Bercak Merah Pada Hari Jadi Kota Surabaya ke 733

- Surabaya memiliki sejarah panjang sejak era Majapahit, bermula dari wilayah Patjekan tempat Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol pada 31 Mei 1293.
- Sebagai Kadipaten, Surabaya berkembang pesat di bawah kepemimpinan Raden Panji Wirakrama dan Jayalengkara, menjadi pusat perdagangan serta penghasil komoditas penting seperti bahan bakar dari pohon Kremil.
- Surabaya mengalami berbagai konflik mulai dari masa Mataram Islam hingga kolonial Belanda, meninggalkan jejak perjuangan dan identitas kota yang kini perlahan tertutup modernisasi.
Surabaya, IDN Times - Surabaya adalah kota besar yang terus berbenah dan berkembang di berbagai lini. Julukan Kota Pahlawan melekat kuat pada setiap sudut dan langkahnya. Namun, menjelang usia ke-733 tahun, sematan itu perlahan terasa samar, seakan mulai tenggelam dalam buaian zaman.
Padahal, Surabaya bukan kota yang lahir secara instan. Kota ini dibentuk oleh rentang sejarah panjang dan menjadi saksi tumbuhnya sebuah peradaban besar di Nusantara. Surabaya turut mengambil bagian dalam berdirinya Kerajaan Majapahit pada abad ke-13. Di kawasan Patjekan—wilayah yang kini berada di sekitar Jagir Wonokromo—Raden Wijaya atau Sanggramawijaya berhasil memukul mundur pasukan Mongol pada 31 Mei 1293. Nama Patjekan sendiri masih dapat ditemukan dalam peta-peta kolonial abad ke-19.
Surabaya juga tercatat sebagai salah satu daerah sima pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Dalam Prasasti Canggu bertahun 1280 Saka atau 7 Juli 1358 Masehi, wilayah ini disebut sebagai Nanditira Pradeca dengan nama I Churabaya.
Pada masa itu, Surabaya masih berupa desa kecil yang dikelilingi banyak aliran sungai dan rawa. Wajah wilayah ini dibentuk oleh tanah basah dan jalur-jalur air. Di sekitar I Churabaya berdiri desa-desa seperti I Bkhul, I Gsang, Wnari, Kudadu, dan Warungkut.
Selepas era Majapahit, Surabaya memasuki babak baru sebagai sebuah Kadipaten. Wilayah-wilayah baru mulai bermunculan. Nama-nama daerah lahir dari kondisi alam serta vegetasi setempat: Wana Krama, Mligu, Ndhungup, Ndermo, Dong Sooko, Wilajung, Bandaran, Wana Redjo, hingga Wana Kremil.
Kadipaten Surabaya
Jejak Surabaya sebagai Kadipaten melekat pada sosok Raden Panji Wirakrama. Pemimpin yang diduga masih memiliki garis keturunan dengan Ratu Suhita dari Majapahit itu membawa Surabaya mencapai salah satu masa terbaiknya di era klasik. Pada masanya, wilayah-wilayah kecil melebur dan berkembang. Hasil bumi menjadi kekuatan utama Surabaya dan menopang kehidupan kota selama bertahun-tahun, hingga kepemimpinan berpindah kepada putranya, Jayalengkara.
Di tangan Jayalengkara, Surabaya tumbuh semakin pesat. Kota ini dikenal sebagai gerbang transportasi jalur sungai sekaligus penghasil komoditas penting. Salah satunya bahan bakar penerangan yang berasal dari pohon Kremil, tumbuhan yang banyak ditemukan di Wana Kremil. Hasil bumi itu membuat banyak Kadipaten lain tertarik pada Surabaya.
Ketika Mataram Islam expansion in Java mulai menancapkan pengaruhnya di tanah Jawa, Surabaya menjadi salah satu wilayah yang sulit ditaklukkan. Berbagai daerah telah tunduk, tetapi Surabaya bertahan. Pertempuran demi pertempuran berlangsung sepanjang abad ke-17 hingga ke-18.
Pada akhirnya, Surabaya memang berada di bawah kekuasaan Mataram Islam. Namun, bukan karena kalah perang. Sang adipati memilih menyerah setelah melihat rakyatnya menderita akibat wabah dan kelaparan. Sungai-sungai dibendung, bangkai-bangkai diceburkan ke aliran air, dan penderitaan menjalar ke seluruh kota.
Jayengrono
Setelah Surabaya takluk, pengangkatan adipati berada di tangan penguasa Mataram Islam. Onggowongso, putra Kyai Lanang Dangiran atau Sunan Boto Putih, ditunjuk menjadi pemimpin Surabaya dengan gelar Jayengrono.
Meski menjadi bagian dari kekuasaan Mataram, Jayengrono tidak sepenuhnya tunduk. Kepentingan rakyat Surabaya kerap berbenturan dengan kehendak penguasa. Situasi semakin rumit oleh hembusan isu dan siasat VOC yang memperkeruh hubungan kedua pihak.
Konflik kembali pecah. Jabatan adipati kemudian diwariskan kepada anak-anaknya. Salah satu pertempuran terbesar terjadi ketika Surabaya dipimpin Jayapuspita pada abad ke-18. Serangan datang dari berbagai arah. Korban berjatuhan di kedua pihak. Tanah Surabaya memerah oleh darah peperangan—menyisakan residu sejarah yang menjelma menjadi rasa cinta dan ikatan emosional terhadap kota ini.

Surabayaku Surabayamu
Barangkali karena itulah nama Surabaya selalu menghadirkan getaran emosional tersendiri.
Nuansa itu terasa pula dalam karya Pramoedya Ananta Toer melalui bukunya Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Dalam salah satu kutipannya, ia menulis: “Seorang raja pedalaman yang terbelakang, yang hanya tahu berkuasa, kelak terkenal dengan Sultan Agung, menyerang negara bandar Surabaya.”
Kalimat itu memperlihatkan penekanan emosional Pramoedya terhadap posisi Surabaya sebagai kota bandar yang terbuka dan mandiri.
Memasuki era kolonial Belanda, Surabaya kembali menjadi medan pertempuran. Cerita lama berulang. Perlawanan terhadap penjajah berlangsung di atas tanah yang sama. Pada abad ke-20, darah kembali menodai wajah kota ini.
“Apa kabar, Surabaya? Apakah peperangan masih berlangsung di atasmu?”
“Masih.”
Hanya saja, perang kini hadir dalam bentuk berbeda. Hegemoni kolonial terasa belum sepenuhnya pergi. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial tetap berdiri kokoh, seolah menari mengikuti irama penguasa kota hari ini. Sedikit demi sedikit, identitas Surabaya pada masa klasiknya kian terkubur.


















