Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Pelabuhan Ketapang Langganan Macet, Kapal 2000 GT Disiapkan

Pelabuhan Ketapang Langganan Macet, Kapal 2000 GT Disiapkan
Aktivitas di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, saat hari normal.(Dok.Istimewa)
Intinya Sih
  • Dishub Jatim mengusulkan penggantian kapal kecil di lintasan Ketapang-Gilimanuk dengan kapal berkapasitas 1.000–2.000 GT untuk mengurangi antrean dan meningkatkan efisiensi penyeberangan.
  • Penggunaan kapal besar dinilai lebih tahan terhadap arus kuat Selat Bali serta mampu mengangkut lebih banyak kendaraan, termasuk truk besar, dalam satu perjalanan.
  • Pemerintah juga menyiapkan peningkatan kapasitas dermaga moveable bridge agar mampu menampung beban hingga 50 ton sehingga kapal Ro-Ro besar bisa bersandar tanpa antre.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Surabaya, IDN Times - Antrean panjang kendaraan di lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang kerap terjadi saat musim liburan dan cuaca ekstrem berpotensi ditekan dengan skema baru. Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur (Jatim) mengusulkan penggantian armada kapal berukuran kecil dengan kapal berkapasitas lebih besar untuk meningkatkan daya angkut sekaligus memperlancar arus penyeberangan.

Usulan tersebut muncul menyusul meningkatnya volume kendaraan dan tantangan cuaca di Selat Bali yang kerap memengaruhi operasional kapal. Saat ini, sebagian besar armada yang melayani lintasan Ketapang-Gilimanuk masih didominasi kapal berukuran di bawah 1.000 Gross Tonnage (GT).

"Kami sudah mengusulkan ke Kementerian Perhubungan untuk mengganti kapal-kapal kecil dengan armada yang lebih besar, minimal 1.000 GT atau syukur-syukur bisa 2.000 GT," ujar Kepala Bidang Pelayaran Dishub Jatim, Luhur Prihadi, Minggu (31/5/2026).

Menurut Luhur, penggunaan kapal berkapasitas besar menjadi kebutuhan mendesak karena dinilai lebih mampu menghadapi kondisi arus laut yang kuat di Selat Bali. Selain itu, kapal berukuran besar juga dapat mengangkut lebih banyak kendaraan dalam satu perjalanan sehingga mengurangi potensi antrean di pelabuhan.

"Dengan kapasitas lebih besar, sekali berangkat bisa mengangkut lebih banyak kendaraan, termasuk truk-truk besar. Waktu bongkar muat juga lebih efektif dibandingkan harus mengoperasikan banyak kapal kecil yang justru menimbulkan antrean," katanya.

Data Dishub Jatim mencatat terdapat 54 kapal yang memiliki izin operasi di lintasan Ketapang-Gilimanuk. Namun dalam operasional harian, hanya sekitar 28 hingga 30 kapal yang aktif melayani penyeberangan secara bergantian, sementara sisanya berstatus siaga.

Meski demikian, rencana pengoperasian kapal berkapasitas besar tidak bisa dilakukan secara instan. Salah satu syarat utama yang harus dipenuhi adalah peningkatan kapasitas dermaga, khususnya dermaga moveable bridge yang saat ini hanya mampu menahan beban kendaraan hingga sekitar 35 ton.

Pemerintah berencana meningkatkan kemampuan dermaga tersebut hingga mampu menampung kendaraan berbobot 50 ton. Dengan peningkatan itu, seluruh kapal jenis Roll-on/Roll-off (Ro-Ro) berkapasitas besar dapat bersandar langsung tanpa harus menunggu giliran di dermaga beaching.

"Kalau kapasitas dermaga sudah ditingkatkan, semua kapal Ro-Ro bisa sandar di sana. Tidak perlu lagi mengantre di dermaga beaching, sehingga arus kendaraan akan jauh lebih lancar," jelas Luhur.

Dishub Jatim berharap usulan tersebut dapat segera mendapat persetujuan Kementerian Perhubungan mengingat lintasan Ketapang-Gilimanuk merupakan salah satu jalur logistik dan mobilitas penumpang terpadat di Indonesia.

Share Article
Topics
Editorial Team
Zumrotul Abidin
EditorZumrotul Abidin

Latest News Jawa Timur

See More