Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Kali Surabaya Dikepung 247 Bangunan Liar, 215 Pohon Terlilit Plastik

Kali Surabaya Dikepung 247 Bangunan Liar, 215 Pohon Terlilit Plastik
Temuan sampah di Kali Surabaya. Dok. Ecoton.
Intinya Sih
  • Ecoton dan komunitas lingkungan menemukan 247 bangunan liar, 215 pohon terlilit plastik, serta 127 titik pembuangan sampah di sepanjang Kali Surabaya.
  • Tim mendeteksi indikasi pencemaran limbah cair di wilayah Driyorejo, Gresik, dengan air berbau amis, terasa licin, dan menimbulkan gatal saat disentuh.
  • Meski tercemar, masih ada 34 spesies ikan bertahan; Ecoton menekankan perlunya penegakan aturan dan pengawasan ketat agar pemulihan Kali Surabaya bisa berhasil.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Surabaya, IDN Times - Kondisi Kali Surabaya kembali menjadi sorotan. Hasil penyisiran sungai yang dilakukan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) bersama sejumlah komunitas lingkungan menemukan ratusan titik persoalan lingkungan mulai dari sampah plastik, bangunan liar hingga dugaan pencemaran limbah yang mengancam kualitas air sungai.

Dalam kegiatan "Ngintir Kali Surabaya 2026", tim menemukan sedikitnya 215 pohon terlilit sampah plastik, 127 timbulan sampah atau lokasi pembuangan liar, serta 247 bangunan liar yang berdiri di atas bantaran sungai. Bahkan, ditemukan pula aktivitas pengurukan baru di sejumlah titik sepanjang aliran sungai.

Founder Ecoton, Prigi Arisandi, mengatakan temuan tersebut menunjukkan tekanan terhadap ekosistem Kali Surabaya masih sangat tinggi meski sungai ini menjadi sumber air baku bagi jutaan warga Jawa Timur (Jatim).

"Kami menemukan ratusan bangunan liar di bantaran sungai, banyak di antaranya langsung membuang limbah domestik ke sungai. Ini harus segera diawasi dan ditertibkan karena menjadi salah satu sumber pencemaran yang terus berlangsung," ujarnya, Senin (1/6/2026).

Tak hanya persoalan sampah dan bangunan liar, tim juga menemukan indikasi pencemaran limbah cair yang memengaruhi kualitas air. Perubahan kondisi air mulai terasa saat tim memasuki wilayah Driyorejo, Kabupaten Gresik.

Menurut Prigi, air sungai di kawasan tersebut mulai mengeluarkan bau amis menyengat, terasa licin saat disentuh, dan menyebabkan rasa gatal pada kulit ketika bersentuhan langsung dengan air. "Begitu masuk wilayah Driyorejo, kualitas air berubah. Air berbau amis, terasa pliket atau licin, dan menimbulkan gatal saat terkena kulit. Ini indikasi yang harus ditindaklanjuti melalui pengujian lebih lanjut," katanya.

Temuan itu diperoleh selama kegiatan ronda sungai yang dilakukan untuk memantau kondisi ekosistem Kali Surabaya sekaligus mengidentifikasi sumber pencemaran. Penyisiran dilakukan sebagai bagian dari kampanye "Brantas Pulih, Rengkik Kembali" yang mendorong pemulihan kualitas Sungai Brantas dan Kali Surabaya.

Meski menghadapi berbagai ancaman pencemaran, Ecoton sebelumnya mencatat masih terdapat 34 spesies ikan yang bertahan hidup di Kali Surabaya. Temuan tersebut dinilai menjadi bukti bahwa sungai masih memiliki peluang untuk dipulihkan apabila sumber-sumber pencemaran dapat dikendalikan.

Namun, Prigi mengingatkan upaya pemulihan tidak akan berhasil tanpa penegakan aturan terhadap pelanggaran di bantaran sungai. Ia meminta pemerintah daerah dan instansi terkait memperketat pengawasan terhadap bangunan liar serta aktivitas pembuangan limbah ke badan sungai.

"Kalau bangunan liar terus bertambah dan limbah masih dibuang langsung ke sungai, upaya pemulihan akan semakin berat. Sungai ini menopang kebutuhan air jutaan warga, sehingga perlindungannya harus menjadi prioritas," tegasnya.

Ecoton berharap hasil penyisiran tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dan pelaku usaha untuk mempercepat langkah penanganan pencemaran, sekaligus mendorong penyelamatan Kali Surabaya yang selama ini menjadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat Jatim.

Share Article
Topics
Editorial Team
Faiz Nashrillah
EditorFaiz Nashrillah

Latest News Jawa Timur

See More