Surabaya Disebut Berpolusi, DLH: Fluktuatif Tapi Masih Terkendali

- DLH Surabaya menegaskan kualitas udara kota masih dalam kategori sedang meski fluktuatif, berdasarkan pemantauan rutin di beberapa titik strategis melalui sistem AQMS.
- Perbedaan data antara DLH, WALHI, dan situs internasional disebabkan variasi metode pengukuran serta lokasi pantau, namun semua pihak dianggap berperan sebagai kontrol sosial.
- Pemerintah Kota Surabaya berkomitmen mengendalikan polusi lewat pengawasan emisi industri, uji emisi kendaraan, transportasi berkelanjutan, penambahan ruang hijau, dan peningkatan keterbukaan data udara.
Surabaya, IDN Times - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya akhirnya buka suara terkait sorotan WALHI soal kualitas udara di Kota Pahlawan yang disebut berisiko bagi kelompok rentan. DLH menegaskan kondisi kualitas udara Surabaya secara umum masih berada pada kategori “sedang” berdasarkan pemantauan resmi pemerintah kota.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Surabaya, M. Fikser mengatakan pemantauan kualitas udara dilakukan secara rutin melalui jaringan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang tersebar di sejumlah titik strategis seperti Wonorejo, Kebonsari dan Tandes.
“DLH Kota Surabaya secara rutin melakukan pemantauan kualitas udara ambien melalui jaringan AQMS yang tersebar di beberapa titik strategis di Kota Surabaya,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Menurutnya, parameter yang dipantau meliputi PM10, PM2.5, SO2, NO2, O3 hingga karbon monoksida (CO). Dari hasil pemantauan tersebut, kualitas udara Surabaya dinilai masih dalam batas sedang meski bersifat fluktuatif.
“Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kualitas udara Kota Surabaya secara umum masih berada dalam kategori sedang dan bersifat fluktuatif,” katanya.
Fikser menjelaskan perubahan kualitas udara dipengaruhi banyak faktor mulai dari cuaca, kepadatan kendaraan, aktivitas industri hingga proyek konstruksi di perkotaan.
Berdasarkan data ISPU DLH Surabaya pada 12 Mei 2026 di Stasiun Kebonsari dan Wonorejo, kualitas udara tercatat berada di angka 67 atau kategori sedang dengan parameter kritis ozon (O3). Sementara pada 13 Mei 2026, parameter O3 berada di angka 65 dan masih dalam kategori sedang.
Adapun pemantauan di kawasan Tandes pada 13 Mei 2026 pukul 21.00 WIB menunjukkan ISPU berada di angka 79 dengan parameter kritis PM2.5. Meski demikian, parameter lain seperti PM10, NO2, SO2 hingga CO masih berada pada kategori baik.
“Secara keseluruhan kualitas udara di titik-titik tersebut berada pada kategori sedang. Artinya masih dapat diterima pada kesehatan manusia, hewan dan tumbuhan,” jelasnya.
DLH Surabaya juga menanggapi adanya perbedaan data kualitas udara yang dirilis sejumlah pihak termasuk WALHI dan situs pemantauan internasional AQI US. Menurut Fikser, variasi data bisa terjadi akibat perbedaan metode pengukuran, lokasi titik pantau hingga metode perhitungan indeks kualitas udara.
“Terkait rilis dari berbagai pihak, DLH menghargai setiap data dan kajian yang disampaikan sebagai bagian dari kontrol sosial,” katanya.
Meski begitu, Pemkot Surabaya memastikan tetap serius melakukan pengendalian pencemaran udara. Sejumlah langkah yang kini dijalankan antara lain pengawasan emisi industri, uji emisi kendaraan bermotor, penguatan transportasi berkelanjutan hingga penambahan ruang terbuka hijau.
“Pemerintah Kota Surabaya tetap berkomitmen melakukan pengendalian pencemaran udara melalui penguatan pengawasan emisi industri, uji emisi kendaraan bermotor, penataan transportasi berkelanjutan dan peningkatan ruang terbuka hijau,” tegas Fikser.
Ke depan, DLH Surabaya juga berjanji memperkuat sistem pemantauan dan keterbukaan data kualitas udara kepada publik.
Sebelumnya, WALHI menyoroti kualitas udara Surabaya yang berada pada indeks AQI 91–105 sepanjang Mei 2026. WALHI menyebut emisi kendaraan dan aktivitas industri menjadi penyumbang utama polusi udara di Kota Pahlawan.

















