HJKS 733: Surabaya Tak Mau Cuma Keren, Tapi Juga Bikin Warga Nyaman

- Pemkot Surabaya menegaskan fokus pembangunan HJKS ke-733 adalah memastikan pertumbuhan ekonomi dan kemajuan kota berdampak langsung pada kesejahteraan warga tanpa ada yang tertinggal.
- Sepanjang 2025, Surabaya mencatat pertumbuhan ekonomi 5,87 persen, penurunan kemiskinan menjadi 3,56 persen, serta inflasi terkendali di 2,96 persen sebagai hasil capaian pembangunan kota.
- Pemkot memprioritaskan penguatan UMKM, pendidikan 13 tahun, layanan kesehatan berbasis wilayah, dan peningkatan kualitas hidup agar Surabaya menjadi kota maju, berkelanjutan, dan humanis.
Surabaya, IDN Times - Memasuki usia ke-733 tahun Kota Surabaya, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya tak hanya merayakan capaian pembangunan, tetapi juga memasang target besar agar pertumbuhan ekonomi dan pembangunan kota benar-benar berdampak langsung pada kesejahteraan warga.
Pesan itu mengemuka dalam peringatan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 yang digelar di Balai Kota Surabaya, Minggu (31/5/2026). Di tengah berbagai capaian ekonomi, kesehatan, pendidikan hingga lingkungan, Pemkot menegaskan fokus pembangunan ke depan adalah memastikan tidak ada warga yang tertinggal dari laju kemajuan kota.
Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Surabaya Armuji mengatakan, pertumbuhan ekonomi Surabaya harus diikuti peningkatan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, pembangunan tidak boleh hanya menghasilkan angka statistik, tetapi harus dirasakan manfaatnya secara nyata oleh warga.
"Pertumbuhan ekonomi Surabaya tidak hanya diarahkan untuk menciptakan angka di atas kertas, tetapi harus dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat," ujar Armuji dalam sambutannya.
Target tersebut berangkat dari sejumlah capaian yang berhasil dibukukan Surabaya sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi tercatat mencapai 5,87 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp830,54 triliun. Angka kemiskinan juga turun menjadi 3,56 persen dari sebelumnya 3,96 persen pada 2024, sementara inflasi tetap terkendali di level 2,96 persen.
Meski demikian, Pemkot menilai tantangan ke depan tidak ringan. Ketidakpastian ekonomi global, perang dagang, perubahan iklim hingga disrupsi teknologi menjadi faktor yang harus diantisipasi agar pertumbuhan kota tetap inklusif.
Pemkot Surabaya pun menargetkan penguatan ekonomi kerakyatan melalui pendampingan UMKM, penciptaan lapangan kerja baru, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok serta memperluas akses layanan publik.
Selain ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia juga menjadi prioritas. Pemkot berkomitmen menjaga akses pendidikan 13 tahun bagi seluruh anak Surabaya, termasuk melalui program Beasiswa Pemuda Tangguh yang saat ini telah menjangkau 16.800 pelajar SMA/SMK/MA dan 5.874 mahasiswa.
Di sektor kesehatan, Surabaya juga menargetkan peningkatan kualitas layanan berbasis kewilayahan melalui program satu RW satu tenaga kesehatan, satu ambulans dan satu puskesmas. Program tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Surabaya mencapai 85,60 atau tertinggi di Jawa Timur.
Sementara itu, Ketua DPRD Surabaya Syaifuddin Zuhri mengingatkan agar pembangunan kota tidak terjebak pada pembangunan fisik semata. Menurutnya, pendidikan, kesehatan dan hunian layak harus tetap menjadi prioritas utama.
"Selain infrastruktur, kebutuhan dasar masyarakat juga harus menjadi perhatian bersama. Pendidikan, kesehatan, dan fasilitas hunian yang layak harus terus diperkuat agar kesejahteraan warga semakin meningkat," katanya.
Politikus yang akrab disapa Ipuk itu menilai keberhasilan Surabaya harus diukur dari kualitas hidup masyarakatnya. Karena itu DPRD akan terus mengawal program-program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan warga.
Memasuki usia ke-733 tahun, Surabaya kini menatap target menjadi kota dunia yang maju, berkelanjutan dan humanis. Namun di atas semua itu, Pemkot menegaskan satu prinsip yang tetap menjadi arah pembangunan Kota Pahlawan.
"Ekonominya bergerak, tetapi warganya tidak tertinggal," pungkasnya.


















