Temuan Kasus Campak, Dinkes Tulungagung Lakukan ORI di Desa Ini

- Dinkes Tulungagung melakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di Desa Ringinpitu sebagai respon atas temuan kasus campak dengan sasaran 350 balita tanpa melihat status imunisasi sebelumnya.
- Desa Ringinpitu dipilih karena memiliki jumlah suspek campak tertinggi di Tulungagung, yaitu 44 kasus dengan satu pasien positif yang kini telah sembuh.
- Kasus suspek campak tahun ini meningkat dibanding tahun lalu, sehingga Dinkes menargetkan program imunisasi rampung akhir April 2026 untuk memperkuat kekebalan kelompok.
Tulungagung, IDN Times - Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung meakukan Outbreak Response Immunization (ORI) di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru. Kegiatan ini merupakan bentuk respon atas temuan kasus campak yang terjadi saat ini. Jumlah suspek kasus campak di desa tersebut merupakan tertinggi dibanding daerah lain. Hingga saat ini tercatat total 44 temuan suspek campak di Tulungagung. Dari jumlah tersebut salah satunya dinyatakan positif.
1. Seluruh balita di Desa Ringinpitu mendapak imunisasi campak

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Tulungagung, dr Aris Setiawan mengatakan ORI merupakan upaya pemberian imunisasi kepada seluruh balita tanpa memandang status imunisasi yang didapatkan sebelumnya. Sedangkan imunisasi kejar adalah pemberian imunisasi kepada balita yang belum mendapat imunisasi campak. “Kalau rekomendasi dari WHO sebenarnya untuk Tulungagung cukup kejar imunisasi campak saja, dengan melihat status imunisasi sebelumnya. Tapi khusus di Ringinpitu, kita lakukan ORI dengan sasaran 350 balita tanpa melihat status imunisasi,” ujarnya, Rabu (1/4/2026).
2. Temuan kasus suspek di desa tersebut tertinggi dibanding lainnya

Aris mengungkapkan, desa Ringinpitu dipilih karena jumlah temuan kasus suspek yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Hingga bulan maret ini total terdapat temuan 44 kasus suspek campak di Tulungagung. Satu diantaranya dinyatakan positif. Pasien positif campak ini kondisinya kini telah membaik dan sudah sembuh. “Update bulan Maret ada 44 suspek. Untuk yang positif hanya satu dan itu sudah sembuh. Kita temukan yang positif itu pada awal tahun. Saat ini semuanya masih dalam kategori suspek,” tuturnya.
3. Angka temuan kasus suspek campak meningkat dibanding tahun lalu

Jumlah temuan kasus suspek campak pada tahun ini meningkat dibanding sebelumnya. Pada tahun lalu dengan periode yang sama tercatat sekitar 20 kasus suspek dengan satu kasus positif campak. Penyakit ini disebabkan oleh virus, namun dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi. Program imunisasi ini ditargetkan rampung hingga akhir April 2026. Dinkes berharap langkah tersebut mampu menekan potensi penyebaran campak lebih luas. “Upaya yang kita lakukan adalah imunisasi kejar, agar bisa memproteksi balita dan memperkuat kekebalan kelompok di lingkungan mereka,” pungkasnya.



















