Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Sekolah Rakyat di Ponorogo Ini Ajarkan Matematika Lewat Jualan Telur

Sekolah Rakyat di Ponorogo Ini Ajarkan Matematika Lewat Jualan Telur
Kandang ayam milik Sekolah Rakyat Terpadu V Ponorogo. IDN Times/Riyanto.
Intinya Sih
  • Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo menerapkan konsep 'kelas tanpa dinding' agar siswa belajar lebih santai dan tidak tertekan oleh sistem formal di dalam kelas.
  • Melalui kegiatan beternak ayam petelur dan budidaya hidroponik, siswa belajar matematika, ekonomi, serta komunikasi lewat praktik langsung menghitung hasil produksi dan simulasi penjualan.
  • Metode ini lahir karena hanya sekitar 30 persen siswa siap belajar formal, sehingga sekolah menciptakan pendekatan fleksibel agar semua siswa tetap bisa memahami materi akademik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ponorogo, IDN Times – Cara belajar unik diterapkan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo. Di sekolah yang berada di kawasan eks Sentra Industri, Jalan Trunojoyo, Tambakbayan tersebut, siswa tidak hanya belajar teori di dalam kelas, tetapi juga diajak praktik langsung melalui peternakan ayam petelur hingga budidaya hidroponik.

1. Kelas tanpa dinding

Riyanto
Kandang ayam milik Sekolah Rakyat Terpadu V Ponorogo. IDN Times/Riyanto.

Metode pembelajaran itu diberi nama “kelas tanpa dinding” yang dicetuskan Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo, Devi Tri Candrawati. Konsep tersebut dibuat untuk menyesuaikan karakter siswa yang belum nyaman belajar secara formal di dalam kelas.

“Di sini memang kami memberikan formula untuk anak-anak itu kelas tanpa dinding. Ini sebuah terobosan bagi Sekolah Rakyat Terintegrasi V Kabupaten Ponorogo untuk mengatasi anak-anak yang kurang nyaman belajar di kelas,” ujar Devi, Kamis (14/5/2026).

Menurutnya, belajar dengan cara dipaksa justru membuat siswa sulit berkembang. Karena itu, sekolah mencoba menciptakan suasana belajar yang lebih santai dan menyenangkan.

“Belajar kalau dipaksakan itu akan menjadi sia-sia. Maka dari itu kami membuat formula tersebut agar anak-anak nyaman untuk belajarnya,” katanya.

2. Belajar matematika dari hasil telur

Riyanto
Kandang ayam milik Sekolah Rakyat Terpadu V Ponorogo. IDN Times/Riyanto.

Dalam praktiknya, konsep kelas tanpa dinding menggabungkan pelajaran akademik dengan life skill atau keterampilan hidup. Salah satunya melalui kegiatan beternak ayam petelur.

Di kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar cara merawat ayam, tetapi juga diajarkan menghitung hasil produksi hingga simulasi penjualan telur.

“Kalau telurnya itu sudah bertelur mau diapakan, sekilunya dapat berapa, nanti kalau dijual dengan biayanya berapa. Nah di situ matematikanya masuk, ekonominya juga masuk,” jelas Devi.

Tak hanya matematika dan ekonomi, siswa juga dilatih kemampuan komunikasi saat praktik penjualan hasil ternak maupun hidroponik.

“Penggunaan bahasa yang lugas, penggunaan bahasa resmi dalam negosiasi penjualan itu juga masuk,” imbuhnya.

Selain peternakan ayam, siswa juga diajak belajar melalui budidaya tanaman hidroponik. Menurut Devi, metode tersebut membuat pelajaran akademik terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.

3. Terobosan untuk siswa yang belum siap belajar formal

Riyanto
Susana belahar di Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 Ponorogo mendapat fasilitas modern. IDN Times/Riyanto.

Devi mengungkapkan, metode tersebut lahir setelah pihak sekolah melakukan analisis terhadap latar belakang siswa yang masuk ke SRT 5 Ponorogo. Dari hasil evaluasi, hanya sekitar 30 persen siswa yang siap mengikuti pembelajaran formal di kelas.

Sementara sisanya masih memiliki minat belajar rendah karena faktor lingkungan dan kebiasaan sebelumnya.

“Dari 100 persen itu 30 persen anak yang mau dan siap belajar di dalam kelas untuk akademisnya, dan 70 persen memang anak-anak belum siap untuk belajar,” ungkapnya.

Karena kondisi tersebut, pihak sekolah mencoba menghadirkan metode pembelajaran yang lebih fleksibel agar siswa tetap bisa menyerap materi dengan baik.

“Itu sebenarnya metode yang saya cetuskan sendiri karena melihat latar belakang mereka dan kebiasaan mereka sebelumnya,” katanya.

Saat ini SRT 5 Ponorogo memiliki 109 siswa mulai jenjang SD hingga SMA dengan dukungan 14 guru pengajar.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah
Follow Us

Latest News Jawa Timur

See More