MinyaKita di Jatim Makin Langka, Harga Bikin Kaget

- Ombudsman Jatim menemukan minyak goreng subsidi MinyaKita makin langka di toko modern dan pasar tradisional, dengan harga tembus Rp18 ribu per liter melebihi HET pemerintah.
- Minimnya stok disebut sebagai penyebab utama kenaikan harga, sementara minyak goreng merek lain seperti Merah Putih justru mudah ditemukan di pasaran.
- Ombudsman Jatim mendesak pemerintah memperbaiki sistem distribusi dan membangun pemantauan stok pangan real time agar ketersediaan serta harga minyak subsidi tetap terkontrol.
Surabaya, IDN Times - Minyak goreng subsidi merek MinyaKita mulai langka di Jawa Timur (Jatim) Ombudsman Jatim menemukan produk minyak goreng yang seharusnya dijual murah itu kini sulit ditemukan baik di toko modern maupun pasar tradisional. Kalaupun ada, harganya justru tembus Rp18 ribu per liter atau melampaui harga eceran tertinggi (HET).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Perwakilan Ombudsman Jatim, Habibi Triyoga mengatakan, kondisi di lapangan menunjukkan distribusi MinyaKita di Jatim mulai bermasalah. Temuan itu sejalan dengan hasil pemantauan Ombudsman RI Pusat yang sebelumnya menyoroti mahalnya harga dan kelangkaan MinyaKita di sejumlah daerah.
“Kalau kami lihat di Jawa Timur, MinyaKita ini memang di toko-toko modern sudah jarang. Tidak semua toko modern tersedia. Kalau di pasar tradisional juga hanya satu dua pedagang saja yang menjual,” ujar Habibi, Kamis (14/5/2026).
Tak hanya langka, harga MinyaKita di pasaran juga disebut sudah melambung di atas HET pemerintah. Berdasarkan pantauan Ombudsman Jatim, harga minyak subsidi itu kini rata-rata dijual sekitar Rp18 ribu per liter.
“Kalau terkait harganya memang yang kami lihat masih di angka sekitar Rp18 ribu,” katanya.
Habibi menilai minimnya stok menjadi faktor utama melonjaknya harga MinyaKita di pasaran. Ketersediaan produk subsidi tersebut kini jauh lebih sedikit dibanding minyak goreng merek komersial lain.
“Secara jumlah dan ketersediaan memang sepertinya tidak terlalu banyak. Di toko modern tidak banyak, di pasar tradisional juga tidak banyak,” jelasnya.
Ironisnya, saat MinyaKita sulit dicari, minyak goreng merek lain justru membanjiri pasar. Salah satu produk yang disebut paling mudah ditemukan adalah minyak goreng merek Merah Putih.
“Kalau yang banyak kami lihat justru merek-merek lain. Minyak Merah Putih misalnya, itu cukup banyak tersedia di toko modern maupun pasar,” ungkapnya.
Ombudsman Jatim meminta pemerintah segera turun tangan memperbaiki sistem distribusi dan pengawasan stok minyak goreng subsidi agar kondisi tidak semakin membebani masyarakat.
Habibi juga mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait membangun sistem pemantauan stok pangan secara real time agar distribusi dan harga bisa terkontrol.
“Kalau sudah ada data ketersediaan stok, nanti akan berpengaruh juga terhadap harga. Jadi sistem pemantauan stok ini penting untuk dikembangkan,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan MinyaKita tak bisa dianggap sepele karena menyangkut kebutuhan pokok masyarakat kecil yang sangat bergantung pada minyak goreng subsidi.















