jatim mempertimbangkan tambahan anggaran, peningkatan peralatan, dan pemanfaatan UPT PTKK sebagai pusat pembinaan berkelanjutan bagi peserta Lomba Kompetensi Siswa.
Surabaya, IDN Times - Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) tak ingin program pelatihan vokasi siswa berhenti setelah sepekan pelatihan dan pemberian pengalaman praktik. Dampak pelatihan bakal ditelusuri melalui tracer study untuk mengetahui apakah kompetensi yang diperoleh benar-benar terpakai ketika siswa kembali ke sekolah maupun saat memasuki dunia usaha, dunia industri, dan dunia kerja (DUDIKA).
Tracer study akan dilakukan terhadap siswa yang mengikuti program peningkatan kompetensi vokasi di UPT Pengembangan Teknis dan Keterampilan Kejuruan (PTKK). Evaluasi tersebut dilakukan setelah pelaksanaan pelatihan angkatan terakhir 2026 yang berlangsung 13 - 19 September.
Pada angkatan terakhir itu, sebanyak 60 siswa dari sejumlah Cabang Dinas Pendidikan (Cabdin) Jatim mengikuti pelatihan dalam empat konsentrasi keahlian, yakni Teknik Pendingin dan Tata Udara (TPTU), tata kecantikan, tata busana, dan tata boga.
Kepala Dindik Jatim Aries Agung Paewai mengatakan tracer study diperlukan untuk mengukur output dan outcome program secara lebih nyata. Artinya, keberhasilan pelatihan tidak hanya dilihat dari jumlah siswa yang hadir dan mengikuti pembelajaran, tetapi juga dari kompetensi yang benar-benar melekat dan digunakan setelah pelatihan.
âSemakin banyak siswa ikut pelatihan ini dan tidak berhenti prosesnya. Bagaimana output dan outcome-nya, sehingga kita bisa tracer study. Berdampak atau tidak hasil pelatihan siswa ini,â ujarnya, Minggu (20/9/2026).
Selama pelatihan, siswa mendapat porsi praktik lebih besar dengan pendampingan tenaga ahli dari unsur DUDIKA dan dosen perguruan tinggi negeri (PTN). Pola tersebut membuat siswa berhadapan langsung dengan peralatan dan persoalan teknis yang lazim ditemui di dunia kerja.
Aries mengatakan pengalaman praktik menjadi salah satu hal yang dirasakan berbeda oleh siswa dibandingkan pembelajaran yang mereka dapatkan di sekolah. âSetelah saya ngobrol dengan mereka di tiap konsentrasi keahlian, siswa mengaku senang mengikuti pelatihan karena lebih banyak praktik dibanding teori. Antara teori yang didapatkan jauh berbeda dengan praktik,â katanya.
Keterlibatan instruktur dari DUDIKA dan PTN juga diharapkan membuat pembelajaran lebih dekat dengan kebutuhan lapangan. Siswa tidak hanya mendapatkan tambahan teori, tetapi dilatih mengidentifikasi persoalan, mencari solusi, hingga menggunakan peralatan yang belum tentu tersedia di sekolah masing-masing.
Dindik Jatim membuka peluang memperpanjang dan memperluas program tersebut melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). Aries berharap siswa yang belum memperoleh kesempatan pelatihan dapat ikut merasakan pembelajaran berbasis praktik.
Tak hanya menambah jumlah peserta, peningkatan kualitas sarana juga menjadi perhatian. Sejumlah siswa mengaku baru berkesempatan menggunakan peralatan dengan teknologi yang lebih maju dibandingkan fasilitas yang tersedia di sekolah mereka.
âSelain pelaksanaan pelatihan yang ditambah, saya juga berharap perangkat yang dimiliki UPT PTKK semakin di-upgrade. Sebab, beberapa siswa mengaku baru menggunakan alat yang cukup canggih dibandingkan dengan sekolahnya,â jelas Aries.
Menurut dia, waktu tiga bulan yang tersisa pada 2026 masih dapat dimanfaatkan untuk menjaga kesinambungan program. Pelatihan siswa di UPT PTKK diharapkan tidak berhenti setelah angkatan September selesai.
âKita berharapnya jangan bulan September ini berakhir. Karena masih tersisa tiga bulan. Ya sampai selesailah. Dan sedang saya obrolkan ke Pak Sekretaris untuk ada penambahan anggaran pelatihan siswa di UPT PTKK,â tegasnya.
Tak hanya menjadi pusat peningkatan kompetensi, UPT PTKK juga diproyeksikan menjadi laboratorium pembinaan siswa untuk menghadapi Lomba Kompetensi Siswa (LKS).
Aries mengatakan fasilitas yang tersedia di UPT PTKK dapat dimanfaatkan sebagai training center (TC) setelah siswa mengikuti pembinaan tingkat provinsi. Dengan model tersebut, proses pematangan keterampilan dapat dilakukan secara terpusat tanpa sepenuhnya bergantung pada ketersediaan sarana di masing-masing kabupaten/kota.
âKe depan saya berharap ini jadi laboratorium untuk LKS. Kalau kurang lengkap, ya dilengkapi. Ini laboratorium mereka. Berbulan-bulan setelah TC dari provinsi di sini dimatangkan skill-nya, sehingga tidak menyulitkan lagi di kabupaten/kota untuk TC,â ungkapnya.
Rencana tersebut mendapat respons positif dari peserta pelatihan. Abdul Latif Sasmito, siswa kelas XI SMKN 1 Kota Madiun dari konsentrasi TPTU, mengatakan pengalaman selama sepekan di UPT PTKK memberikan kesempatan untuk mempraktikkan keterampilan yang belum banyak diperoleh di sekolah.
Menurut Latif, siswa tidak sekadar belajar memasang peralatan pendingin, tetapi juga diajak memahami persoalan dan melakukan diagnosis hingga perbaikan. âDi sini lebih banyak praktik. Mempelajari sebuah masalah dan membuka pola pikir untuk menyelesaikan masalah. Meskipun hanya seminggu, teman-teman bisa merancang, merakit dan mengatasi perbaikan,â katanya.
Ia menilai kemampuan memperbaiki perangkat pendingin membutuhkan keterampilan yang lebih kompleks dibandingkan sekadar melakukan pemasangan. âMasang AC mudah. Yang sulit perbaikan, merakit hingga jadi baru. Ini memakan waktu dan belum diajari di sekolah, salah satunya,â ungkapnya.
Latif berharap UPT PTKK dapat menjadi tempat pembinaan LKS secara berkelanjutan. Menurut dia, kelengkapan sarana praktik di UPT PTKK dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengasah kemampuan secara lebih intensif.
âHarapan saya, tempat ini juga bisa digunakan untuk pembinaan LKS. Karena sarprasnya sudah lengkap. Di sekolah fasilitasnya kurang memadai,â katanya.
Lebih jauh, Latif berharap hasil pelatihan tidak berhenti pada peserta yang datang ke UPT PTKK. Kompetensi yang diperoleh dapat ditularkan kepada siswa lain di sekolah sekaligus menjadi modal menghadapi kompetisi LKS.
âHarapannya mampu menguasai TPTU, baik AC, kulkas, maupun chiller. Output-nya bisa mengimbaskan ilmu kepada teman-teman dan hasil kegiatan ini bisa dimanfaatkan untuk LKS,â pungkasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)




















