Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Sunyi Notifikasi, Ramai Interaksi
Kondisi pembelajaran di SMAN 16 Surabaya. IDN Times/Ardiansyah Fajar.
  • SMAN 16 Surabaya mulai menerapkan pembatasan penggunaan gawai bagi murid dan guru sejak 13 April 2026 sesuai kebijakan Dinas Pendidikan Jawa Timur.
  • Kebijakan ini membuat suasana belajar lebih fokus dan interaksi antar siswa meningkat, meski sebagian merasa kesulitan tanpa akses internet instan.
  • Sekolah menetapkan aturan ketat dengan SOP, sanksi bagi pelanggar, serta izin terbatas untuk penggunaan gawai demi menjaga konsentrasi dan karakter belajar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Surabaya, IDN Times - Pagi itu, suasana kelas di SMAN 16 Surabaya terasa sedikit berbeda. Deretan meja kayu masih tertata rapi seperti biasa, namun ada satu hal yang hilang. Layar-layar ponsel yang biasanya menyala diam-diam di bawah meja. Sejak Senin (13/4/2026), sekolah ini mulai menerapkan pembatasan penggunaan gawai atau ponsel bagi murid dan guru. Kebijakan yang digulirkan oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur (Jatim) itu perlahan mengubah ritme keseharian di dalam kelas.

Di tengah pelajaran, seorang guru berdiri di depan kelas, menjelaskan materi sambil sesekali berinteraksi langsung dengan murid. Tak ada distraksi notifikasi, tak ada jemari yang sibuk menggulir layar. Sebagai gantinya, beberapa murid terlihat mencatat, sebagian lain berdiskusi pelan dengan teman sebangku. Salah seorang murid kelas X, Quinsha Audrey merasakan perubahan itu secara nyata. Ia mengakui, tanpa ponsel di tangan, interaksi antar teman menjadi lebih hidup. “Teman-teman jadi lebih banyak ngobrol dan diskusi. Biasanya kan sibuk sendiri sama HP,” ujarnya.

Bukan hanya soal interaksi, fokus belajar pun meningkat. Penjelasan guru kini lebih diperhatikan, tugas dikerjakan bersama, dan suasana kelas terasa lebih kondusif. Ketika menemui kesulitan, murid tak lagi langsung bergantung pada mesin pencari, melainkan mencoba berdiskusi dengan teman atau bertanya langsung kepada guru.

Namun, perubahan ini bukan tanpa tantangan. Bagi sebagian murid, keterbatasan akses instan ke internet menjadi kendala tersendiri. “Kalau ada yang nggak paham, nggak bisa langsung cari di Google. Jadi harus nunggu atau tanya,” tambah Quinsha.

Di balik perubahan itu, sekolah telah menyiapkan aturan yang cukup ketat. Kepala SMAN 16 Surabaya, Sunawan, menjelaskan bahwa pihaknya langsung menyusun standar operasional prosedur (SOP) setelah kebijakan diterbitkan.

Setiap murid masih diperbolehkan membawa gawai, namun penggunaannya dibatasi. Saat memasuki kelas, ponsel wajib dimatikan atau dalam mode senyap, lalu dikumpulkan di tempat khusus sebelum pembelajaran dimulai. Murid juga dilarang mengakses media sosial atau menggunakan gawai tanpa izin selama kegiatan belajar berlangsung.

“Kalau untuk kebutuhan pembelajaran, guru bisa memberi izin. Tapi di luar itu tidak diperkenankan,” tegas Sunawan.

Sanksi pun telah disiapkan, mulai dari teguran hingga pemanggilan orang tua bagi pelanggaran berat. Guru diberikan kewenangan penuh untuk mengawasi dan menegakkan aturan tersebut di kelas.

Kebijakan ini bukan muncul tanpa alasan. Kepala Dindik Jatim, Aries Agung Paewai, sebelumnya menegaskan bahwa penggunaan gawai yang tidak terkontrol berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif, mulai dari paparan konten tidak layak, perundungan daring, hingga ketergantungan digital yang berlebihan. Karena itu, pembatasan ini diharapkan mampu mengembalikan esensi pembelajaran di kelas. Yakni interaksi, konsentrasi, dan pembentukan karakter.

Editorial Team